COVID-19 merupakan penyakit mematikan yang telah menyebar sejak tahun 2020 dan telah menyebabkan banyak kematian. Pada awal, COVID-19 bermanifestasi sebagai sindrom pernapasan akut yang parah dan kemudian menunjukkan manifestasi yang beragam. Mulai 17 Juni 2021 hingga 22 Agustus 2021, dilaporkan lebih dari 10.000 kasus baru setiap hari di Indonesia dan rata-rata kasus harian mencapai 30.475 dalam periode waktu tertentu. World Health Organization (WHO) melaporkan hingga 25 Oktober 2023, terdapat 6.813.429 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dengan 161.918 kematian dan Jawa Timur sebagai provinsi terpadat kedua menjadi episentrum COVID-19.
Pandemi COVID-19 menimbulkan sejumlah kekhawatiran bagi paramedis. Untuk dapat menyelamatkan nyawa, penegakkan diagnosis, pelayanan rawat inap yang cepat, penilaian risiko, serta penggunaan sumber daya perawatan kritis yang efisien sangatlah penting. Selain itu, penilaian klinis dan penanda laboratorium atau biomarker, juga menjadi data tambahan yang dapat berdampak besar pada aspek perawatan pasien. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa biomarker imunologi dan inflamasi (prokalsitonin (PCT), interleukin-6 (IL-6), protein c-reaktif (CRP)) penting dalam perkembangan manifestasi keparahan COVID-19. Biomarker lain yang juga penting adalah terkait hematologi (jumlah limfosit, rasio neutrofil terhadap limfosit (NLR); jantung (ferritin, D-dimer, lebar distribusi sel darah merah, pita miokard kreatinin kinase (CKMB), mioglobin, troponin); hati (albumin, alanine transaminase (ALT), aspartate transaminase AST), bilirubin total); dan cedera paru-paru (Krebs von den Lungen-6).
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Universitas Airlangga melakukan penelitian untuk mengevaluasi potensi utilitas parameter darah lengkap/ complete blood count (BCC) sebagai prediktor mortalitas COVID-19. Penelitian tersebut juga diupayakan untuk menentukan kegunaan prediktif neutrofil terhadap NLR, prokalsitonin, feritin, IL-6, CRP, dan D-dimer. Hasil penelitian telah terpublikasi di Pharmacogn J, jurnal international terindeks Scopus Quartile 3 (Q3).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara karakteristik demografi dan tanda-tanda vital ketika masuk RS dengan parameter laboratorium. Dalam hal tekanan darah sistolik, denyut jantung, suhu, RR, dan SpO2, terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (kelompok selamat dan tidak selamat). Semua variabel laboratorium juga memiliki perbedaan signifikan antara kedua kelompok kecuali, hemoglobin. Rata-rata nilai nilai sel darah putih secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang tidak selamat. Parameter biomarker lainnya yang menujukkan signifikansi tinggi pada kelompok yang tidak selamat antara lain: rata-rata NLR; fungsi hati termasuk ALT dan AST; tes fungsi ginjal, Na, K, dan Cl; PCT, CRP, feritin, dan IL-6.
Selain melihat signifikansi dari maing – masing biomarker, peneliti juga melakukan analisis dan uji senstifitas serta spesifisitas dari masing – masing biomarker. Sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi ditemukan pada CRP, IL-6, dan NLR. Model logistik biner menjelaskan bahwa mortalitas pasien COVID-19 secara signifikan dipengaruhi oleh kadar CRP dan IL-6. Peningkatan kadar CRP dan IL-6 akan mengakibatkan risiko mortalitas yang lebih tinggi yaitu masing – masing sebesar 1.012 dan 1.007 kali lebih besar. Melalui hasil studi yang dilakukan ini, peneliti memberikan dan meningkatkan pengetahuan kita tentang dinamika penyakit dan memberikan informasi yang mendalam untuk mengelola dan mempersiapkan wabah di masa mendatang.
Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D.
Link: https://doi.org/10.5530/pj.2024.16.110
Baca juga: Neutrophil-To-Lymphocyte Ratio sebagai Biomarker Prognostik pada Penyakit Arteri Perifer





