Universitas Airlangga Official Website

Dukungan Kelompok Sebaya Berbasis Model Perawatan Kronis untuk Perawatan Pasien HIV

Dukungan Kelompok Sebaya Berbasis Model Perawatan Kronis untuk Perawatan Pasien HIV
Sumber: desasangeh.badungkab.go.id

Tingkat kepatuhan terhadap pengobatan antiretroviral (ARV) pada pasien HIV/AIDS menunjukkan bahwa kepatuhan ini belum mencapai 100%. Di Indonesia, kepatuhan terhadap ART masih menjadi masalah utama, hal ini dibuktikan dengan tingkat “Lost to Follow-Up” (LFU) yang masih relatif tinggi, yaitu 21,87%. Menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia, Jawa Timur menempati posisi pertama di Indonesia dengan insiden HIV tertinggi pada 2017, dengan sebanyak 214.819 orang yang memenuhi syarat untuk menerima ARV, namun hanya 180.843 orang yang mendapatkan ARV. Dari 180.843 orang yang telah menjalani terapi ARV, sebanyak 39.542 orang (21,87%) mengalami LFU, dan 3.501 orang (1,93%) berhenti mengonsumsi ARV. Penurunan kepatuhan ART ini membuat pasien rentan terhadap infeksi oportunistik dan memiliki kualitas hidup yang buruk akibat stigma dan keputusasaan.

Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan cross-sectional untuk mengembangkan model dukungan kelompok sebaya berbasis Chronic Care Model (CCM) pada ODHA. Penelitian dilakukan kepada pasien HIV berusia 17-55 tahun di Rumah Sakit Pendidikan dan Umum serta Komisi AIDS Indonesia yang berada di wilayah Jawa Timur, Indonesia. Variabel independen dalam penelitian ini meliputi faktor karakteristik individu, faktor sistem kesehatan, faktor sistem dukungan, faktor lingkungan, dan dukungan kelompok sebaya berbasis model perawatan kronis. Variabel dependen adalah peningkatan kemampuan perawatan pasien.

Berdasarkan hasil penelitian ini, model dukungan kelompok sebaya berbasis Chronic Care Model (CCM) menunjukkan bahwa semua indikator valid dan reliabel, serta variabel-variabel seperti karakteristik individu, sistem kesehatan, dukungan, dan lingkungan berpengaruh signifikan. Model ini mampu menjelaskan 80% efektivitas dukungan sebaya dan 40% peningkatan kemampuan pasien. Artinya, model ini cocok diterapkan di penelitian lain dan terbukti efektif dalam manajemen penyakit kronis. Namun, 20% dari dukungan sebaya dan 60% dari peningkatan kemampuan pasien belum sepenuhnya terjelaskan, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami pengaruh faktor lain seperti budaya, psikologis, atau sosial-ekonomi. Penelitian jangka panjang dan perbandingan antar sistem kesehatan juga dapat memperkuat hasil model ini.

Penulis: Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons)

Link: https://jkp.fkep.unpad.ac.id/index.php/jkp/article/view/2448

Baca juga: Faktor Sosiodemografis dan Perilaku Risiko HIV di Kalangan Perempuan Indonesia