Kondisi pekerjaan yang dinamis dan transformasi proses bisnis yang dibawa oleh teknologi modern membuat perusahaan perlu memikirkan strategi untuk mempertahankan perencanaan bisnis yang mereka miliki. Perusahaan harus memiliki kemampuan manajerial yang kuat untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan dan pasar. Mereka juga harus mampu memperoleh sumber daya manusia terbaik dan menggunakan pengaruh mereka untuk memberdayakan dan mengaktifkan karyawan mereka. Agar perusahaan dapat mengatasi itu semua, mengembangkan karyawan yang inovatif menjadi kunci. Untuk mengembangkan karyawan yang inovatif, perlu sosok pemimpin yang dapat memberdayakan karyawannya dan berbagi kesempatan pengambilan keputusan dengan mereka. Pemimpin memainkan peran penting dalam organisasi, memengaruhi budaya melalui daya tarik positif, pemberdayaan, dan keterlibatan untuk manajemen yang efektif ( Abbas et al. , 2021c , d ; Fenitra dkk. , 2022 ). Strategi kepemimpinan sangat penting dalam organisasi yang membuat karyawan merasa senang menjadi kreatif dan kritis. Penelitian ini membahas bagaimana pemimpin yang memberdayakan karyawannya serta strategi kepemimpinan melalui menumbuhkan harga diri organisasi dan kecerdasan emosional dapat meningkatkan kreativitas karyawan.
- Pertama, kepemimpinan yang memberdayakan karyawan berfokus pada strategi inspirasional yang melibatkan karyawan ( Lorinkova et al. , 2013 ). Para pemimpin yang memberdayakan karyawannya berbagi otoritas atau memberikan tugas atau otonomi kepada karyawan untuk meningkatkan produktivitas yang menghasilkan manfaat seperti memodifikasi kinerja dan meminimalkan birokrasi. Pekerja yang terstimulasi secara mental dapat melakukan banyak hal dengan baik. Dengan demikian ketika seorang pemimpin mampu memberdayakan karyawannya, maka akan tercipta kreatifitas pada diri karyawan.
- Kedua, selain memiliki pemimpin yang mampu memberdayakan karyawan, budaya juga sangat penting untuk mengembangkan kreativitas. Menurut ( Shao et al. , 2019 ) pengaruh budaya pada kreativitas memiliki beberapa cara. Orang merasakan kreativitas secara berbeda ketika mereka berkumpul di lingkungan dengan budaya atau latar yang berbeda. Budaya mengandung berbagai faktor, termasuk nilai dan kepercayaan seseorang. Organisasi dapat mempromosikan harga diri dan memungkinkan individu untuk mengatur dan mengelola perilaku mereka dan meningkatkan sikap di tempat kerja. Elemen struktural lingkungan kerja juga dapat membentuk gagasan karyawan tentang cita-cita organisasi (Korman, 1970 ; Pierce et al. , 1989 ). Mengingat pentingnya harga diri organisasi maka dapat dikatakan bahwa hal tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membentuk kreativita karyawan.
- Ketiga, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali dan mengendalikan emosi seseorang dan orang lain. Menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional adalah faktor penting dalam kemampuan pemimpin untuk merasakan, mengekspresikan, menganalisis, dan menilai emosi dengan benar ( Goleman et al. , 2013 ). Berbagai kajian menunjukkan bahwa manajer dengan kecerdasan emosional yang tinggi menghasilkan budaya perusahaan yang dinamis. Kecerdasan emosional terkait dengan kepemimpinan dan pemberdayaan psikologis, memberi pekerja kendali penuh atas keputusan. Kecerdasan emosional pemimpin dapat mengarah pada inovasi karyawan ( De Klerk and Stander, 2014 ; Alotaibi et al. , 2020 ). Pemimpin dapat memberdayakan karyawannya dalam pengambilan keputusan mereka serta terbuka untuk berbagi pengetahuan dan berfokus pada pengembangan keterampilan dan pembinaan untuk mencapai hasil kreatif. Pemimpin yang menjaga sikap positif mempersiapkan lingkungan yang penuh dengan aspirasi dan kecerdasan emosional ( Van Dierendonck dan Dijkstra, 2012 ). Dengan demikian pemimpin yang dapat memberdayakan karyawannya memiliki hubungan dengan kecerdasan emosional. Serta, kecerdasan emosional yang dibentuk sebagai salah satu strategi kepemimpinan akan meningkatkan kreativitas karyawan.
Penelitian yang berfokus pada pegawai universitas di sektor swasta Islamabad Pakistan dengan jumlah sampel 296 responden, menunjukkan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, sangat jelas bahwa pemimpin yang dapat memberdayakan akan meningkatkan kreativitas karyawan. Kedua, selain faktor pemimpin yang dapat memberdayakan, harga diri organisasi juga mampu meningkatkan kreativitas. Dengan demikian, untuk menumbuhkan kreativitas karyawan dapat dibentuk dengan mengembangkan pemimpin yang dapat memberdayakan karyawannya agar karyawan tersebut memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan, serta melalui strategi kepimpinan dengan membangun budaya yang membentuk harga diri organisasi.
Hasil lainnya menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki hubungan terbalik terhadap kreativitas. Kontrol emosi adalah bagian penting dalam mengidentifikasi dan memproses emosi diri sendiri dan orang lain. Pemimpin tidak boleh menggunakan emosi untuk menginspirasi pengikutnya, melainkan mengambil pendekatan yang berbeda. Hal ini sangat penting ketika berhadapan dengan masalah yang kompleks atau mengisi posisi yang membutuhkan kecerdasan kepemimpinan tingkat tinggi. Dengan demikian, penelitian ini menyarankan agar memfokuskan pada peningkatkan pemberdayaan yang dilakukan oleh pemimpin serta membangun budaya organisasi yang baik untuk menciptakan kreativitas.
Studi ini memberikan kontribusi pengetahuan tentang perilaku organisasi dengan memberikan wawasan baru. Studi ini menyarankan bahwa pemimpin yang memberdayakan harus fokus pada membangun budaya harga diri. Pemimpin tidak boleh menggunakan kecerdasan emosional saat meningkatkan inisiasi inovatif, karena dapat merusak lingkungan kreativitas. Pemimpin harus mempertimbangkan nilai-nilai yang diterima oleh setiap orang saat menetapkan metode pemberdayaan, karena kecerdasan emosional dan pemberdayaan dapat bertentangan.
Penulis: Dian Ekowati, S.E., M.Si., M.AppCom (OrgChg)., Ph.D.
Jurnal: Empowering leadership: roleoforganizational culture ofself-esteem and emotional intelligence on creativity





