Melanoma adalah jenis kanker kulit yang berasal dari sel melanosit. Sel melanosit merupakan sel penghasil pigmen melanin pada epidermis kulit yang memberikan warna pada kulit. Dibandingkan dengan kanker kulit jenis yang lain, melanoma merupakan kanker kulit yang paling ganas karena mudah menyebar ke organ lain serta bersifat resisten terhadap kemoterapi maupun radio terapi.
Penampakan melanoma dapat serupa dengan nevus pigmentosus yang dikenal sebagai “tahi lalat” pada masyarakat umum. Gejala melanoma dikenal dengan singkatan ABCD yakni (1) A = Asimetri artinya bercak coklat kehitaman pada kulit dengan pertumbuhan tidak simetri pada salah satu sisinya, (2) B = border irregularity artinya bercak coklat kehitaman pada kulit dengan tepi yang tidak teratur, (3) C = color atau warna yang tidak merata, sebagian bercak dapat berwarna kehitaman, kebiruan, kemerahan atau lebih pucat dan (4) D = diameter artinya ukuran yang cepat membesar.
Hasil pengobatan melanoma sangat bergantung pada stadium melanoma terdiagnosis. Pada tahap awal melanoma berkembang secara horizontal (bercak yang makin lebar). Pada tahap ini tidak ada penyebaran sel ganas sehingga kanker melanoma dapat dioperasi dan sembuh. Pada stadium lanjut, melanoma akan tumbuh secara vertical membentuk nodul yang disebut sebagai melanoma nodular. Pada stadium ini melanoma sulit dioperasi karena sel ganas sudah menyebar. Walaupun melanoma pada tempat asal sudah dioperasi, akan tumbuh melanoma yang berasal dari sel ganas yang sudah menyebar ke dalam tubuh. Usaha untuk memberikan radioterapi dan kemoterapi juga memberikan respon yang minimal karena melanoma tergolong kanker yang resisten terhadap radioterapi dan kemoterapi. Pemberian radioterapi dan kemoterapi pada melanoma akan lebih banyak merusak sel sehat daripada sel kanker oleh karena baik radioterapi dan kemoterapi bersifat mematikan sel sehat maupun sel kanker dan bukan bersifat terapi yang khusus membunuh sel kanker. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kanker melanoma yang tumbuh secara vertikal cepat atau lambat akan membawa kematian.
Usaha untuk menghancurkan sel melanoma tidak berhenti sampai di sini. Para ilmuwan mulai mengembangkan obat baru yang dapat membunuh sel kanker melanoma secara spesifik tanpa membunuh sel sehat. Hal ini berdasarkan pada penelitian bahwa sel kanker pada sebagian penderita melanoma memiliki mutasi gen braf. Mutasi gen ini hanya terdapat pada sel melanoma dan tidak dijumpai pada sel normal. Hal ini membuka peluang bagi penderita melanoma yang memiliki mutasi gen braf dapat memberikan respon yang baik dengan terapi penghambat braf seperti obat vemurafenib dan dabrafenib. Vanesya Chendriadi dan Willy Sandhika telah menjelaskan dalam publikasi artikel dengan judul “Exploiting BRAF Mutation for Treatment of Malignant Melanoma” tentang peran mutasi gen braf pada sel melanoma. Gen braf merupakan gen yang mengendalikan perkembangan sel. Jika pada penderita melanoma yang memiliki mutasi gen braf diberikan obat penghambat braf maka perkembangan sel kanker akan berhenti. Keistimewaan obat ini adalah hanya menghambat pertumbuhan sel kanker tanpa mengganggu pertumbuhan sel normal.
Gen braf merupakan gen yang berperan dalam proliferasi sel, baik sel normal maupun sel kanker. Pada sel normal, gen braf hanya akan aktif jika dirangsang oleh faktor pertunbuhan. Tanpa adanya faktor pertumbuhan, gen braf berada dalam keadaaan tidak aktif. Sedangkan pada sel kanker melanoma, gen braf mengalami mutasi sehingga selalu berada dalam keadaan aktif walaupun tidak ada faktor pertumbuhan. Oleh karena itu, sel kanker melanoma tetap berproliferasi walaupun tanpa adanya faktor pertumbuhan. Pemberian penghambat braf, akan menyebabkan gen braf yang mengalami mutasi menjadi tidak aktif sehingga sel kanker tidak berproliferasi. Penghambat braf hanya bekerja pada sel yag memiliki mutasi braf, dengan demikian obat penghambat braf tidak memiliki efek yang mematikan pada sel normal karena sel normal tidak mengalami mutasi braf. Walaupun demikian, obat penghambat braf tidak selalu dapat bekerja dengan efektif pada penderita melanoma. Hanya penderita melanoma yang memiliki mutasi gen braf yang memberikan respon positif terhadap pemberian penghambat braf.
Adanya obat penghambat braf telah memberikan harapan baru bagi penderita kanker kulit melanoma yang seringkali membawa kematian karena bersifat resisten terhadap kemoterapi maupun radioterapi. Pemeriksaan mutasi braf diperlukan untuk sebagai penuntun untuk menentukan respon terapi terhadap pemberian penghambat braf.
Oleh: Willy Sandhika
Artikel ilmiah populer ini diambil dari artikel jurnal dengan judul: Exploiting BRAFMutation for Treatment of Malignant Melanoma: A Literature Review dengan penulis Vanesya Rizky Chendriadi, Willy Sandhika yang telah diterbitkan pada International Journal of Research and Review, volume 10 no.12, halaman 845 – 853, tanggal 29 December 2023.
Link artikel jurnal:
https://www.ijrrjournal.com/IJRR_Vol.10_Issue.12_Dec2023/IJRR85.pdf





