Universitas Airlangga Official Website

Kadar Hemoglobin dan Jarak Transfusi Pasien Talasemia Beta

Kadar Hemoglobin dan Jarak Transfusi Pasien Talasemia Beta
Sumber: Halodoc

Talasemia beta adalah salah satu penyebab umum anemia, yang timbul dari berkurangnya atau tidak adanya sintesis rantai beta-globin hemoglobin.1 Talasemia beta merupakan kelainan gen tunggal bawaan yang paling umum.2 Indonesia termasuk salah satu negara dalam sabuk talasemia dunia, yaitu negara dengan frekuensi gen talasemia yang tinggi, yaitu berkisar 3-10%.3 Frekuensi gen pembawa talasemia beta di Indonesia adalah 3-10% berdasarkan laporan Eijkman National Molecular Institute.4 Jumlah pasien talasemia beta di Indonesia sampai tahun 2019 terdapat sekitar 10.000 pasien.5

Tata laksana penyakit talasemia beta sampai saat ini bersifat simptomatik berupa transfusi darah seumur hidup.6 Kadar hemoglobin pada pasien talasemia beta yang merupakan indikasi transfusi adalah < 7 g/dL pada 2 kali pemeriksaan, dengan selang waktu >2 minggu, tanpa adanya tanda infeksi atau didapatkan nilai Hb >7 g/dL dengan dijumpai, gagal tumbuh, dan/atau deformitas tulang akibat talasemia.7 Kadar hemoglobin pratransfusi yang ditargetkan adalah 9-10 g/dL dan 13-14 g/dL untuk yang paska transfusi. Jarak transfusi pada pasien talasemia beta biasanya 2-4 minggu.8

Transfusi darah berulang pada pasien talasemia beta tergantung transfusi dapat meningkatkan risiko yang terkait dengan terapi transfusi yaitu, transmisi penyakit menular, volume overload, reaksi transfusi hemolitik, kelebihan zat besi, risiko allo-autoimunisasi dan Delayed Haemolytic Transfusion Reactions (DHTRs).6,9,10

Allo-autoantibodi dapat menyebabkan lisis sel darah merah sehingga umur sel darah merah menjadi lebih pendek dan menurunkan kadar hemoglobin pratransfusi.7,11 Kurniawan et al.12 mendapatkan pasien talasemia beta tergantung transfusi yang memiliki allo-autoantibodi gagal mempertahankan kadar hemoglobin setelah transfusi dibandingkan yang tidak memiliki allo-autoantibodi. Essa et al.13 mendapatkan pasien talasemia beta tergantung transfusi dan memiliki alloautoantibodi secara signifikan membutuhkan transfusi lebih sering per tahunnya.  

kelompok allo-autoantibodi positif didominasi jenis kelamin perempuan, sejalan dengan Essa et al.13 dan Singer et al.14 yang mendapatkan perempuan nulipara berisiko mengalami sensitisasi RBC (Red Blood Cell) lebih tinggi. Hal berbeda didapatkan dari penelitian Ameen et al.15, Dhawan et al.16, Hendrickson et al.17 dan Saifeldeen et al.18yang menyatakan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dan kejadian allo-autoantibodi pada pasien talasemua beta tergantung transfusi. Usia pasien pada penelitian ini didapatkan tidak berbeda antara kedua kelompok, hal ini sejalan dengan Dhawan et al.16 Hubungan antara jumlah transfusi dan terjadinya allo-autoantibodi masih tidak diketahui dengan jelas.19 Rata-rata jumlah transfusi pada kedua kelompok adalah sama, yaitu 100.26 kali. Hal ini sejalan dengan Dhawan et al.16, Saifeldeen et al.18, Ahmed et al.20, dan Obeidi et al.21. Hal berbeda didapatkan Singer et al.14 dan Vichinsky et al.22 yang mendapatkan semakin banyak jumlah transfusi maka angka kejadian allo-autoantibodi semakin tinggi. Penelitian ini mendapatkan 3 pasien dengan allo-autoantibodi telah menjalani transfusi ≥300 kali dengan usia 30 tahun, 33 tahun dan 38 tahun. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan dalam usaha pencegahan dan tata laksana sehingga usia harapan hidup pasien talasemia beta tergantung transfusi di Indonesia meningkat dibandingkan pada tahun 1978 yang hanya berkisar 8-10 tahun.5

Alloantibodi merupakan respon imun yang distimulasi oleh transfusi PRC (Packed Red Cell) yang berulang. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terbentuknya alloantibodi adalah adanya perbedaan antigen RBC antara darah donor dan resipien, status imun resipien dan efek immunomodulator pada sistem imun resipien.14,16,23 Penelitian sebelumnya melaporkan kejadian alloantibodi bervariasi dari 4-50%.14,16,23,24 Kejadian alloantibodi tinggi jika populasi donor dan resipien heterogen, tidak ada prosedur tes kompatibilitas, usia dimulainya transfusi >1 tahun, pemberian PRC nonleucoreduced dan riwayat splenektomi.7,14,16,18,23,24 Usia dimulainya transfusi > 1 tahun menjadi penyebab terbentuknya alloantibodi karena hilangnya proteksi dari sistem imun yang imatur dan toleransi imun adaptif terhadap antigen RBC yang allogenik.16,19,24 Pemberian PRC nonleucoreduced dan riwayat splenektomi juga dapat menjadi penyebab munculnya alloantibodi karena terjadi limfositosis yang berhubungan dengan transfusi darah sehingga terjadi peningkatan imunoglobulin serum, kompleks imun dan sel yang mengekspresikan imunoglobulin.14,16,25 Penelitian ini mendapatkan kejadian alloantibodi pada pasien talasemia beta tergantung transfusi adalah cukup tinggi yaitu 27%, tidak jauh berbeda dengan yang dilaporkan Saifeldeen et al (23.1%) dan Singer et al (22%).14,18 Alloantibodi pada penelitian ini dapat disebabkan karena adanya heterogenitas populasi,  dugaan usia dimulainya transfusi >1 tahun, dan dugaan adanya riwayat splenektomi.

Penelitian ini mendapatkan 40% pasien memiliki autoantibodi, lebih tinggi dari hasil penelitian Dhawan et al.16  (28.2%), Saifeldeen et al.18 (9.2%), Singer et al.14(25%), Ameen et al.15(11%), Pahuja et al.23 (0,47%), dan Noor et al.26 (1.5%). Penyebab terbentuknya autoantibodi pada pasien talasemia beta tergantung transfusi hingga saat ini masih belum dipahami. Singer et al.14 dan Dhawan et al.16mengatakan terbentuknya autoantibodi berhubungan dengan riwayat splenektomi, dimana terjadi kehilangan sistem filtrasi efisien untuk meniadakan RBC yang rusak sehingga RBC yang tua mendapat paparan antigen yang baru dan meningkatkan terjadinya respon imun, termasuk terbentuknya autoantibodi; tetapi hal berbeda dilaporkan Noor et al.26 dimana tidak didapatkan hubungan antara terjadinya autoantibodi dengan riwayat splenektomi. Singer et al.14 mendapatkan juga kejadian autoantibodi berhubungan dengan riwayat alloantibodi sebelumnya dan pemberian PRC nonleucoreduced. Noor et al.26 menyatakan bahwa terbentuknya autoantibodi dapat disebabkan penyimpanan PRC pada suhu 1-60C lebih dari 3 hari, dimana terjadi peningkatan apoptosis WBC (White Blood Cell) yang menyebabkan lepasnya antigen immunostimulatory dan mediator biologi (matrix protein inti, epitop CTLA-4) yang mensensitisasi sistem imun pasien dan memicu terbentuknya autoantibodi.26–29 tingginya jumlah pasien dengan autoantibodi disebabkan oleh adanya alloantibodi sebelumnya dan riwayat splenektomi. Penelitian ini juga mendapatkan 11 pasien yang hanya memiliki autoantibodi. Kemungkinan penyebab munculnya autoantibodi tanpa didahului alloantibodi adalah adanya disfungsi sistem imun yang disebabkan faktor genetik, respon sel T-reg terhadap epitop autoantigen sel darah merah yang dimediasi oleh IL-10, dan hemoglobinopati (HbE/talasemia β) yang berat.26,30

Hasil perbandingan kadar hemoglobin dan jarak transfusi antar kedua kelompok tidak didapatkan perbedaan bermakna. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Obeidi et al.21 pada populasi di Iran, dimana tidak ada hubungan antara kadar hemoglobin pratransfusi dan jarak transfusi dengan adanya alo-autoantibodi. Saifeldeen et al.18 melaporkan pada populasi di Mesir,  jarak transfusi tidak berbeda antara kelompok yang memiliki allo-autoantibodi dan yang tidak. Hal berbeda didapatkan penelitian Essa et al.13 pada populasi di Mesir, dimana jarak transfusi lebih memendek pada kelompok yang memiliki allo-autoantibodi. Kurniawan et al.12 melakukan penelitian pada populasi di Indonesia dan mendapatkan 37.5% pasien talasemia beta tergantung transfusi gagal mempertahankan kadar hemoglobin post-transfusi selama 4 minggu sehingga jarak transfusi menjadi lebih pendek (rata-rata 23 hari), dengan prevalensi alloantibodi pada kelompok ini sebesar 78.6% dan autoantibodi sebesar 72.7%. Hasil beberapa penelitian ini menunjukkan bahwa adanya allo-autoantibodi tidak selalu menjadi faktor yang menyebabkan penurunan pada kadar hemoglobin pre-transfusi dan memendeknya jarak transfusi pasien talasemia beta tergantung transfusi. Faktor lain yang dapat mempengaruhi adalah faktor pasien (riwayat splenomegali/splenektomi, komorbid, jenis antibodi ireguler yang dimiliki, psikis, pembiayaan), faktor bank darah (penyimpanan, ketersediaan) dan faktor ketepatan transfusi (jadwal dan jumlah).

Penulis: Marisa Setiawan, Betty Agustina Tambunan.

Link: https://www.jmchemsci.com/article_191476.html

Baca juga: Kadar Hemoglobin pada Pasien COVID-19