Kepemimpinan sangat penting bagi organisasi karena dapat mendorong anggotanya bekerja lebih efektif, meningkatkan motivasi dan moral, serta mengarahkan pada produktivitas yang lebih tinggi. Kepemimpinan yang efektif juga membuat orang lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka, sehingga lebih mudah bagi organisasi untuk mencapai tujuannya (Aguinis & Pierce, 2008). Untuk membantu pegawai mencapai keseimbangan yang sehat antara tanggung jawab mereka dan pekerjaan mereka, mendorong keterlibatan dan fleksibilitas karyawan di tempat kerja dianggap sebagai kunci.
Menodorong fleksibilitas dan keterlibatan karyawan menjadi penting dikarenakan fleksibilitas menghasilkan motivasi, perilaku yang bertanggung jawab, dan output yang lebih tinggi (Behl et al., 2022 ; Hatch, 2018). Di samping itu, telah terbukti bahwa strategi kolaboratif dalam mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan dapat mengurangi kemungkinan perselisihan. Hal ini mendorong meningkatnya kepercayaan anggota kepada pimpinan. Akibatnya, anggota organisasi cenderung mendukung tujuan organisasi dan melaksanakan keputusan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan maupun aktivitas perusahaan yang strategis akan berdampak positif pada perusahaan (Reed et al., 2018). Berangkat dari hal tersebut, studi ini membahas jenis kepemimpinan seperti apa yang berperan dalam meningkatkan keterlibatan dan fleksibilitas karyawan serta berdampak pada produktivitas yang lebih tinggi.
Kepemimpinan konsultatif adalah jenis kepemimpinan yang berfokus pada pengembangan tim dan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman orang lain saat mengembangkan rencana dan membuat keputusan. Pemimpin membangun komunikasi untuk memperoleh pandangan dan perspektif dari karyawan (Sutton et al., 2023). Dengan demikian, pemimpin dapat mengarahkan anggotanya dengan lebih baik ke dalam pilihan yang dibuat bersama (Bhattacharya et al., 2005).
Berbagai literatur telah membahas bagaimana peran kepemimpinan konsultatif dapat membangun keterlibatan dan fleksibilitas karyawan serta meningkatkan produktivitas. Pertama, pemimpin dengan gaya konsultatif akan mempertimbangkan pendapat semua pihak sebelum membuat keputusan akhir (Gallardo, 2019). Cara tersebut akan membuka kesempatan bagi seluruh komponen organisasi untuk berpartisipasi secara proaktif dalam mengembangkan organisasi. Hal inilah yang kemudian disebut dengan fleksibilitas, dimana suatu keputusan tidak terhalang oleh struktur organisasi. Dengan demikian, semakin pemimpin membuka kesempatan bagi siapa saja untuk ikut andil dalam membuat keputusan, hal tersebut akan mendorong semakin tingginya fleksibilitas di organisasi tersebut. Kedua, membangun kolaborasi bersama karyawan memerlukan niat kedua pihak yang terlibat, dan hal tersebut dapat dicapai melalui suatu dialog (Elwyn et al., 2017). Pendekatan ini memungkinkan partisipasi dan pengambilan keputusan bersama (Reed et al., 2018). Pemimpin dengan gaya konsultatif akan membangun komunikasi secara intens untuk memahami apa yang diingkan anggotanya. Dengan demikian, ketika pemimpin dapat membangun komunikasi yang baik, kolaborasi antar pimpinan dan anggota akan terjalin. Semakin dekat pemimpin dengan karyawan, maka akan semakin membangun keterlibatan karyawan dalam proses pengambilan keputusan perusahaan. Oleh karena itu, kepempinan konsultatif dapat membangun keterlibatan karyawan (Guix et al., 2018). Ketiga, produktivitas dan kepemimpinan saling terkait erat. Dalam bisnis, output keseluruhan perusahaan ditentukan oleh kualitas kinerja tim (Desjardins, 2012). Kemampuan pemimpin untuk menginspirasi timnya sangat penting bagi keberhasilan organisasi (Lee, 2020). Kepempinan konsultatif membangun psikologi yang positif terhadap anggotanya. Tujuan strategis dari para pemimpin yang membangun psikologi positif adalah untuk membangun keunggulan di tempat kerja. Dengan demikian, ketika pemimpin mampu menginspirasi timnya, produktivitas juga akan meningkat (Smith & Stacey, 1997 ; Stacey, 2003).
Untuk mengetahui bagaimana kepemimpinan konsultatif berpengaruh terhadap fleksibilitas, keterlibatan karyawan, dan produktivitas, penelitian ini dilakukan terhadap pegawai yang bekerja di sektor pendidikan tinggi swasta di Pakista. Didapatkan 220 responden yang mengisi kuesioner. Data kemudian diolah menggunakan metode SEM PLS. Rata-rata responden yang mengisi adalah laki-laki dengan usia antara 40-49 tahun serta memiliki pengalaman kerja rata-rata 6-10 tahun dan berpendidikan sarjana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan konsultatif memiliki potensi lebih besar untuk mempengaruhi fleksibilitas dalam pendekatan manajerial. Kepemimpinan konsultatif juga berperan untuk meningkatkan keterlibatan pegawai. Kepemimpinan konsultatif terbukti menjadi faktor untuk meningkatkan produktivitas. Hasil lainnya juga menunjukkan perpaduan antara produktivitas dan kepemimpinan konsultatif. Fleksibilitas yang terjadi dapat meningkatkan keterlibatan, yang selanjutnya akan berdampak pada produktivitas. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa memang benar pemimpin konsultatif memiliki pengaruh yang positif terhadap perusahaan, terutama dalam meningkatkan produktivitas pegawai. Pemimpin konsultatif akan berpikir bahwa pegawainya selalu memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Pemimpin konsultatif mungkin mengambil keputusan akhir namun menghargai dengan mendengarkan pemikiran tim terlebih dahulu (Yu dkk., 2017). Interaksi antar anggota organisasi memungkinkan individu untuk membangun dan menegosiasikan peran mereka dalam organisasi (Fraussen et al., 2020). Hal ini juga membantu meningkatkan keterlibatan dan hubungan dengan rekan kerja dan rekan satu tim serta mempertimbangkan masukan dari banyak orang. Selain itu, hal ini dapat menyebabkan munculnya ide-ide baru dan inovatif ketika orang-orang bebas mengekspresikan pemikiran dan idenya (Yawson, 2020).
Implikasi dari penelitian sangat penting untuk menentukan strategi kepemimpinan yang tepat di organisasi. Setelah mengenal pemimpin konsultatif, individu menjadi lebih mudah beradaptasi. Mereka menjadi lebih reseptif terhadap hubungan sosial. Interaksi sosial dapat meningkatkan kerja sama, kesopanan, dan kompromi antara anggota organisasi, rekan kerja, dan kenalan. Dari perspektif tujuan konsultatif dalam organisasi, gagasan ini lebih luas dan dapat disesuaikan dengan banyak konteks praktis dan teoritis.
Akhirnya, karena budaya Asia mengandung lebih banyak aspek otoritas dan kekuasaan, praktik kepemimpinan transformasional dapat bermanfaat untuk memperluas penelitian dan praktik. Perubahan kebijakan dan praktik dapat beradaptasi seiring dengan berkembangnya penelitian kepemimpinan transformasional. Karena organisasi merupakan gabungan dari berbagai kelompok, konsultasi mempunyai dampak yang luas. Ketika hal ini terjadi, kehidupan organisasi dapat menjadi produktif dengan melibatkan individu dalam strategi fleksibilitas.
Penulis: Dian Ekowati, S.E., M.Si., M.AppCom (OrgChg)., Ph.D.
Jurnal:
Engagement and flexibility: An empirical discussion about consultative leadership intent for productivity from Pakistan





