Populasi lansia global terus mengalami peningkatan signifikan. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lansia didefinisikan sebagai individu berusia 60 tahun ke atas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pada tahun 2019 terdapat 1 miliar lansia di dunia, dan jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 1,4 miliar pada tahun 2030, yang berarti 1 dari 6 orang akan berusia 60 tahun atau lebih. Tren ini terutama meningkat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Indonesia, dengan populasi lebih dari 200 juta jiwa, turut mengalami lonjakan jumlah lansia. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa jumlah lansia meningkat dari 18 juta jiwa (7,56%) pada tahun 2010 menjadi 26,82 juta jiwa (9,92%) pada tahun 2020. Provinsi Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan populasi lansia tertinggi, mencapai 13,48% menurut survei Badan Pusat Statistik. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa suatu wilayah dikategorikan sebagai populasi lanjut usia jika proporsi lansianya lebih dari 10%, sehingga Jawa Timur telah memasuki tahap ini.
Kesehatan lansia, terutama kesehatan mulut, menjadi isu yang sangat penting. WHO mendefinisikan kesehatan sebagai “keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial, bukan sekadar ketiadaan penyakit atau kelemahan.” Kesehatan mulut memiliki kaitan erat dengan kesehatan secara umum dan dianggap sebagai indikator penting kesejahteraan seseorang. Salah satu masalah utama dalam kesehatan mulut adalah karies gigi.
Karies gigi, atau proses demineralisasi gigi yang berlangsung lama akibat ketidakseimbangan metabolisme biofilm gigi, menjadi salah satu beban kesehatan terbesar di dunia. Masalah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perilaku, biologis, dan lingkungan. Pada lansia, prevalensi karies yang tidak diobati mencapai lebih dari 50%. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mulut tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan.
Pandemi COVID-19 yang dimulai pada Maret 2020 membawa perubahan besar pada rutinitas kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah seperti pembatasan pergerakan, penutupan bisnis, dan penghentian sementara layanan kesehatan non-darurat berdampak luas pada masyarakat. Lansia menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif pandemi ini, termasuk dalam hal kesehatan mulut.
Mengidentifikasi dampak risiko karies pada kualitas hidup lansia selama pandemi menjadi sangat penting. Hal ini tidak hanya membantu memahami kebutuhan kesehatan mulut lansia, tetapi juga memberikan panduan bagi pembuat kebijakan untuk merancang intervensi yang tepat. Dalam konteks Indonesia, di mana jumlah populasi lansia terus meningkat, penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi.
Penelitian kolaborasi yang dilakukan oleh dosen Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga ,Nadia Kartikasari, drg., M.Kes, Ph.D bersama dengan Dr. Zahreni Hamzah, drg., M.S bersama tim dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas, Jember mengevaluasi pengaruh risiko karies terhadap kualitas hidup terkait kesehatan mulut pada lansia dan kelompok usia menengah selama pandemi COVID-19.
Selama pandemi COVID-19 di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara risiko karies dan kualitas hidup terkait kesehatan mulut (Oral Health-Related Quality of Life atau OHRQoL) pada populasi lansia. Sementara itu, pada kelompok usia menengah, ditemukan adanya korelasi yang rendah antara risiko karies dan OHRQoL.
Pandemi membawa perubahan besar dalam pola hidup masyarakat, termasuk terbatasnya akses ke layanan kesehatan gigi dan mulut. Meski demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko karies tidak secara langsung memengaruhi persepsi lansia terhadap kualitas hidup mereka. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk prioritas kesehatan secara keseluruhan yang mungkin lebih menjadi perhatian di usia lanjut dibandingkan masalah kesehatan mulut. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting untuk pengembangan strategi kesehatan mulut yang lebih terarah dan berbasis bukti, terutama dalam menghadapi tantangan pandemi.
Penulis: Nadia Kartikasari, drg., M.Kes.
Baca juga: Hipertensi pada Lansia: Tantangan dan Cara Mengatasinya





