Kondisi geografis Indonesia merupakan hambatan besar dalam transportasi. Kesulitan transportasi mempengaruhi pemberian terapi akut yang bergantung pada waktu seperti intervensi koroner perkutan (PCI). Selain itu, populasi lansia di Indonesia juga akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap prevalensi sindrom koroner akut dalam dekade berikutnya. Oleh karena itu, analisis dan peningkatan perawatan kardiovaskular sangat penting. Kateterisasi laboratorium melakukan prosedur PCI. Dalam penelitian ini, kami memetakan jumlah dan distribusi laboratorium kateterisasi di Indonesia.
Metode Survei langsung digunakan untuk mengumpulkan data terkait lokasi laboratorium kateterisasi pada bulan Juli 2022. Data kependudukan bersumber dari Kementerian Dalam Negeri. Pertumbuhan laboratorium kateterisasi baru-baru ini diperiksa dan dievaluasi berdasarkan wilayah geografis. Instrumen utama untuk membandingkan wilayah dan perubahan sepanjang waktu adalah rasio laboratorium kateterisasi per 100.000 penduduk dan indeks Gini (ukuran ketimpangan ekonomi dan kesehatan. Indeks Gini berkisar antara 0 hingga 1, dengan nilai yang lebih besar berarti lebih signifikan tingkat ketimpangan). Analisis regresi dilakukan untuk melihat berapa jumlah laboratorium kateterisasi dipengaruhi oleh permintaan kesehatan (prevalensi) dan kapasitas ekonomi (Produk Domestik Regional Bruto [GDRP] per Kapita).
Temuan jumlah laboratorium kateterisasi di Indonesia meningkat secara signifikan dari 181 menjadi 310 selama 2017–2022, dengan 44 dari 119 laboratorium baru dibangun di area yang belum memiliki laboratorium. Java memiliki kateterisasi paling banyak laboratorium (208, 67%). Rasio laboratorium kateterisasi di provinsi-provinsi di Indonesia berkisar 0,0 di wilayah Barat Papua dan Maluku menjadi 4,46 di Jakarta; mediannya adalah 1,09 (IQR 0,71–1,18). Distribusinya masih menjadi masalah, seperti ditunjukkan dengan tingginya indeks Gini laboratorium kateterisasi (0,48). Regresi menunjukkan distribusi kateterisasi laboratorium secara signifikan dipengaruhi oleh GDRP dan prevalensi penyakit jantung.
Interpretasi Jumlah laboratorium kateterisasi di Indonesia akhir-akhir ini meningkat secara signifikan, namun demikian, maldistribusi masih menjadi kekhawatiran. Untuk meningkatkan layanan darurat kardiovaskular Indonesia, pembangunan di masa depan laboratorium kateterisasi harus direncanakan dengan lebih baik dengan mempertimbangkan aksesibilitas dan kepadatan fasilitas. Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa aksesibilitas terhadap kateterisasi laboratorium sangat penting karena mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk penanganan akut pasien sindrom koroner (ACS) untuk menerima perawatan. Indonesia adalah negara terbesar keempat berdasarkan jumlah penduduk dan terbesar negara kepulauan di dunia. Sayangnya, laboratorium kateterisasi di Indonesia (nasional) tidak pernah diteliti atau disebutkan dalam penelitian sebelumnya atau kami belum menemukan pada artikel. Dalam penelitian ini, kami mencoba memetakan laboratorium kateterisasi di Indonesia untuk mendorong perencanaan laboratorium di lokasi strategis.
Nilai tambah penelitian ini yaitu penelitian ini memberikan data tentang jumlah kateterisasi laboratorium, distribusi geografis primer, kateterisasi rasio laboratorium terhadap populasi, dan evolusi lima tahun sebelumnya di Indonesia. Untuk menjamin akses yang adil, Indonesia membutuhkan kebijakan pemerintah yang berinisiatif distribusi laboratorium kateterisasi dan strategis penempatannya, terutama pada daerah yang kemampuan ekonominya rendah. Implikasi dari semua bukti yang tersedia, studi kami mengidentifikasi daerah-daerah di Indonesia dengan akses terbatas untuk layanan jantung penting.
Temuan ini akan memungkinkan pengambil kebijakan untuk mengarahkan investasi secara strategis dan menerapkan kebijakan di daerah-daerah yang kurang terlayani, yang karenanya akan berdampak buruk mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memulai pengobatan pasien ACS dan berpotensi mengurangi angka kematian. Selain itu, temuan kami terkait dengan perubahan distribusi laboratorium selama lima tahun terakhir akan membantu pembuat kebijakan untuk melakukan evaluasi dampak inisiatif sebelumnya dan merencanakan sumber daya di masa depan yang lebih efektif. Hal ini akan menjamin akses yang adil terhadap penyakit jantung dan peduli terhadap semua warga negara tanpa memandang status ekonomi dan meningkatkannya hasil kesehatan di tingkat nasional.
Penulis : Farizal Rizky Muharram,a Chaq El Chaq Zamzam Multazam,b Wigaviola Socha Harmadha,b Andrianto Andrianto,c ,∗ Senitza Anisa Salsabilla,c Iwan Dakota,d Hananto Andriantoro,d Doni Firman,d Maya Marinda Montain,d Radityo Prakoso,d dan Dilla Anggraenid
Link : https://www.thelancet.com/journals/lansea/article/PIIS2772-3682(24)00068-4/fulltext





