Universitas Airlangga Official Website

Pergeseran Norma Maskulinitas di Kalangan para Suami Perempuan Pelaku UMKM di Kampung Surabaya

Foto by JPNN

Maskulinitas atau cara menjadi laki-laki telah lama dianggap sebagai norma yang statis, tidak bermasalah, dan diterima begitu saja. Ini berarti bahwa maskulinitas cenderung diterima begitu saja oleh masyarakat dan dipandang tidak sekompleks norma keperempuanan. Hal ini menyebabkan kurangnya studi tentang kompleksitas, permasalahan, dan tantangan yang dihadapi para laki-laki dalam usaha mereka untuk bisa dianggap sebagai laki-laki ideal dalam masyarakat. Sementara itu, banyak penelitian tentang perempuan dan feminitas telah dilakukan sejak munculnya kesadaran akan marjinalisasi perempuan dalam sebagian besar kehidupan manusia. Tahap awal gerakan feminis di dunia barat pada abad ke-19 dapat dikatakan sebagai pendorong penting kesadaran tersebut. Konsep tentang supremasi laki-laki dalam masyarakat patriarkal telah mendorong para feminis untuk menuntut persamaan hak bagi perempuan. Namun, peran penting laki-laki dalam menciptakan kesetaraan gender bagi perempuan dan laki-laki cenderung dikesampingkan. Penekanan yang berat pada kepedulian terhadap perempuan untuk mengangkat status sosial-budaya, politik, dan ekonomi mereka telah mengesampingkan pentingnya peran laki-laki dalam menciptakan tatanan jender yang lebih setara. Ini disebabkan karena sebagian besar aktor pembuat kebijakan serta penentu sumber daya keuangan untuk mendukung proses pengambilan keputusan adalah laki-laki. Oleh karena itu, peran laki-laki menjadi sangat penting dalam mewujudkan kesetaraan gender.

Namun, norma ideal kelelakian dan konsep supremasi laki-laki ternyata tidak statis. Seperti halnya norma keperempuanan, norma kelelakian sangat bergantung pada dinamika sosial, budaya dan ekonomi. Dalam situasi perekonomian dunia yang tidak menentu seperti sekarang ini, banyak laki-laki yang terpaksa kehilangan pekerjaan dan kemampuannya sebagai pencari nafkah.  Dalam masyarakat di mana norma gender yang berlaku menetapkan laki-laki sebagai pencari nafkah keluarga, kehilangan pekerjaan yang menopang keluarga secara finansial akan menjadi tragedi bagi harga diri dan martabat mereka. Ini adalah situasi di mana laki-laki menghadapi krisis maskulinitas. Seperti yang dipertahankan Horrocks (1994), ini adalah konsekuensi serius dari ide yang menganggap laki-laki sebagai aktor dominan dalam sektor keuangan.

Dalam konteks Indonesia, adalah hal yang menarik untuk melihat bagaimana laki-laki merespon situasi yang menyebabkan mereka tidak mampu menunjukkan kelelakiannya secara optimal. Dalam bidang ekonomi, misalnya, krisis ekonomi yang melanda dunia bisa menjadi salah satu penyebab berkurangnya kesempatan untuk menjadi laki-laki sejati. Krisis ekonomi menyebabkan banyak perusahaan melakukan efisiensi dengan cara mengurangi jumlah pekerjanya. Dalam beberapa bidang tertentu yang menyerap banyak tenaga kerja laki-laki, hal ini berdampak pada semakin besarnya jumlah laki-laki yang menjadi pengangguran. Respon laki-laki terhadap situasi ini tentunya juga banyak dipengaruhi oleh faktor sosial budaya dimana mereka tinggal. Nilai-nilai budaya Indonesia diprediksi berperan penting dalam membentuk respon laki-laki terhadap hilangnya salah satu alat utama mereka untuk mengekspresikan kelelakian mereka, yaitu peran mereka sebagai pemberi nafkah keluarga.

Penelitian yang saya lakukan di sebuah kampung di Surabaya membuktikan bahwa terdapat hubungan antara budaya lokal Indonesia dengan cara laki-laki merespon perubahan situasi yang berpengaruh terhadap ekspresi kelelakian mereka. Kampung ini merupakan salah satu sentra penjualan kue tradisional di Surabaya. Di lingkungan ini sebagian besar laki-laki dulunya bekerja di pabrik-pabrik di dekat pemukiman penduduk. Krisis ekonomi global telah memaksa perusahaan  untuk melakukan PHK massal  pekerjanya, termasuk mereka yang tinggal di daerah yang diteliti. Di bawah kepemimpinan sosok perempuan yang kuat, Bu Choirul Mahpuduah, kampung tersebut berhasil menjelma menjadi masyarakat yang sejahtera secara ekonomi. Kelangsungan ekonominya berkisar pada produksi dan penjualan makanan lokal (kue basah) yang sebagian besar dihasilkan oleh perempuan di daerah setempat. Berkembangnya aktivitas kewirausahaan penjualan kue ini dipicu utamanya oleh inisiatif Bu Irul untuk memberdayakan para perempuan yang suaminya tidak berpenghasilan lagi.

Penelitian yang dilakukan ini menunjukkan bahwa sabar dan ikhlas adalah dua strategi utama yang dilakukan para suami dalam menyikapi perubahan situasi yang mempengaruhi kelelakian mereka. Ini sebagian besar ditemukan di antara suami yang tidak dapat memperoleh penghasilan tambahan atau pekerjaan tidak tetap setelah dipecat oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Pak Agus (bukan nama sebenarnya), misalnya, menjelaskan dengan tenang dan terkendali bahwa tinggal di rumah dan membantu istri menjalankan usaha kecil-kecilan adalah pilihan yang harus dia lakukan.. Peran pelengkap ini sangat berbeda dari perannya sebelumnya sebagai pemilik dan pemimpin bisnis konstruksi sipil. Alih-alih mengarahkan dan mengendalikan stafnya, dalam peran barunya ia harus mengikuti instruksi dari istrinya. Ini adalah perubahan radikal yang harus dia alami. Namun, pria tersebut tidak menunjukkan kekecewaan dan penyesalan atas peran barunya. Tanggapan yang menunjukkan penerimaan dan kesabaran dalam memainkan peran baru sebagai pembantu bisnis juga dimiliki oleh sejumlah responden laki-laki. Pak Dwi, misalnya, percaya bahwa menerima nasib tanpa syarat adalah cara untuk mendapatkan berkah Tuhan. Dia yakin rezeki Tuhan untuk keluarganya disalurkan melalui bisnis yang dirintis istrinya.

Sabar dan ikhlas adalah konsep penting dalam ajaran Islam. Ini juga merupakan strategi religius untuk mengatasi cobaan dan kesulitan dalam hidup. Meski para suami awalnya mengingkari status penganggurannya, namun seiring berjalannya waktu mereka menyadari bahwa usaha yang dijalankan para istri harus didukung. Hal itu sangat penting bagi kelangsungan hidup keluarga, agar anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan dan  kehidupan yang lebih baik dari orang tua mereka.

Sebagai negara muslim terbesar di dunia, norma-norma maskulinitas yang dikonstruksi, diidealkan, dan disebarluaskan di kalangan laki-laki Indonesia tidak bisa dilepaskan dari ajaran Islam. Ini telah membentuk  maskulinitas di Indonesia, termasuk laki-laki warga Kampung Kue. Penerimaan mereka dalam memainkan peran baru mereka menunjukkan dimensi maskulinitas Islami. Hal ini berbeda dengan bentuk maskulinitas di dunia Barat yang cenderung diasosiasikan dengan dominasi, kekuasaan, dan kekuatan fisik atau otot. Pengertian sabar dan ikhlas dapat dihayati secara halus oleh masyarakat Jawa karena sangat selaras dengan norma-norma filosofis Jawa yang sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke Jawa.

Ditulis oleh: Dra. Nur Wulan, M.A., PhD

Judul artikel jurnal yang terindeks Scopus: “Accepting fate and retaining status quo: shifting masculinities among husbands of small-scale entrepreneur women in Surabaya Kampung

Link artikel: https://so04.tci-thaijo.org/index.php/kjss/article/view/266296/179722