Oksimeter denyut adalah suatu metode non-invasif untuk mengukur saturasi oksigen, salah satu parameter penting utama bagi bayi baru lahir yang di rawat di Unit Perawatan Intensif Neonatal (NICU) atau unit perawatan lainnya. Alat ini dapat menggambarkan seberapa baik oksigen dikirim ke bagian tubuh terjauh dari jantung Saturasi oksigen berkisar 95%-100% pada bayi baru lahir diatas 88% masih dianggap normal. Pada bayi prematur kadar saturasi oksigen sedikit lebih rendah tetapi masih dalam batas yang normal sekitar 91%-97%. Pemeriksaan fisik untuk bayi baru lahir akan langsung dilakukan sesaat bayi dilahirkan.
Pemeriksaan ini meliputi pengecekan organ vital, seperti detak jantung, pernapasan, suhu tubuh, berat badan, Panjang badan dan organ tubuh lainnya. Survei internasional bahwa oksimeter denyut dilakukan secara rutin digunakan selama resusitasi neonatal. Di Indonesia pemantauan SpO2 dengan beat oximeter secara kontinyu sering kali tidak memungkinkan dan pemantauan intermiten dengan fingertip beat oximeter semakin banyak digunakan untuk memandu terapi oksigen serta skrining kelainan jantung pada bayi baru lahir.
Namun hingga saat ini, belum ada pedoman berbasis bukti untuk penggunaan oksimeter denyut ujung jari untuk pemantauan intermiten bayi baru lahir di rangkaian sumber daya yang rendah guna mengukur, SpO2 memandu intervensi selama transisi neonatal setelah lahir. Tantangan untuk mencari alternatif pilihan beat oximeter dengan biaya perawatan yang lebih terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bukti penggunaan beat oximeter pada bayi baru lahir untuk menilai validitas pemantauan intermiten.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai validitas oksimeter denyut jantung ujung jari untuk mengukur saturasi oksigen pada bayi baru lahir terhadap oksimeter denyut yang dipantau terus menerus sebagai alat bantu pengukuran saturasi oksigen pada bayi baru lahir yang dilakukan di NICU dan Unit Menengah Neonatal RS Akademik Dr. Soetomo Surabaya dengan kriteria bayi baru lahir berusia di bawah 28 hari yang menggunakan alat pernapasan juga disertakan. Pengukuran saturasi oksigen menggunakan pulse oksimeter continuous monitoring dan intermiten pulse oksimeter dilakukan pada tangan kanan dan kedua kaki.
Uji-t berpaangan dan plot Bland-Altman dilakukan untuk menilai validitas. Penelitian ini mendapatkan hasil sebanyak 47 bayi pada kelompok normoksia (kondisi kadar oksigen 10%-21%) dan 38 bayi pada kelompok hipoksia (kadar oksigen sebesar 1%-5%). Terdapat perbedaan yang signifikan pada karakteristik berat badan lahir, usia kehamilan, skor APGAR, skor Downes dan dukungan oksigen kelompok normoksia. Namun tidak terdapat perbedaan karakteristik jenis kelamin, sepsis neonatal, kelainan kongenital dan mortalitas antara kedua kelompok.
Rata-rata kadar pengukuran saturasi oksigen menggunakan intermitten pulse oximeter pada kelompok hipoksia didapatkan hasil sebesar 79% dan 95% pada kelompok normoksik, sedangkan menggunakan continuous pulse oximetry pada kelompok hipoksia sebesar 79% dan 97% pada kelompok normoksik. Pengukuran pulse intermiten memakan waktu lebih lama untuk hasil perbandingan yang maksimal dibandingkan dengan pengukuran pulse oximeter kontinyu.
Terdapat gangguan sebanyak 23% di subjek penelitian pada saat pengukuran saturasi oksigen intermiten. Oleh karena itu pengukuran harus Kembali diulang. Ganggguan yang terjadi biasanya terkait dengan bayi baru lahir dan faktor alat yang lebih berperan ditemukan pada pengukuran oksimeter ujung jari.
Penemuan lain yang dilakukan di RSUP Cipto Mangunkusomo Indonesia menyatakan bahwa saturasi oksigen pada kaki kanan dan kiri bayi baru lahir usia 24-27 jam memiliki median masing-masing 98% dan 98%-99%. Ditemukan juga pada penelitian lain yang menunjukkan median dan rata-rata saturasi oksigen pada bayi baru lahir yang di rawat inap adalah masing-masing sebesar 97% dan 97,2%. Pada kedua penelitian tersebut kesimpulannya adalah tidak ada perbedaan antara pengukuran saturasi oksigen pada kaki kanan dan kiri bayi baru lahir.
Untuk mengukur saturasi oksigen yang diukur dengan oksimeter monitor dan oksimeter denyut memiliki perbedaan rata-rata adalah 0,42 poin dengan persentase (95% Cl hingga 0,70) dan batas kesesuaian berkisar antara -,0 hingga 2,8. Batasan persetujuan tersebut cukup kecil untuk dapat digunakan sebagai pengganti monitor klinis guna tujuan klinis. Dimana hasil tersebut sejalan dengan penelitian kami yang menunjukkan batas kesepakatan (antara -1,29 dan 1,29).
Artinya bahwa oksimeter denyut intermiten dapat digunakan sebagai alternatif pengganti oksimeter denyut kontinyu pada kelompok normoksia. Sedangkan pada kelompok hipoksia terdapat bias yang konsisten yang ditunjukkan dengan nilai selisih rata-rata (d=0.18) dan p-value 0.0048 (p<0.005) serta batas kesesuaian (-3,36 hingga +3.009) menunjukkan bahwa oksimeter pulse intermiten tidak dapat digunakan secara klinis. Namun pada penelitian lainnya menunjukkan bahwa oksimeter denyut intermiten bisa digunakan dalam berbagai kondisi klinis dengan akurasi sebesar kurang lebih 2% pada kisaran 70 hingga 100% dan kurang lebih 3%, 50 hingga 69%.
Oksimeter denyut intermiten mempunyai keterbatasan. Elitech Fox II dapat digunakan dengan baik pada jari yang ketebalannya 8-26mm, oleh karena itu lebih sesuai untuk anak-anak hingga dewasa. Pengukuran oksigen berulang akibat sinyal yang tidak terbaca sebaiknya dilakukan pada oksimeter pulse intermiten 23,5% dan 4,7% pada oksimeter denyut kontinyu.
Oksimeter pulse intermiten tersedia untuk digunakan bergantian dengan oksimeter pulse kontinyu. Namun, memiliki keterbatasan dalam pengaturan hipoksemia karena penerapannya secara klinis real-time. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut yang membahas kedua faktor tersebut.
Penulis : Dr. Martono Tri Utomo, dr., SpA(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
https://doi:10.15562/bmj.v12i3.4688
Nastiti, P. H. et al., 2023. Intermittent pulse oximeter as a measurement of newborn oxygen: a cross-sectional study. Bali Medical Journal, pp. 2446-2450. Published 2023





