Universitas Airlangga Official Website

Kelebihan Cairan Merupakan Prediktor Kematian Pasien Kritis

Kelebihan Cairan Merupakan Prediktor Kematian Pasien Kritis
Sumber: Alodokter

Keseimbangan cairan merupakan salah satu parameter penting yang harus dipantau di ruang gawat darurat, kamar operasi, serta unit perawatan intensif atau intensive care unit (ICU). Terapi cairan yang berlebihan terbukti dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Kelebihan cairan sering kali terjadi saat pemberian cairan dilakukan tanpa pemantauan yang tepat, terutama pada pasien kritis dengan gangguan hemodinamik dan/atau kondisi kritis yang disertai kebocoran kapiler.

Cairan tubuh manusia selain terdiri dari air juga mengandung zat penting lain seperti elektrolit, protein, dan berbagai metabolit secara fisiologis diatur oleh tubuh manusia untuk menjaga homeostasis. Dua per tiga berat badan manusia terdiri dari cairan, yang terbagi ke dalam ruang intraseluler (2/3) dan ekstraseluler (1/3). Cairan ekstraseluler terbagi lagi menjadi cairan interstisial dan intravaskular. Pergerakan cairan tubuh dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik dan onkotik, sesuai Prinsip Starling. Osmolalitas plasma diatur oleh hipotalamus melalui pelepasan ADH, sedangkan volume plasma dipengaruhi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAA). Namun dalam perkembangan selanjutnya, prinsip Starling tersebut telah direvisi. Para peneliti berhasil mengidentifikasi adanya regulasi mikrovaskular dan menjelaskan peran penting lapisan glikokaliks endotel dalam pengaturan volume plasma dan keseimbangan cairan dalam kompertemen tubuh. Prinsip Starling yang direvisi menyatakan bahwa mikrovaskular permeabel terhadap makromolekul, dan perpindahan cairan tidak sepenuhnya berhenti saat keseimbangan tekanan tercapai. Stabilitas filtrasi cairan dipengaruhi tekanan dan perfusi, namun pengaturan volume plasma lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan onkotik di mikrovaskular.

Lapisan glikokaliks endotelial yang terdiri dari proteoglikan, glikoprotein, dan glikosminoglikan (GAG) mempunyai peran penting dalam menjaga homeostasis. Glikokaliks bertindak sebagai membran semipermeabel untuk albumin dan protein plasma. Kerusakan glikokaliks sering ditemukan pada sepsis, diabetes maupun kondisi inflamasi berat dapat menyebabkan edema akibat penipisan lapisan ini dan kerusakan penghalang endotel terhadap albumin.

Tatalaksana cairan intravena yang rasional pada pasien kritis sangat penting untuk mempertahankan homeostasis, meningkatkan perfusi, dan menjamin kecukupan oksigenasi jaringan. Tatalaksana cairan pada syok seharusnya menganut prinsip “empat D”, yaitu drug (jenis cairan), dosing (dosis), duration (durasi), dan de-escalation (penghentian bertahap). Sedangkan tahapan tatalaksana cairan pada pasien kritis dibagi menjadi empat fase yaitu salvage, optimization, stabilization, dan de-escalation. Kristaloid dan koloid harus digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi pasien. Komplikasi yang dapat terjadi akibat tatalaksana cairan yang tidak tepat meliputi kelebihan cairan, asidosis metabolik, edema, atau gangguan fungsi organ.

Pemantauan ketat dan pemahaman yang baik tentang patofisiologi perpindahan cairan dapat mengurangi risiko tersebut. Pencatatan keseimbangan cairan harian yang teliti sangat penting pada perawatan pasien kritis. Ketidaktepatan dalam pemantauan dapat menyebabkan komplikasi seperti kelebihan cairan atau mungkin justru terjadi defisit cairan. Kelebihan cairan, yang ditandai dengan edema dan hipervolemia, dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi organ, seperti edema paru dan gangguan oksigenasi. Penurunan albumin plasma dan kerusakan glikokaliks endotelial turut memperburuk kondisi ini. Keseimbangan cairan positif (ekses) dikaitkan dengan peningkatan mortalitas pada pasien sepsis. Pemantauan yang tepat dan pengelolaan cairan berbasis fisiologi dapat mengurangi komplikasi, memperbaiki fungsi organ, dan mengurangi kebutuhan diuretik pada pasien kritis.

Sebagai kesimpulan, menjaga keseimbangan cairan pada pasien kritis harus dilakukan dengan baik agar stabilitas hemodinamik terjaga dan menghasilkan luaran klinis yang lebih baik. Pencatatan keseimbangan cairan harian sangat penting karena dapat digunakan untuk menentukan apakah masih perlu resusitasi cairan tambahan, atau justru diperlukan penggunaan diuretik untuk mengurangi kelebihan cairan. Banyak bukti menyatakan bahwa keseimbangan cairan positif atau kelebihan cairan dapat meningkatkan risiko kematian.

Penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara keseimbangan cairan positif dan peningkatan mortalitas mungkin tetap diperlukan untuk memberikan pemahaman lebih baik tentang bahaya yang dapat ditimbulkan kelebihan cairan pada pasien kritis.

Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)

Link: https://www.apicareonline.com/index.php/APIC/article/view/2474

Baca juga: Pengaruh Pengaturan Ventilator terhadap Biomarker Kerusakan Paru pada Ventilasi Satu Paru