Universitas Airlangga Official Website

Mengubah Paradigma Kelahiran: Antara Teknokrasi dan Kebutuhan Ibu

Ilustrasi proses persalinan. (Sumber: Beritabanten.com)
Ilustrasi proses persalinan. (Sumber: Beritabanten.com)

Setiap ibu memiliki pengalaman melahirkan yang unik, yang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk filosofi kelahiran dan tempat persalinan. Di Indonesia, sistem kesehatan yang berbasis rujukan telah menciptakan kecenderungan kelahiran yang lebih teknokratis, di mana tenaga medis memiliki peran dominan dalam proses persalinan, sering kali mengurangi peran bidan dalam mendukung kelahiran alami.

Kelahiran: Proses Alami atau Medikal?

Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Midwifery menyoroti bahwa banyak perempuan di Indonesia masih melihat persalinan sebagai masalah medis yang membutuhkan campur tangan tenaga kesehatan. Hal ini tidak terlepas dari narasi yang berkembang bahwa persalinan harus dilakukan di fasilitas kesehatan demi keselamatan ibu dan bayi. Paradigma ini diperkuat oleh kebijakan sistem rujukan yang mengarahkan ibu dengan risiko tertentu ke rumah sakit, sering kali tanpa mempertimbangkan keinginan ibu untuk melahirkan secara alami.

Namun, dalam pengalaman persalinan, tidak semua ibu merasa nyaman dengan sistem ini. Ada perempuan yang menginginkan kelahiran alami dengan pendampingan bidan di pusat kesehatan masyarakat atau praktik mandiri, tetapi terbatas oleh kebijakan asuransi kesehatan yang tidak mencakup layanan bidan swasta. Akibatnya, banyak ibu harus melahirkan di rumah sakit, di bawah kendali dokter, bahkan dalam kondisi di mana persalinan normal masih memungkinkan.

Dampak Psikologis dan Fisik dari Pendekatan Teknokratis

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah bagaimana pengalaman melahirkan di rumah sakit dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan emosional ibu. Penggunaan prosedur medis yang tidak selalu diperlukan, seperti induksi atau tindakan operatif tanpa indikasi medis yang jelas, dapat menyebabkan trauma bagi ibu. Banyak ibu yang melaporkan ketidaknyamanan akibat minimnya komunikasi dari tenaga medis serta kurangnya kebebasan dalam memilih posisi melahirkan yang nyaman bagi mereka.

Sebaliknya, ibu yang melahirkan di pusat kesehatan masyarakat cenderung memiliki pengalaman yang lebih positif. Mereka mendapatkan lebih banyak dukungan emosional, kebebasan bergerak selama persalinan, serta kesempatan untuk didampingi pasangan atau keluarga, yang memberikan kenyamanan lebih selama proses melahirkan.

Menuju Model Persalinan yang Berpusat pada Ibu

Untuk menciptakan pengalaman persalinan yang lebih positif, sistem kesehatan di Indonesia perlu lebih mengakomodasi kebutuhan dan preferensi ibu. Model layanan kebidanan yang lebih mandiri, seperti di negara-negara Skandinavia dan Belanda, bisa menjadi inspirasi. Di sana, perempuan diberikan kebebasan lebih besar untuk memilih di mana dan bagaimana mereka ingin melahirkan, dengan tetap mendapatkan dukungan medis jika dibutuhkan.

Edukasi selama kehamilan tentang berbagai opsi persalinan juga sangat penting agar ibu bisa membuat keputusan yang lebih sadar dan sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, tenaga kesehatan perlu didorong untuk lebih mengutamakan komunikasi yang empatik, bukan sekadar menjalankan prosedur medis tanpa melibatkan ibu dalam pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, setiap ibu berhak memiliki pengalaman persalinan yang aman, nyaman, dan sesuai dengan pilihannya. Sistem kesehatan harus mendukung keputusan ini, bukan mengarahkannya semata-mata berdasarkan standar teknokratis. Dengan begitu, persalinan bisa menjadi pengalaman yang lebih manusiawi, penuh dukungan, dan memberdayakan setiap ibu.

Penulis: Sofia Al Farizi, S.Keb., Bd., M.Kes