Universitas Airlangga Official Website

Pemeriksaan Mutasi Genetik pada Penderita Kanker Ovarium

Kanker ovarium merupakan masalah kesehatan yang signifikan bagi wanita. Menurut data dari pusat kanker Globocan tahun 2020, kanker ovarium merupakan 1 dari 5 kanker yang banyak didapatkan pada wanta di Indonesia. Pada tahun 2020, 10 dari 100.000 wanita di Indonesia menderita kanker ovarium. Di seluruh dunia, kanker ovarium masih menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita dengan angka bertahan hidup selama 5 tahun hanya 49,7%. Bila terdeteksi pada stadium lanjut, hanya 17% penderita kanker ovarium yang dapat bertahan hidup selama 10 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa penderita kanker ovarium memiliki perjalanan penyakit yang gelap. Terapi konvensional, seperti pembedahan dan kemoterapi, merupakan pilihan pengobatan utama untuk kanker ovarium dan dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup namun terbatas pada kasus – kasus tertentu karena kanker ini bersifat agresif dan sulit untuk menghilangkan seluruh sel kanker.

Pada penderita kanker ovarium stadium lanjut, pengobatan konvensional tidak menghasilkan respon yang memadai. Pemeriksaan petanda molekuler seperti mutasi BRCA dalam darah, mutasi BRCA pada jaringan serta penilaian ketidakstabilan genom dengan pemeriksaan mutasi Defisiensi Rekombinan Homolog memberikan hasil yang berbeda pada setiap penderita kanker ovarium. Pada penderita kanker ovarium yang memiliki mutasi pada gen BRCA serta Defisiensi Rekombinan Homolog, masih ada harapan untuk diberikan pengobatan yang efektif dengan menggunakan agen penghambat PARP seperti Olaparib.

BRCA1 dan BRCA2 adalah gen yang bertanggung jawab untuk menekan pembentukan tumor dan berpartisipasi dalam mekanisme perbaikan DNA. Mutasi pada gen tersebut, terutama bila diwariskan dari orang tua sebagai mutasi germline, dapat mengakibatkan gangguan proses perbaikan DNA dan peningkatan kerentanan terhadap kanker tertentu, termasuk kanker ovarium. Agen penghambat PARP memanfaatkan konsep yang disebut kematian sintetik. Obat ini menargetkan enzim bernama Poli (ADP-Ribosa) Polimerase (PARP), yang terlibat dalam perbaikan DNA. Pada kanker dengan mutasi BRCA, terjadi gangguan pada jalur sinyal PARP. Dengan memberikan agen penghambat PARP maka kapasitas perbaikan DNA sel kanker akan terganggu dan menyebabkan kematian sel kanker.

Pemeriksaan mutasi BRCA untuk kanker ovarium dapat dilakukan dengan menggunakan sampel darah ataupun jaringan bergantung pada berbagai faktor. Pilihan jenis sampel bergantung pada faktor-faktor seperti ketersediaan sampel, jenis mutasi yang diuji (germline atau somatik) serta kemampuan laboratorium yang melakukan pengujian. Untuk pengujian germline BRCA, sampel darah biasanya digunakan. Pengujian germline biasanya dilakukan untuk mengidentifikasi mutasi genetik bawaan yang mungkin berdampak tidak hanya pada pasien tetapi juga anggota keluarganya. Di samping itu, pengujian somatik yang dilakukan dari sampel jaringan tumor dapat mengidentifikasi perubahan genetik spesifik pada sel tumor, yang mungkin berdampak pada keputusan pengobatan.

Akumulasi DNA yang rusak, menginduksi kematian sel pada sel kanker. Perubahan DNA berupa Defisiensi Rekombinan Homolog dapat digunakan juga sebagai peluang pengobatan kanker ovarium dengan penghambat PARP. Penghambat PARP telah menunjukkan manfaat klinis yang signifikan dalam mengobati kanker terkait Defisiensi Rekombinan Homolog seperti kanker ovarium dan kanker payudara yang memiliki mutasi gen BRCA. Dengan menghambat PARP, maka terjadi hambatan pada proses perbaikan kerusakan DNA dalam sel kanker. Dengan adanya akumulasi kerusakan DNA, terutama kerusakan DNA untai ganda, menyebabkan kematian sel kanker dengan Defisiensi Rekombinan Homolog tanpa merusak sel non-kanker. Penghambat PARP telah menunjukkan manfaat klinis yang signifikan dalam pengobatan kanker terkait HRD, seperti kanker ovarium dan payudara dengan mutasi BRCA, dan sedang diselidiki potensinya dalam keganasan terkait Defisiensi Rekombinan Homolog lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa walaupun penderita kanker ovarium stadium lanjut hamper pasti akan menghadapi kematian, akan tetapi bagi penderita yang memiliki mutasi gen BRCA dan Defisiensi Rekombinan Homolog, masih dapat diberikan pengobatan yang efektif dengan penghambat PARP. Mengingat bahaw hanya sebagian saja penderita kanker ovarium yang memiliki mutasi gen tersebut, maka diperlukan pemeriksaan mutasi gen pada setiap penderita kanker ovarium untuk melihat adanya potensi pengobatan dengan penghambat PARP, yakni obat yang hanya menghamcurkan sel kanker tanpa merusak sel normal.

Penulis: Dr. Willy Sandhika, dr., M.Si, SpPA(K)

Staf Pengajar Departemen Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Artikel ilmiah populer ini diambil dari artikel jurnal dengan judul Genetic Mutation Assay in Ovarian Cancer Patient dengan penulis Danastri Tiara Cintantya dan Willy Sandhika. Artikel ini telah diterbitkan dalam International Journal of Scientific Advances, volume 4 nomer 4, bulan Juli-Agustus 2023, halaman619-622.  

Link artikel jurnal:Â