Universitas Airlangga Official Website

Pengaruh Pengaturan Ventilator terhadap Biomarker Kerusakan Paru pada Ventilasi Satu Paru

Pengaruh Pengaturan Ventilator terhadap Biomarker Kerusakan Paru pada Ventilasi Satu Paru
Pengaruh Pengaturan Ventilator terhadap Biomarker Kerusakan Paru pada Ventilasi Satu Paru

One-lung ventilation (OLV) adalah teknik yang digunakan untuk memfasilitasi prosedur bedah yang optimal selama operasi pada rongga dada. Mode ventilasi yang paling sering digunakan selama OLV adalah ventilasi berbasis volume (volume-controlled ventilation) dan ventilasi berbasis tekanan (pressure-controlled ventilation). Mode volume-controlled ventilation memastikan volume ventilasi yang stabil dan presisi, tetapi menyebabkan tekanan puncak yang lebih tinggi sehingga berpotensi menyebabkan barotrauma dan distribusi gas yang tidak merata. Di sisi lain, pressure-controlled ventilation berisiko menyebabkan cedera paru akibat gaya tarik pada paru-paru dan alveolus. Pemilihan mode terbaik untuk OLVmasih menjadi perdebatan.

Penurunan volume paru yang signifikan dapat terjadi saat OLV dan ada saat bersamaan terjadi penurunan compliance paru akibat posisi lateral decubitus dan pirau intrapulmonal. Kondisi tersebut dapat meningkatkan cedera paru yang diinduksi ventilator (ventilator-induced lung injury) pada paru bagian bawah (dependent lung). Biomarker cedera paru akut merupakan penanda penting untuk menegakkan diagnosis, stratifikasi risiko/prediksi, evaluas terapi, dan penyesuaian terapi yang ditargetkan. Penelitian untuk mengevaluasi keamanan prosedur ventilasi yang telah digunakan saat ini menjadi hal yang penting untuk menjamin kualitas pelayanan terbaik bagi pasien.

Studi observasional prospektif yang dilakukan di ruang operasi bedah toraks RSUD Dr. Soetomo Surabaya melibatkan pasien berusia ≥ 18 tahun yang menjalani OLV selama minimal 2 jam dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (PS ASA) I-III. Total subyek penelitan yang direkrut adalah 38 orang, dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan mode ventilasi yang digunakan, yaitu volume-controlled ventilation dan pressure-controlled ventilation. Teknik anestesi dilakukan telah ditetapkan sesuai protokol yang digunakan di RSUD Dr Soetomo. Lung protective ventilation diterapkan dengan volume tidal 6 ml/kg berat badan ideal, PEEP 5-10 cmH2O, dan rasio I:E 1:1,5 hingga 1:2. Analisis data menggunakan SPSS 24.0 dengan uji statistik ANOVA dan Friedman untuk perbandingan biomarker, serta uji korelasi Pearson atau Spearman berdasarkan distribusi data. Penelitian ini mendapatkan persetujuan etik dan menggunakan protokol yang telah disetujui untuk memastikan validitas hasil.

Mayoritas subjek penelitian adalah laki-laki (65,8%), sesuai dengan temuan studi observasional di Prancis yang menunjukkan jumlah pasien OLV laki-laki lebih besar dibanding perempuan (86,7%). Penanganan nyeri pascaoperasi yang paling umum adalah blok saraf perifer menggunakan metode serratus anterior plane block, yang penting untuk mencegah peningkatan mediator inflamasi akibat nyeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat KL-6 dan CRP berbeda secara signifikan pada kelompok pressure-controlled ventilation dan volume-controlled ventilation di setiap titik pengukuran, dan cenderung meningkat dari sebelum OLV hingga 24 jam setelah operasi. Kadar KL-6 lebih rendah pada kelompok volume-controlled ventilation, menjelaskan bahwa pengaruh mode ventilasi tersebut terhadap permeabilitas alveolus-kapiler lebih sedikit. Sebaliknya, tingkat CRP lebih rendah pada kelompok pressure-controlled ventilation, mencerminkan inflamasi sistemik yang lebih sedikit dibandingkan dengan volume-controlled ventilation.

Durasi OLV ternyata merupakan salah satu faktor yang memengaruhi respons inflamasi paru. Durasi OLVyang lebih lama berhubungan dengan peningkatan biomarker inflamasi. Studi ini juga menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara perubahan kadar KL-6 dan CRP dengan perburukan pertukaran gas yang diukur dengan P/F ratio. Hasil tersebut menjelaskan bahwa walaupun penanda kerusakan paru pada mode lebih tinggi dari mode yang lain, namun secara klinis tidak terjadi masalah yang serius. Hal ini mungkin disebabkan oleh penerapan strategi lung protective ventilation yang digunakan selama OLV pada kedua kelompok. Meskipun pressure-controlled ventilation menghasilkan tekanan jalan napas puncak (Ppeak) yang lebih rendah dibandingkan volume-controlled ventilation, namun tingkat KL-6 justru lebih tinggi pada kelompok tersebut. Hal ini mungkin disebabkan karena baseline KL-6 yang lebih tinggi pada kelompok tersebut. Tekanan jalan napas yang tinggi, terutama pada mode volume-controlled ventilation yang tidak menerapkan lung protective ventilation merupakan faktor risiko terjadinya VILI. Namun demikia, gaya tarik pada alveolus yang dihasilkan penggunaan mode pressure-controlled ventilation juga berpotensi menyebabkan trauma paru.

Korelasi yang signifikan antara parameter respirasi seperti tekanan jalan napas, PEEP, dan driving pressure dengan kadar CRP dan rasio P/F tidak ditemukan dalam penelitian ini. Hal ini mengindikasikan bahwa respons inflamasi dipengaruhi oleh faktor lain, seperti durasi operasi, metode bedah, dan manipulasi jaringan selama operasi. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa mode pressure-controlled ventilation tidak meningkatkan oksigenasi secara signifikan dibandingkan volume-controlled ventilation dan hal ini sesuai dengan temuan studi lain. Namun demikian, mode pressure-controlled ventilation menghasilkan tekanan jalan napas yang lebih rendah sehingga mengurangi risiko barotrauma.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara tingkat KL-6 dan CRP dengan mode ventilasi (pressure-controlled ventilation atau volume-controlled ventilation) selama prosedur torakotomi dengan OLV. Walaupun terdapat perbedaan kadar KL-6 dan CRP antara kedua mode ventilasi, namun durasi OLV menjadi faktor penting yang memengaruhi respons inflamasi paru. Studi ini menyoroti pentingnya pendekatan individual dalam manajemen OLV dan penerapan lung protective ventilation untuk meminimalkan komplikasi.

Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)

Link: https://www.phcogj.com/article/2273

Baca juga: Perubahan yang Terjadi Saat Reaksi ‘Anaphylacitis Shock’ pada Organ Paru