Universitas Airlangga Official Website

Masalah Terapi Obat dan Outcome Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi

IL by Halodoc

Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan bahwa sekitar 1,13 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia menderita hipertensi. Jumlah penderita hipertensi di dunia terus meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 miliar orang akan menderita hipertensi, dan diperkirakan 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya setiap tahun. Di Indonesia berdasarkan data riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun terjadi peningkatan dari 25,8% di tahun 2013 menjadi 34,1%, di tahun 2018 dengan perkiraan jumlah penderita hipertensi mencapai 63,3 juta orang. Jumlah penderita hipertensi di Jawa Timur sekitar 2.360.592 penduduk, dengan penderita laki-laki sebesar 18,99% atau 808.009 orang dan penderita perempuan sebesar 18,76% atau 1.146.412 orang.

Penyakit hipertensi merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung dan pembuluh darah. Risiko penyakit ini berlipat ganda untuk setiap peningkatan tekanan darah 20 mmHg sistole dan 10 mmHg diastole.

Komplikasi kardiovaskular terkait hipertensi diantaranya penyakit stroke, penyakit jantung, gagal ginjal dan lain-lain. Peningkatan tekanan darah diastole sebesar 5 mmHg dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke sebesar 35-40%. Risiko gagal jantung meningkat enam kali lipat pada pasien hipertensi. Risiko terjadinya komplikasi juga meningkat pada orang lanjut usia, penderita diabetes melitus, gagal ginjal dan sangat meningkat risikonya bila ditambah faktor risiko lain seperti pasien merokok, pasien menderita dislipidemia, pasien obesitas atau kegemukan, dan pasien dengan  gaya hidup yang tidak sehat.

Salah satu faktor tingginya jumlah penderita hipertensi tidak terkontrol atau yang belum mencapai target terapi yang diinginkan oleh dokter adalah banyaknya masalah terapi obat atau yang ditemukan pada penderita hipertensi. Masalah terapi obat pada penderita hipertensi di puskesmas di Surabaya menunjukkan bahwa penderita beresiko mengalami efek samping obat sebesar 26,6%. Efek samping obat pada penggunaan obat antihipertensi seperti terjadinya batuk, rasa kecap berkurang, peningkatan kadar kalium darah akibat penggunaan obat kaptopril, Penggunaan amlodipin oleh penderita dapat menimbulkan efek samping bengkak pada tungkai, dan lain sebagainya. Masalah terapi obat dimana penderita tidak memerlukan terapi obat sebesar 15,6%, yaitu obat yang digunakan penderita tidak ada indikasi sesuai keluhan yang dialami penderita.

Pengobatan pasien tidak efektif sebesar 1,1%, terjadi karena pasien sudah mengalami toleransi obat sehingga obat perlu diganti dengan golongan lain sehingga bisa efektif lagi. Pasien menggunakan obat dengan dosis terlalu rendah 21,5%, hal ini terjadi karena beberapa penderita diresepkan obat antihipertensi dengan dosis obat rendah dari lazimnya sehingga perlu peningkatan dosis untuk mencapai target terapi. Disamping itu, terjadinya dosis obat rendah akibat dari adanya interaksi obat-obat yang mengakibatkan kadar obat dalam darah menurun.

Sebanyak 4,6% ditemukan pasien berisiko menggunakan obat dengan dosis terlalu tinggi, hal ini terjadi karena penggunaan obat melebihi ketentuan yang diberikan oleh dokter seperti penggunaan amlodipin yang seharusnya digunakan sekali dalam sehari akan tetapi penderita menggunakannya dua-tiga kali dalam sehari dan sebesar 19,2% pasien tidak patuh menggunakan obatnya. Semakin banyak item obat yang digunakan penderita akan berdampak pada ketidakpatuhan pasien. Ketidakpatuhan dapat terjadi pada pasien yang tidak memahami instruksi yang diberikan oleh petugas kesehatan, pasien yang tidak dapat atau dapat menebus obat resep, pasien yang memilih untuk tidak menggunakan obat, pasien yang sering lupa menggunakan obatnya, produk obat tidak tersedia di fasilitas kesehatan, dan pasien tidak dapat menelan obat atau menggunakan obat dengan baik.

Jumlah masalah terapi obat yang ditemukan pada setiap penderita hipertensi antara 3-4 masalah terapi obat, hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh penderita memiliki 3-4 masalah terapi obat. Analisis statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara jumlah masalah terapi obat yang terjadi pada penderita dengan outcome terapi pada penderita hipertensi. Hal ini sesuai dengan definisi masalah terapi obat, yaitu setiap kejadian yang tidak diinginkan yang dialami oleh seorang masalah terapi obat yang melibatkan atau diduga melibatkan terapi obat, mengganggu pencapaian tujuan pengobatan yang diinginkan dan memerlukan penilaian profesional yang dalam hal ini apoteker untuk menyelesaikannya. Dari pernyataan tersebut tersirat bahwa masalah terapi obat dapat mempengaruhi tujuan terapi yang ingin dicapai.

Penulis: I Nyoman Wijaya, Umi Athiyah, Fasich, Abdul Rahem, Andi Hermansyah

Jurnal: https://www.publichealthinafrica.org/jphia/article/view/2531