Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi yang baru lahir. ASI mengandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan bayi termasuk protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral, serta zat imun yang bisa membantu untuk melindungi bayi dari infeksi dan penyakit. Selain itu, ASI juga berperan untuk perkembangan otak dan sistem pencernaan bayi. Pemberian ASI dianjurkan secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi dengan penambahan makanan pendamping setelah itu. ASI mempunyai banyak manfaat baik untuk kesehatan bayi maupun kesehatan ibu. Waktu optimal untuk memberikan ASI untuk bayi adalah selama 6 bulan pertama kehidupan, dimana ASI merupakan satu-satunya makanan yang dubutuhkan. Setelah 6 bulan, ibu bisa mulai memberikan makanan pendamping sambil tetap menyusui hingga usia 2 tahun atau lebih. Banyak ibu yang memberikan tambahan susu formula pada bayinya yang cukup bulan dan sehat karena merasa ASInya belum keluar atau kurang. Salah satu penyebab adalah kurangnya informasi bahwa memberi susu formula terutama pada hari hari pertama kelahiran mungkin mengganggu produksi ASI, bonding, dan dapat menghambat suksesnya menyusui dikemudian hari. Bayi yang diberi formula akan kenyang dan cenderung malas untuk menyusu sehingga pengosongan payudara menjadi tidak baik. Akibatnya payudara menjadi bengkak sehingga ibu kesakitan, dan akhirnya produksi ASI memang betul menjadi kurang. Belum lagi akibat pemberian susu formula, masalah medis lain yang mungkin timbul adalah perubahan flora usus, terpapar antigen dan kemungkinan meningkatnya sensitivitas bayi terhadap susu formula (alergi) dan bayi kurang mendapat perlindungan kekebalan dari kolostrum yang keluar justru di hari hari pertama kelahiran. Bayi prematur akhir adalah bayi prematur yang lahir pada usia kehamilan 34-37 minggu [20]. Penentuan usia kehamilan didasarkan pada PMA (Post Menstrual Age) dan USG yang dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional.
Metode dan Hasil
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari perbedaan status antropometri (berat badan, panjang badan dan lingkar kepala) pada bayi prematur lanjut yang diberi ASI, susu formula bayi dan kombinasi ASI dan susu formula instan. Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Maret-Juni 2023. Subyek penelitian adalah bayi usia 6-12 bulan yang lahir pada usia kehamilan 34-<37 minggu yang datang ke poliklinik rawat inap dan rawat jalan anak di RSUD Dr. Soetomo dan dari populasi 106 bayi, diperoleh 70 sampel. Jenis penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif dilakukan melalui wawancara dengan orang tua mengenai usia, jenis kelamin, dan pilihan gizi utama yang diberikan pada usia 1, 3 dan 6 bulan menggunakan kuisioner. Setelah itu memeriksa data antropometri yang diperoleh dari buku masing-masing anak. Pada penelitian ini didapatkan 70 sampel dari populasi 106 bayi prematur akhir yang datang ke instalasi rawat jalan dan rawat inap anak RSUD dr. Soetomo pada bulan Maret sampai dengan Juni 2023. Bayi yang lahir pada usia kehamilan 36-<37 minggu memiliki persentase tertinggi (41,4%). Delnord dkk. pada tahun 2019 yang meneliti epidemiologi kelahiran prematur akhir di beberapa negara di benua Eropa, Asia, dan Amerika, menyatakan bahwa prevalensi kelahiran prematur akhir pada usia kehamilan 36-37 minggu di semua negara yang diteliti paling sering terjadi pada kelahiran pada usia kehamilan 34-<37 minggu.Terdapat 19 bayi yang lahir dengan kodisi pendek, tinggi badan sebesar (24,4%) sedangkan lebih banyak bayi yang lahir dengan tinggi badan normal yakin sebanyak 59 bayi (75,6%). Analisa pengukuran berat badan pada umur 1 bulan sampai dengan 3 bulan tidak dapat dilakukan karena penggunaan grafik pertumbuhan yang berbeda-beda. Selanjutnya berat badan bayi prematur akhir usia 1, 3 dan 6 bulan di RSUD Dr. Soetomo yang diberi ASI, susu formula dan kombinasi keduanya tidak memengaruhi berat badan bayi. Bayi prematur dapat menyebabkan berat badannya kembali normal pada bulan pertama kehidupannya karena terjadi percepatan peningkatan komposisi massa tubuh bebas lemak. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, bayi prematur dapat mengalami pertambahan berat badan pada tubuh normal 15 g/kg/hari. Sementara itu, menurut ABM, pertambahan berat badan bayi prematur akhir dapat mencapai 20 g/hari. Menurut penelitian Santos dkk. tahun 2009, prematur akhir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya gagal tumbuh dan masalah gizi saat anak berusia lebih dari satu tahun
Penutupan/Simpulan
Hasil penelitian ini sebagian besar tidak signifikan. Terdapat kelemahan dalam penelitian ini yakni penelitian dilakukan di rumah sakit tersier yang memiliki proporsi pasien dengan masalah medis lebih tinggi baik sebelum maupun sesudah kelahiran. Kemudian penelitian ini tidak menggunakan alat ukur yang baku yang biasanya dilakukan oleh masing-masing fasilitas kesehatan atau Pelayanan Kesehatan Primer dapat sangat subjektif selama pelaksanaan dan penafsiran hasil. Sebagai kesimpulan, tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala bayi prematur akhir yang diberi ASI, susu formula bayi, dan kombinasi keduanya pada usia 1, 3, dan 6 bulan.
Penulis: Dr. Martono Tri Utomo, dr., SpA(K)
Link: https://doi.org/10.48309/jmpcr.2024.451168.1182
Baca juga: Kandungan ASI dan Tantangan yang Dialami Ibu Menyusui di Masa Pandemi COVID-19





