Universitas Airlangga Official Website

Preservasi Cultural Heritage Berbasis Artificial Intelligence

Preservasi Cultural Heritage Berbasis Artificial Intelligence
Sumber: Linkedin

Teknologi berbasis artificial intelligence (AI) telah banyak dikembangkan untuk memfasilitasi proses pengelolaan warisan budaya, baik yang bersifat tangible, seperti bangunan bersejarah, artefak, dan situs arkeologi, maupun yang bersifat intangible, seperti tradisi lisan, musik, tarian, dan adat istiadat. Dengan kemampuannya untuk mengolah data secara cepat dan akurat, AI memungkinkan digitalisasi, pemetaan, dan analisis canggih yang membantu upaya preservasi budaya menjadi lebih efektif dan efisien. Teknologi ini telah diterapkan dalam berbagai proyek preservasi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional seperti UNESCO, Uni Eropa, dan Heritage Research Hub, di mana AI digunakan untuk melacak, mendokumentasikan, serta melestarikan warisan budaya dari kerusakan fisik, penurunan nilai, hingga ancaman kepunahan. Proyek-proyek tersebut tidak hanya fokus pada perlindungan aset budaya yang ada saat ini, tetapi juga mendorong kesadaran global mengenai pentingnya menjaga warisan budaya untuk generasi mendatang melalui pendekatan berbasis teknologi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam preservasi warisan budaya telah diterapkan secara luas, mencakup berbagai aspek baik tangible maupun intangible. Salah satu contohnya adalah penggunaan perangkat lunak CiteSpace dalam investigasi warisan budaya takbenda, yang memungkinkan analisis hubungan dan pola pengetahuan secara mendalam. Di China, AI telah digunakan untuk mengidentifikasi koin kuno dan melacak detail historis yang terkandung di dalamnya, serta mendokumentasikan peninggalan arsitektur menggunakan teknologi 3D untuk memastikan keakuratan dan kelestarian. Di Italia, teknologi 3D dimanfaatkan untuk merekonstruksi kuil-kuil bersejarah, menghidupkan kembali bentuk aslinya yang mungkin telah hilang atau rusak. AI, terutama dalam bentuk machine learning, memiliki kemampuan untuk beroperasi secara otonom tanpa intervensi manusia, dan ini telah digunakan secara luas dalam dokumentasi bangunan bersejarah di China. Teknologi ini dapat mengidentifikasi warna dan lukisan pada seni cadas (rock art), mengenali motif-motif tertentu, mendeteksi objek, serta merekonstruksi informasi visual untuk membangun representasi yang akurat dari warisan tersebut. Dengan kemampuan untuk menganalisis dan memproses data visual secara otomatis, AI memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya pelestarian dan penyelamatan budaya dunia yang berharga.

Model 3D memiliki peran penting dalam memvisualisasikan konsep-konsep melalui representasi gambar yang mendekati kenyataan. Teknologi ini mampu menangkap objek asli dalam format dua atau tiga dimensi, sehingga memberikan gambaran yang detail dan akurat. Selain itu, kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi dengan model 3D dapat memvisualisasikan instruksi tekstual, membuatnya sangat berguna dalam berbagai aplikasi, termasuk dalam pembangunan museum virtual. Sebagai contoh, di Roma, model 3D digunakan untuk memvisualisasikan situs-situs warisan budaya yang bernilai sejarah tinggi. Teknologi ini juga dimanfaatkan dalam upaya preservasi warisan budaya takbenda (intangible heritage), seperti dengan menggunakan alat AI bernama CoC CNet yang digunakan di China untuk melestarikan Opera Kanton, salah satu bentuk hiburan tradisional yang bernilai budaya tinggi. Rapid modeling juga mempermudah pengelolaan warisan budaya takbenda agar tidak hilang oleh pengaruh peradaban baru. Selain itu, teknologi seperti pengenalan gambar komputer (computer image recognition), storytelling digital, platform digital, jaringan saraf (neural networks), museum virtual, dan produksi live juga memainkan peran penting dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya. AI dalam konteks ini dikelompokkan dalam beberapa klaster penelitian. Klaster pertama mencakup solusi perangkat lunak berbasis AI, seperti remote sensing, sistem pendukung keputusan, dan rekayasa perangkat lunak. Klaster kedua berfokus pada pameran virtual, termasuk realitas virtual (VR), augmented reality (AR), dan Internet of Things (IoT). Klaster ketiga berkaitan dengan metadata dan basis data terkait AI, yang mencakup ilmu komputer, perpustakaan digital, metadata, serta data warisan budaya digital. Keempat klaster ini menggambarkan fokus penelitian terkait AI dan warisan budaya selama sepuluh tahun terakhir. Dengan terus berkembangnya teknologi, semakin banyak solusi berbasis AI yang tersedia untuk kegiatan preservasi dan dokumentasi warisan budaya, memastikan warisan tersebut tetap terjaga dan dapat diakses oleh generasi mendatang.

Studi ini memberikan kontribusi yang sangat penting bagi institusi yang bertanggung jawab atas pengelolaan warisan budaya, terutama dengan memberikan wawasan mendalam mengenai bagaimana teknologi berbasis artificial intelligence (AI) dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek kurasi, preservasi, dan upaya preventif. Dalam konteks kurasi, AI mampu membantu dalam pemilihan dan pengaturan koleksi, memungkinkan analisis yang lebih canggih terhadap konten budaya sehingga dapat disajikan dengan cara yang lebih menarik dan relevan bagi audiens. Untuk upaya preservasi, AI berperan dalam mendokumentasikan warisan budaya secara digital, baik tangible maupun intangible, serta menjaga nilai historis dan artistik dari warisan tersebut agar tidak hilang atau rusak seiring waktu. Selain itu, teknologi AI juga dapat digunakan untuk tindakan preventif, seperti memprediksi kerusakan atau penurunan kualitas fisik dari artefak atau situs budaya, serta memberikan solusi yang cepat dan tepat untuk mengatasi tantangan tersebut. Dengan demikian, studi ini tidak hanya membantu institusi dalam memahami potensi teknologi AI, tetapi juga menyediakan peta jalan untuk pengaplikasiannya yang lebih efektif, berkelanjutan, dan strategis dalam menjaga kelestarian warisan budaya untuk masa depan.

Penulis: Dr. Dessy Harisanty, S.Sos., M.A.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/cultural-heritage-preservation-in-the-digital-age-harnessing-arti

Baca juga: Penerapan Artificial Intelligence untuk Estimasi Usia Gigi di Bidang Odontologi Forensik