Universitas Airlangga Official Website

Dampak Sosial dan Penanganan Pasca Bencana di Daerah Rawan Bencana di Jawa Timur, Indonesia

Dampak Sosial dan Penanganan Pasca Bencana di Daerah Rawan Bencana di Jawa Timur, Indonesia
Sumber: PANTURA7.com

Bencana di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik yang bersifat alamiah maupun yang disebabkan oleh manusia (Gan et al. 2021; Pribadi et al. 2021). Faktor alamiah tersebut antara lain adalah letak negara ini di Cincin Api Pasifik, suatu wilayah yang ditandai oleh aktivitas vulkanik dan seismik yang tinggi. Indonesia terletak di titik pertemuan beberapa lempeng tektonik, sehingga sangat rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi (Rindrasih et al. 2019). Selain itu, negara ini rentan terhadap peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan, yang dapat diperburuk oleh perubahan iklim. Faktor buatan manusia yang berkontribusi terhadap bencana di Indonesia (Harrowell & Özerdem 2019) meliputi infrastruktur yang buruk, perencanaan bangunan yang tidak memadai, dan urbanisasi di wilayah berisiko tinggi (Regita & Hadi 2022).

Jawa Timur beriklim tropis yang mengenal dua pergantian musim, yaitu musim hujan (Oktober–April) dan musim kemarau (Mei– September). Rata-rata suhu minimum 15,2 °C dan maksimum 34,2 °C. Lebih lanjut, menurut sistem klasifikasi Schmidt dan Ferguson, sebagian besar wilayah (52%) beriklim tipe D. Kelembaban udara berkisar antara 40% hingga 97%. Rata-rata curah hujan adalah 1500 mm/tahun hingga 2700 mm/tahun. Dari segi topografi, Provinsi Jawa Timur memiliki 48 gunung, termasuk lima gunung berapi yang masih aktif, yaitu Gunung Semeru, Gunung Kelud, Gunung Bromo, Gunung Raung, dan Gunung Lamongan. Di Jawa Timur, banjir akibat luapan air Sungai Bengawan Solo telah terjadi sedikitnya dua kali dalam 3 bulan terakhir. Sungai terpanjang di Pulau Jawa ini membentang sekitar 600 km. Sungai ini terbagi menjadi tiga sub DAS utama: Sub DASBengawan Solo dengan luas 6072 km2; DAS Kali Madiun sepanjang 3.755 km2dan Sub DAS Bengawan Solo Hilir yang panjangnya 6273 km2Air dari Sub DAS Solo Hulu dan Sub DAS Kali Madiun bertemu di Ngawi sebelum daerah mengalir ke hilir.

Daerah rawan bencana di Jawa Timur yakni Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Bojonegoro memiliki keberagaman penduduk dan menjadi salah satu daerah dengan frekuensi bencana tinggi di Jawa Timur.. Strategi penanggulangan bencana yang dikembangkan pada umumnya bersifat adaptif dan bervariasi sesuai dengan situasi di lapangan. Tahap-tahap tersebut adalah:

• Pencegahan, di mana upaya harus difokuskan pada pengurangan kemungkinan kerusakan dan meminimalkan jumlah korban;

• Tanggap darurat, yang melibatkan operasi pencarian dan penyelamatan serta penyediaan bantuan darurat (seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, obat-obatan, dan lainnya);

• Rehabilitasi, yang meliputi bantuan fisik dan nonfisik yang bertujuan untuk memberdayakan dan memulihkan kehidupan korban bencana; dan

• Rekonstruksi, yang meliputi pembangunan kembali infrastruktur dan fasilitas umum untuk membantu korban bencana kembali ke keadaan normal (UUNo. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana)

Secara umum, bencana memiliki dampak sebagai berikut:

• kerusakan pada pola standar kehidupan, yang biasanya parah dan selalu memiliki dampak mulai dari tingkat keparahan rendah hingga serius;

• Kerugian terhadap manusia, yang terwujud dalam bentuk kematian, kerugian, cedera, cacat, kesengsaraan, atau akibat negatif lainnya;

• gangguan pada sistem pemerintahan, komunikasi, transportasi dan berbagai layanan publik lainnya, terutama akses terhadap air minum, listrik dan telepon; dan

• kebutuhan masyarakat yang tiba-tiba akan tempat berlindung, makanan, pakaian, bantuan kesehatan, air bersih, dan layanan sosial

Provinsi Jawa Timur sering kali berdampak pada banyak daerah, yang diakibatkan oleh faktor alam dan manusia. Bencana-bencana ini menyebabkan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan infrastruktur dan gangguan terhadap mata pencaharian masyarakat. Namun, penting untuk menyadari bahwa korban bencana menunjukkan pola dan mekanisme yang berbeda-beda dalam mengatasi kesulitan. Misalnya, mekanisme manajemen bencana tradisional bergantung pada dukungan dan bantuan dari kerabat atau orang lain yang dapat didekati untuk meminta bantuan. Akibatnya, masyarakat rentan yang terkena bencana alam merasa sulit untuk pulih secara mandiri, karena hampir semua energi dan aset produktif mereka terkena dampak yang parah. Ketika rumah mereka rusak, perabotan hancur, pekerjaan hilang atau tanah pertanian hancur, mereka membutuhkan bantuan dari berbagai sumber, termasuk pemerintah, kerabat, pemangku kepentingan dan masyarakat peduli lainnya yang berkomitmen untuk manajemen bencana. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menangani korban bencana dan memberikan mereka perlindungan sosial yang terkait dengan kegiatan mental, ekonomi, dan sosial serta layanan kesehatan.

Nama: Dr. Karnaji, S.Sos., M.Si.

Link: https://jamba.org.za/index.php/jamba/article/view/1747/3285

Baca juga: Pemetaan Kerentanan Terhadap Potensi Kejadian Krisis di Kota Surabaya