Universitas Airlangga Official Website

Profil Oksitosin Serum Tikus Dara dan Pasca Melahirkan

Oksitosin (OT) adalah hormon yang disintesis oleh badan sel saraf inti paraventrikular dan diproduksi oleh kelenjar hipotalamus. Ini mempengaruhi otot polos rahim dan bertanggung jawab untuk merangsang kontraksi rahim selama persalinan dan proses reproduksi lainnya seperti perkawinan dan menyusui. Pada tikus, oksitosin penting untuk inisiasi dan pemeliharaan proses melahirkan. Reseptor OT disintesis di jaringan intrauterin tikus dan manusia selama akhir kebuntingan. Kadar oksitosin meningkat selama kebuntingan, kelahiran anak anjing, dan tahap awal persalinan, kemudian menurun pada delapan minggu pascapersalinan.

Persalinan terdiri dari tiga tahap dan berhubungan dengan plasenta. Kadar oksitosin dua kali lipat pada tahap awal persalinan dibandingkan sebelum persalinan dimulai. Denyut oksitosin sangat pendek tetapi konsentrasinya sangat tinggi. Oksitosin cenderung meningkat dan mencapai puncaknya (tiga denyut per 10 menit) sebelum lahir. Ini juga merespons refleks Ferguson, yang merangsang kontraksi rahim dan miometrium, menyebabkan kepala janin menyentuh leher rahim dan dinding vagina saat kontraksi rahim terjadi.

Selama persalinan, oksitosin menyebabkan kontraksi pada otot polos myometrium rahim. Ketika konsentrasi progesteron turun selama persalinan, peningkatan rasio estrogen terhadap progesteron dapat mengaktifkan sintesis reseptor oksitosin. Oksitosin juga dapat dilepaskan dari hipofisis posterior ke dalam aliran darah dalam berbagai keadaan, termasuk hipoglikemia dan stres psikologis. Sebagai neuromodulator, oksitosin mempengaruhi beragam neurofisiologis dan perilaku proses, seperti kecemasan, agresi, dan respons stres terhadap rangsangan eksternal, seksualitas, dan lingkungan. Oksitosin berperan dalam transportasi sperma dan menstruasi pada rahim hamil dan tidak hamil. Selama persalinan, mRNA untuk oksitosin reseptor meningkat pada tikus bunting. Oksitosin juga diproduksi di ovarium dan rahim untuk merangsang persalinan dan menyusui.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar oksitosin secara biologi fisik yang berbeda antara hewan coba pasca melahirkan dan tidak bunting (dara atau belum pernah melahirkan). Penelitian eksperimental ini dilakukan pada 19 ekor tikus putih betina (Rattus norvegicus) dibagi menjadi dua kelompok: T1 dan T2. Sepuluh ekor tikus pada kelompok T1 (dara nulipara) dan sembilan ekor pada kelompok T2 (nifas) dikorbankan pada hari kedua, kecuali kelompok T1, yang dikorbankan setelah persalinan pervaginam. Darah dikumpulkan secara intrakardiak, dan kadar oksitosin serum dievaluasi menggunakan uji ELISA. Uji-T digunakan untuk analisis data statistik. Kadar serum oksitosin pada kelompok T2 (628,06 ± 168,72 pg/mL) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pada kelompok T1 (366,71 ± 185,03 pg/mL; P <0,05). Kesimpulannya, kadar oksitosin lebih tinggi pada hewan pasca melahirkan dibandingkan pada hewan dara. Dengan demikian, oksitosin memainkan peran lebih besar dalam reproduksi betina pasca melahirkan dibandingkan kondisi fisiologis normal.

Penulis: Widjiati

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di

https://hrcak.srce.hr/file/428847