Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Kerja di kalangan masyarakat Indonesia belum tercatat dengan baik. Jika dilihat angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju menunjukkan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Penjelasan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Penyakit akibat kerja disebabkan oleh dua faktor, yaitu lingkungan kerja dan hubungan kerja. Penyakit akibat kerja atau berhubungan dengan pekerjaan dapat disebabkan oleh pemajanan di lingkungan kerja.
Kulit adalah bagian tubuh manusia yang cukup sensitif terhadap berbagai macam penyakit. Dermatitis kontak merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan dan merupakan lebih dari 85% dari penyakit kulit akibat kerja. Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan karena bahan atau substansi yang menempel pada kulit dikenal dua jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang merupakan respon nonimunologi dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan oleh mekanisme imunologik spesifik. Keduanya dapat bersifat akut maupun kronis.
Penyebab munculnya dermatitis kontak iritan adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, detergen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu, lama kontak, kekerapan (terus menerus atau berselang), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeabel, gesekan dan trauma fisis, suhu dan kelembaban lingkungan.
Dermatitis dapat dialami oleh pekerja dari berbagai sektor antara lain petugas kesehatan, penata rambut, pemulung, petani, nelayan, pekerja industri manufaktur, pekerja percetakan, dan pekerja konstruksi. Dermatitis banyak dialami oleh pekerja dengan pekerjaan basah. Kriteria untuk pekerjaan basah yaitu tangan di lingkungan basah selama > 2 jam per hari, sering mencuci tangan (> 20 kali / hari), penggunaan desinfektan tangan 20 kali dalam sehari, dan penggunaan sarung tangan pelindung selama > 2 jam per hari atau ganti sarung tangan > 20 kali / hari.
Pekerjaan yang paling tinggi memiliki risiko mengalami dermatitis adalah petugas kesehatan dan pekerjaan yang memiliki lingkungan kerja lembab seperti pemulung, nelayan, petani, dan petugas kebersihan. Tenaga kesehatan mengalami dermatitis kontak baik iritan maupun alergi. Petugas kesehatan dapat mengalami dermatitis akibat kontak dengan antiseptik dan desinfektan. Beberapa bahan yang dapat menyebabkan dermatitis pada petugas kesehatan antara lain Thiuram mix, carba mix, zinc diethyldithiocarbamate, glutaraldehyde, cocamide dea, quaternium-15, benzalkonium, colophonium, dan acrylates. Selain itu, kondisi pandemi COVID-19 juga membuat tenaga kesehatan mencuci tangan lebih sering. Beberapa tenaga Kesehatan mengalami dermatitis akibat iritasi maupun alergi dari bahan handsanitizer dan cairan pencuci tangan.
Dermatitis dapat dialami oleh pemulung, nelayan, petani, dan petugas kebersihan. Keempat pekerjaan tersebut memiliki lingkungan kerja yang hampir sama yaitu bekerja di tempat yang lembab. Kondisi tempat kerja yang lembab dapat meningkatkan risiko pekerja mengalami dermatitis. Tempat kerja yang lembab memudahkan bahan kontaminan menempel pada kulit pekerja sehingga menimbulkan iritasi atau alergi. Bahan yang sering menyebabkan dermatitis pada petani antara lain nikel, kromium, kobalt, malathion, propiconazole, mercaptobenzothiazole, formaldehyde, dan thiuram mix. Pada petugas kebersihan, beberapa bahan kimia yang dapat menyebabkan dermatitis antara lain benzalkonium chloride, glyoxal, glutaraldehyde, chloramine, thiuram mix, zinc diethyldithiocarbamate (ZDEC), mercaptobenzothiazole, dan formaldehyde.
Selain itu, penata rambut juga berpotensi untuk terkena penyakit dermatitis. Penata rambut sering kali terkena cairan kimia dan juga bekerja pada lingkungan kerja yang basah dan lembab. Bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi maupun alergi pada penata rambut antara lain p-phenylenediamine, thiuram mix, dan N-isopropyl-N’-phenylp-phenylenediamine. Bahan kimia tersebut terdapat pada pewarna rambut, produk pemutih rambut, larutan pengriting rambut, besi, dan bahan kimia pada karet.
Dermatitis yang dialami oleh pekerja sebagian besar adalah dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Pekerja mengalami dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak iritan merupakan gangguan kulit yang terasa nyeri atau terbakar karena adanya gangguan pada lapisan kulit. Dermatitis kontak iritan lebih mudah dialami oleh semua orang. Akan tetapi dermatitis kontak iritan akan timbul apabila pekerja terpapar bahan kimia atau bahan yang menyebabkan iritasi dalam konsentrasi yang tinggi.
Dermatitis kontak alergi adalah gangguan kulit yang terasa gatal disertai dengan ruam pada bagian tubuh tertentu karena sensitif terhadap suatu bahan tertentu. Tidak semua orang dapat mengalami dermatitis kontak alergi. Hanya sebagian kecil saja yang dapat mengalami dermatitis kontak alergi. Hal ini karena dermatitis jenis ini akan dialami oleh pekerja yang mengalami hipersensitifitas pada bahan tertentu. Berbeda dengan dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergi dapat timbul hanya dengan paparan berkonsentrasi rendah.
Deterjen, surfaktan, desinfektan, dan antiseptik adalah penyebab umum dermatitis akibat kerja baik dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Benzalkoniumchloride, asam, dan alkali merupakan bahan kimia yang dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan. Selain itu iritasi juga dapat disebabkan karena peralatan seperti perkakas logam, kayu, dan fiberglass.
Risiko terjadinya dermatitis pada pekerja dapat dikurangi dengan penggunaan APD. Dermatitis yang dialami oleh pekerja disebabkan karena pekerja tidak menggunakan APD dengan baik dan lengkap. Pekerja yang tidak selalu menggunakan APD memiliki resiko 6,240 kali lebih besar untuk terkena dermatitis dibanding yang selalu menggunakan APD. APD mempunyai manfaat untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuh pekerja dari potensi bahaya paparan dari luar di tempat kerja. APD dapat mencegah keparahan kondisi kulit karena keadaan lingkungan kerja yang lembab, sehingga dapat mencegah terjadinya dermatitis kontak.
Pada beberapa kondisi, penggunaan APD dapat menyebabkan pekerja mengalami dermatitis. Penggunaan APD dapat menyebabkan terjadinya dermatitis. Petugas Kesehatan yang menggunakan APD selama 3,15 jam lebih berisiko terkena dermatitis dibandingkan dengan petugas Kesehatan yang hanya menggunakan APD selama 1,97 jam. Hal ini dikarenakan beberapa APD khususnya sarung tangan mengandung bahan-bahan yang dapat menyebabkan alergi maupun iritasi. Bahan-bahan yang terkandung dalam sarung tangan dan sering menyebabkan dermatitis antara lain carba mix, thiuram mix, tetraethylthiuram disulfide, dan 1,3-diphenylguanidine.
Kejadian dermatitis pada pekerja tidak hanya berkaitan dengan penggunaan APD. Kejadian dermatitis pada pekerja tidak ada hubungannya dengan penggunaan APD. Frekuensi paparan dan personal hygiene yang lebih berpengaruh pada kejadian dermatitis. Paparan langsung dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan lesi pada daerah yang kontak dengan lingkungan dan alat kerja. Kontak langsung dengan peralatan kerja tanpa menggunakan alat pelindung diri dapat menimbulkan abrasi yang menyebabkan kulit menjadi terkikis dan bahan iritan semakin mudah untuk menyebabkan iritasi pada kulit. Lesi yang terjadi dapat merusak lapisan kulit pekerja, sehingga dapat mempermudah masuknya bahan iritan maupun alergen penyebab dermatitis kontak.
Personal hygiene sangat berhubungan langsung dengan terjadinya penyakit dermatitis. Kebiasaan mencuci tangan merupakan salah satu hal yang menjadi penilaian terkait personal hygiene. Kebiasaan mencuci tangan yang tidak benar akan dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya dermatitis. Kebiasaan mencuci tangan kurang bersih akan menyebabkan masih terdapatnya sisa bahan kimia yang menempel pada permukaan kulit. Pemilihan jenis sabun cuci tangan juga dapat berpengaruh terhadap kebersihan sekaligus kesehatan kulit. Usaha mengeringkan tangan setelah dicuci juga dapat berperan dalam mencegah semakin parahnya kondisi kulit karena tangan yang lembab.
Judul Artikel Scopus: Dermatitis among Workers and Its Relation with Personal Protective Equipment
Link: https: https://e-journal.unair.ac.id/IJOSH/article/view/46159





