Universitas Airlangga Official Website

Disfagia Psikogenik pada Anak-Anak dan Keberhasilan Pengobatan Berbasis Keluarga

Foto by Orami

Gangguan saluran cerna merupakan salah satu masalah yang paling sering dialami pasien untuk datang ke klinik atau rumah sakit. Hampir semua orang dari berbagai usia pernah mengalami gangguan pencernaan dalam hidupnya (Sperber et al., 202; Avramidou et al., 2018). Seiring dengan perkembangan pengetahuan, ditemukan adanya hubungan yang erat antara kesehatan mental seseorang dengan gangguan saluran cerna (Cantarero-Prieto & Moreno-Mencia, 2022; Lee et al., 2020). Disfagia psikogenik adalah gangguan menelan tanpa penyebab struktural atau penyakit organik, seperti defisit neurologis atau kelainan fisik (Massa et al., 2021). Ini dapat terjadi secara akut atau kronis disertai dengan perasaan tidak nyaman atau takut menelan makanan atau minuman. Disfagia psikogenik dapat menjadi hal yang traumatis bagi pasien yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup pasien (Person & Keefer, 2021; Baijens et al., 2013). Gejala umum yang muncul pada penderita disfagia psikogenik adalah kesulitan menelan atau menghindari menelan disertai rasa takut tersedak, kesulitan bernapas, atau mual muntah (Suntrup et al., 2014). Pasien dengan disfagia psikogenik diduga memiliki konflik intrapsikis yang bermanifestasi dalam gejala somatik, dan juga memiliki gejala kejiwaan seperti kecemasan atau depresi. Ada juga pendapat bahwa kesulitan menelan merupakan manifestasi dari gangguan konversi (Shaker et al., 2013; Verdonschot et al., 2019). Dalam beberapa penelitian yang membahas masalah disfagia, sekitar 45-70% penderita sindrom disfagia memiliki komorbiditas gangguan kecemasan, yang disertai dengan kondisi psikososial seperti perceraian, pengangguran, stres pascatrauma, dan lain-lain (Shaker et al. , 2013). Disfagia psikogenik adalah kondisi langka dan mekanisme kondisi ini masih belum dipahami dengan jelas. Literatur yang berhubungan dengan disfagia psikogenik masih sedikit, sehingga pembahasan lebih lanjut tentang disfagia psikogenik sangat menarik untuk ditelusuri (Vanderhoof & Langnas, 1997; Mishna et al., 2009).

Seorang pasien laki-laki berusia 7 tahun, beragama Hindu, Bali, saat ini duduk di bangku kelas 1 SD. Pasien dirujuk oleh Bagian Pediatri dan diantar oleh orang tua pasien pada tanggal 13 Oktober 2021 dengan keluhan sulit menelan makanan dan minuman karena takut muntah. Kondisi ini sudah dirasakan sejak 5 hari terakhir dan memburuk selama 1 hari sebelum dibawa ke rumah sakit. Selama wawancara, ia kooperatif, tampak tenang, dan mampu menyebutkan nama, umur, tingkat sekolah saat ini, dan dengan siapa ia pergi ke rumah sakit. Pasien mengatakan tidak mau menelan makanan dan minuman karena takut dimuntahkan. Saat induk akan diberikan makanan, ia hanya mengunyahnya saja tetapi tidak menelannya. Kemudian, kami memintanya untuk menelannya sambil minum air, tetapi dia tetap tidak mau menelannya. Pasien mengatakan bahwa dia mengeluh mual saat diminta makan dan minum. Dia juga mengatakan bahwa mulutnya terasa kering yang membuat mulutnya terus mengeluarkan air liur. Sebelumnya pasien mengalami keluhan mual, muntah, perut kembung, diare, dan demam pada Juli 2021. Setelah itu dibawa ke dokter spesialis anak, keluhan sudah membaik namun masih sering merasa mual. Sejak sekolah dilakukan secara daring, pasien diikutsertakan dalam les tambahan di rumah, dan sejak saat itu pasien sering meludah dan lebih sering merasa mual. Sejak mengeluh mual, kesehatan dan nafsu makannya terus menurun hingga terjadi penurunan berat badan drastis hingga 6 kg dalam waktu 2 bulan (berat badan awal pasien 31 kg, saat pemeriksaan berat badan pasien 25 kg, dan tingginya 140 cm) (Thottam et al., 2015; Benbadis, 2005).

Disfagia psikogenik merupakan kondisi langka yang berhubungan dengan gangguan menelan tanpa gangguan organik, mekanisme dari kondisi ini masih belum dipahami dengan baik. Menurut DSM 5, kriteria diagnostik dan pedoman diagnostik untuk Dysphagia Psikogenik yang termasuk dalam kategori Gangguan Asupan Makanan Penghindaran/Pembatasan (Sivri et al., 2018; American Psychiatric Association, 1994). Pasien ini menunjukkan gejala gangguan disfagia psikogenik berupa gejala sulit menelan, disertai tidak mau menelan disertai rasa takut mual dan muntah. Rasa mual ini mulai dirasakan sejak pasien merasa diabaikan oleh ayahnya, ditambah dengan sekolah online dan pasien diikutsertakan dalam les tambahan. Sejak kejadian tersebut keluhan mual pasien semakin parah, dan mengalami keluhan tidak mau menelan sama sekali makanan dan minuman yang semakin memberat sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Investigasi dengan skor BDI 18 (depresi batas klinis) dan skor CDI 28 (diduga depresi) menunjukkan bahwa kondisi psikososial pasien saat ini menghasilkan kecenderungan depresi. Diduga kondisi pasien saat ini disebabkan oleh faktor psikologis (Toledano-Toledano & Contreras-Valdez, 2018; Vandhana, 2022).

kondisi dan gangguan jiwa. Kemudian, teori ini dikembangkan oleh Salvador Minuchin dengan menguraikan pola interaksi dan struktur keluarga yang tidak tepat yang dapat menimbulkan kondisi psikologis tertentu [18]. Dalam penanganan gangguan jiwa agar pemulihan pasien optimal maka keluarga pasien harus dilibatkan. Berdasarkan studi uji klinis acak pada anak dengan gangguan menelan yang dilakukan oleh Lock et al. Pada tahun 2019 ditemukan bahwa pasien anak yang diberikan pengobatan berbasis keluarga menunjukkan tingkat kesembuhan yang lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan pasien tanpa pengobatan berbasis keluarga. Dalam hal ini ditemukan adanya masalah dalam keluarga yang dikeluhkan pasien, seperti pasien yang merasa kurang diperhatikan oleh ayah pasien. Sehingga diperlukan pendekatan terapi berbasis keluarga dalam penatalaksanaan pasien (Lock et al., 2019).

Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah terapi non medis dan terapi medis baik dari bagian psikiatri maupun pediatri. Terapi non medis adalah psikoterapi suportif kepada pasien berupa ventilasi dan penenangan serta mengajarkan mekanisme koping yang tepat. Kemudian juga diberikan pengobatan berbasis keluarga dan psikoedukasi kepada orang tua tentang gangguan yang dialami, penyebab gangguan, terapi yang diberikan, dan prognosis sehingga keluarga dapat membantu dalam menunjang peningkatan kesehatan pasien (Benfield et al., 2019; Kim et al., 2022). Terapi medis dari bagian psikiatri adalah tablet Aripiprazole 1,5 miligram setiap 24 jam secara intraoral (malam hari). Terapi yang diberikan oleh bagian pediatri meliputi ondansetron 4 miligram intravena setiap 24 jam, omeprazole 20 miligram intravena setiap 24 jam, dan eritromisin 52 miligram setiap 8 jam secara oral. Pasien juga diberikan terapi cairan dan nutrisi seperti D5 NS 5 ml per jam, serta snack seperti pisang dan puding coklat untuk kebutuhan nutrisi pasien selama dirawat inap di RSUP Sanglah. Setelah menjalani pengobatan selama kurang lebih 2 minggu, pasien kembali ke poliklinik psikiatri pada 1 November 2021 untuk melihat perkembangan terapi. Keadaan umum pasien sudah membaik, dan pasien mau makan dan minum dengan baik. Berat badan pasien bertambah 3 kilogram. Perasaan cemas dan takut muntah yang dialami pasien sebelumnya sudah hilang. Pasien juga bersekolah sambil bertatap muka dan bertemu dengan teman-teman pasien. Dikatakan bahwa pasien tidak mengalami kendala selama bersekolah dan menikmati kondisi sekolah tatap muka. Keluarga pasien juga telah meluangkan waktu untuk menangani masalah kesehatan pasien dan mendukung proses terapi sehingga proses penyembuhan kondisi pasien lebih cepat dan tercapai secara optimal (Rivas et al., 2021; Dzaky et al., 2021 ).

Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)

Untuk lebih detail Psychogenic dysphagia in children, and the success of family-based treatment, dapat mengunjungi https://sloap.org/journal/index.php/ijhms/article/view/1894