Universitas Airlangga Official Website

Apakah Waktu ke Pembedahan untuk Pasien Brachial Plexus Injury Benar-Benar Mempengaruhi Pemulihan?

Brachial Plexus Injury (BPI) adalah salah satu bentuk cedera saraf tepi yang berbahaya dikarenakan menyebabkan gangguan fungsional berat serta kualitas hidup yang buruk. BPI diperkirakan terjadi pada 1,2% pasien (1,64 kasus dari 100.000 orang) dengan trauma multipel.

Dampak adanya BPI tidak hanya menyerang pada saraf namun juga pada otot yang mengalami denervasi. Otot yang mengalami denervasi akan mengalami perubahan atrofi secara bifasik: kehilangan massa otot secara cepat dalam 2 minggu pertama dan lebih bertahap setelahnya. Oleh karena itu, secara teori, penanganan BPI perlu dilakukan dengan segera untuk menghindari proses degenerasi tersebut. Meski demikian, pada prakteknya, waktu operasi untuk BPI akibat trauma masih kontroversial. Hal ini dikarenakan beberapa penelitian tidak menemukan perbedaan pada hasil fungsional akhir pasien BPI yang ditangani segera dibanding terlambat (>6 bulan paska kecelakaan).

MyoD merupakan salah satu faktor transkripsi yang termasuk dalam keluarga faktor regulasi miogenik (MRF) yang berperan penting dalam diferensiasi miogenik. Ekspresi MyoD yang tidak terkontrol menyebabkan penipisan sel induk otot dan diferensiasi miogenik prematur. Karena pentingnya diferensiasi miogenik, MyoD dapat digunakan sebagai indikator regenerasi otot pada tingkat sel.

Pada peneliitan ini, peneliti tertarik untuk menjelaskan waktu terbaik untuk memperbaiki BPI traumatis berdasar indikator selular: menganalisa korelasi antara waktu operasi dan ekspresi MyoD. Sepengetahuan penulis, penelitian serupa yang menilai ekspresi MyoD pada manusia setelah cedera denervasi, terutama BPI, belum dilakukan sebelumnya. Kebanyakan penelitian yang telah ada dan dilakukan pada manusia lebih mengulas tentang efeknya setelah berolahraga atau kaitannya dengan sarkopenia.

Jaringan otot dari pasien dengan BPI yang dilakukan tindakan operatif di RSUD Dr Soetomo dianalisa. Jaringan tersebut kemudian dilakukan pewarnaan imunohistokimia untuk mengetahui tingkat ekspresi MyoDnya.  Data lain seperti umur, jenis kelamin, dan waktu dari trauma hingga ke pembedahan dicatat untuk dianalisa.

Sebanyak 22 sampel jaringan otot pasien BPI yang dibedah di RSUD Dr Soetomo dianalisa. Kebanyakan sampel adalah pria (81,8%) dengan umur 25.5 ± 6.54 tahun. Waktu operasi memiliki rentang antara 4-60 bulan dengan rata-rata 21 bulan. Apabila dibentuk dalam grafik, didapati tren yang jelas dimana ekspresi MyoD sangat tinggi pada waktu pembedahan kurang dari 6 bulan. Setelah 6 bulan, ekspresi MyoD cenderung serupa dengan waktu pembedahan selanjutnya bahkan pada waktu pembedahan 60 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa, dari sudut pandang seluler, perbaikan BPI akan memberikan hasil yang lebih baik jika dilakukan perbaikan lebih awal. Tingkat awal MyoD sebelum perbaikan penting karena berkaitan dengan pemulihan otot setelah latihan rehabilitasi. Studi oleh Kosek DJ dkk. menunjukkan bahwa MyoD awal yang lebih rendah terkait dengan hasil pasca rehabilitasi yang lebih rendah seperti yang diungkapkan oleh luas penampang Myofiber, distribusi tipe, dan distribusi tipe area.

Hasil ini merupakan salah satu bukti dari level seluler akan dampak dari waktu pembedahan yang terlambat dengan regenerasi sel otot pasien. Apabila menilik dari penelitian lain yang sudah dilakukan, bukan hanya regenerasi otot yang bermasalah dan mempersulit regenerasi paska pembedahan BPI, namun juga dari aspek saraf dan lingkungan sekitar otot: regenerasi aksonal yang lambat, perubahan struktur pada otot target dan lingkungan stromal yang tidak kondusif.

Penelitian lain yang berdasarkan fungsionalitas ekstremitas paska operasi BPI juga menunjukkan hasil yang serupa. Waktu pembedahan BPI biasanya perlu menyeimbangkan antara membiarkan regenerasi saraf terjadi secara spontan dan mencegah atrofi mengalami denervasi yang terlalu berat hingga regenerasi tidak memungkinkan lagi. Meskipun demikian, tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Martine E et al. hasil yang dirangkum dari 43 penelitian yang terdiri dari 569 pasien menemukan bahwa, terlepas dari lokasi lesi cedera BPI, TTS yang lebih lama dan usia yang lebih tua menghasilkan hasil motorik pasca operasi yang lebih buruk yang diukur dengan skoring kekuatan otot oleh Medical Research Council. Studi tersebut menyimpulkan bahwa secara umum, penundaan selama 3 bulan adalah waktu yang tepat untuk memungkinkan regenerasi saraf secara spontan dan pembedahan paling baik dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan.

Penelitian ini menemukan bukti baru yang berasal dari level seluler yang mendukung pembedahan yang lebih cepat untuk pasien BPI. Peneliti berharap hasil dari penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang BPI dan dasar dari standard penanganan BPI.

Oleh: Dr. dr. Heri Suroto, M.A.R.S. Sp.OT(K)

Judul Jurnal: Time to surgery and myo-d expression in biceps muscle of adult brachial plexus injury: a preliminary study

Authors: Heri Suroto, Gestana Retaha Wardana, Julius Albert Sugianto, Dina Aprilya dan Steven Samijo

Dipublikasikan di: BMC Research Notes

Link:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2049080120302351?via%3Dihub