Universitas Airlangga Official Website

Pengetahuan dan Penggunaan Suplemen Tambah Darah untuk Mengatasi Anemia pada Remaja

Pengetahuan dan Penggunaan Suplemen Tambah Darah untuk Mengatasi Anemia pada Remaja
Sumber: Hermina Hospital

Sustainable Development Goals atau SDGs merupakan program pembangunan berskala dunia yang bersifat universal. Perbaikan gizi merupakan tujuan kedua dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) diantaranya yaitu dengan memutus rantai kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memberikan akses untuk perolehan nutrisi yang lebih mempuni dan meningkatkan pertanian berkelanjutan. Tujuan 2 menyebutkan target pada tahun 2030 yaitu menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi, termasuk pada tahun 2025 mencapai target yang disepakati secara internasional untuk mengurangi jumlah total anak pendek dan kurus (stunting) di bawah usia 5 tahun sebesar 40% dan memenuhi kebutuhan gizi remaja perempuan, ibu hamil dan menyusui, serta manula. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting di Indonesia turun menjadi kurang dari 14% pada tahun 2024. Dengan adanya fenomena ini, kesehatan ibu harus sangat diperhatikan khususnya pada saat masih remaja. Seperti Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada masa kehamilan yang disebabkan karena saat masa remaja kurangnya asupan energi zat gizi seperti karbohidrat, protein, dan lemak serta zat gizi mikro seperti vitamin A, vitamin D, asam folat, zat besi, seng, kalsium, dan lain-lain. Pada masa remaja, terjadi fase pertumbuhan dan perkembangan yang memerlukan asupan zat gizi makro maupun mikro yang banyak. Masalah gizi yang biasa dijumpai remaja antara lain anemia, obesitas dan kekurangan energi kronis. Status gizi pada remaja merupakan gambaran dari awal terjadinya kekurangan gizi pada anak usia dini yang dapat menimbulkan terjadinya stunting.

Banyak penyebab terjadinya stunting seperti defisiensi mikronutrien, yang dapat mempengaruhi status gizi paling banyak ditemui adalah kekurangan zat besi (Fe). World Health Organization (WHO) mengatakan anemia merupakan salah satu dari 10 masalah kesehatan terbesar pada abad modern ini, yang berpotensi tinggi mengalami anemia adalah wanita usia subur atau usia produktif, ibu hamil, dan remaja. Berdasarkan dari data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2018, kejadian anemia di Jawa Timur untuk remaja putri sebesar 50-60%. Konsumsi mikronutrien dapat menjadi salah satu solusi utama untuk menangani kondisi ini. Salah satu usaha pemerintah untuk mengatasi anemia adalah pemberian Tablet Tambah darah (TTD) yang dibagikan pada pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA). Pembagian tersebut seringkali tanpa disertai informsi yang memadahi, sehingga dilakukan penelitian tentang pengetahuan dan penggunaan suplemen tambah darah pada remaja putri di Surabaya.

Penelitian ini menggunakan desain penelotian deskriptif cross-sectional yaitu seluruh variabel diobservasi pada waktu yang sama. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling dengan responden remaja putri yang berumur minimal 17 tahun, belum menikah dan punya anak, dan bersedia untuk menjadi responden. Metode pengambilan data dalam penelitian ini dengan memberikan kuesioner secara langsung kepada remaja putri di beberapa SMA di Surabaya

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan responden dengan kategori baik sebanyak 16 responden (7.8%), kategori cukup sebanyak 92 responden (44.7%), dan kategori kurang sebanyak 98 responden (47.5%). Dari berbagai indikator pada variabel pengetahuan, didapatkan hasil bahwa masih banyak responden yang menjawab salah mengenai dampak negatif anemia, pengertian suplemen tambah darah, dosis dan aturan pakai suplemen tambah darah, serta efek samping suplemen tambah darah. Sementara itu, pada riwayat penggunaan suplemen tambah darah oleh responden yaitu sebesar 127 responden (61.7%) pernah atau sedang mengonsumsi suplemen tambah darah dan sebanyak 79 responden (38.3%) tidak pernah mengonsumsinya. Mayoritas responden mengonsumsi TTD yaitu sebanyak 90 responden (70.9%) dan mayoritas dari sekolah namun terdapat juga yang membelinya sendiri di apotek. Selain TTD, suplemen tambah darah yang banyak dikonsumsi adalah sangobion yaitu sebanyak 19 responden (15.0%). Namun, masih terdapat responden yang walau pernah mendapatkan suplemen tambah darah tapi tidak mengonsumsinya dengan berbagai alasan seperti lupa, tidak menyukai rasa dan baunya, tidak mengetahui pentingnya suplemen tambah darah bagi remaja putri, takut akan efek samping yang akan ditimbulkan oleh suplemen tambah darah, dll.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar responden mempunyai pengetahuan yang buruk mengenai suplemen tambah darah dan anemia yang dapat memengaruhi kepatuhan mereka. Walaupun begitu mayoritas responden pernah atau sedang mengonsumsi suplemen tambah darah dengan mendapatkannya dari sekolah yang merupakan program dari pemerintah yaitu Tablet Tambah Darah (TTD). Gejala anemia yang paling banyak dirasakan oleh responden yaitu sakit kepala, dan tidak sedikit responden yang mengalami lebih dari satu gejala.

Penulis: Ana Yuda, S.Si., Apt., M.Farm

Link: https://e-journal.unair.ac.id/AMNT/article/view/52969

Baca juga: Pemanfaatan Komik Anemia Sebagai Media Pembelajaran