Universitas Airlangga Official Website

Diabetes Melitus Tipe 1: Tantangan di Balik Angka

Ilustrasi penderita diabetes tipe 1 (Sumber: Health Kompas)
Ilustrasi penderita diabetes tipe 1 (Sumber: Health Kompas)

Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1) adalah jenis diabetes yang paling sering menyerang anak-anak dan remaja, mencakup sekitar 80-90% kasus diabetes pada kelompok usia ini. Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin, hormon yang berperan penting dalam mengubah gula dari makanan menjadi energi. Tanpa insulin, kadar gula dalam darah meningkat (hiperglikemia), sehingga penderita DMT1 memerlukan suntikan insulin secara rutin untuk menjaga kestabilan gula darah.

Meskipun belum dapat disembuhkan, DMT1 bisa dikelola dengan baik untuk mencegah gejala memburuk dan komplikasi yang mungkin terjadi. Perawatan yang tepat dapat membantu penderita menjalani kehidupan berkualitas. Namun, di balik upaya pengelolaan ini, ada tantangan besar yang harus dihadapi, mulai dari kesehatan fisik, beban keuangan, hingga dampak sosial dan psikologis yang dirasakan oleh anak dan keluarganya.

Untuk menggali lebih dalam tentang perjuangan dan kebutuhan keluarga dengan anak penderita DMT1, sebuah penelitian dilakukan di Batu, Jawa Timur, dan Parung, Jawa Barat. Melalui acara bertajuk “Diabetes Camp,” penelitian ini tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga menghadirkan ruang edukasi dan dukungan. Acara komunitas semacam ini menggambarkan situasi dan kendala yang ada, sekaligus memberikan solusi bagi pengelolaan DMT1 di Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, diketahui bahwa di antara kendala nyata yang dihadapi oleh keluarga adalah dalam aspek keuangan. Keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas sering mengalami kesulitan dalam menangani DMT1. Di Indonesia, akses ke dokter spesialis endokrin anak sangat terbatas, hanya tersedia di kota-kota besar. Pada tahun 2024, tercatat hanya ada 39 dokter spesialis ini di 18 dari 38 provinsi di Indonesia, tersebar di kurang dari separuh wilayah yang ada. Sementara itu, jumlah kasus DMT1 terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

Banyak keluarga harus membeli insulin tambahan karena jatah dari asuransi kesehatan pemerintah seringkali hanya cukup untuk kebutuhan satu bulan tanpa cadangan. Selain itu, mereka harus mengunjungi fasilitas kesehatan setiap bulan untuk mendapatkan insulin, yang menambah beban biaya transportasi. Mayoritas keluarga (97,6%) mengeluarkan biaya untuk transportasi ini.

Selain tantangan finansial, aspek lain yang tak kalah penting adalah keseharian anak-anak ini, baik di lingkungan pendidikan maupun sosial. Sebagian besar anak dengan DMT1 tetap bersekolah (97,6%), meskipun ada satu anak yang tidak bisa karena sering keluar-masuk rumah sakit. Orang tua melaporkan bahwa anak-anak mereka umumnya mampu mengikuti pelajaran dengan baik (47,5%) atau sangat baik (25%). Dalam bersosialisasi, anak-anak ini juga dinilai mampu berinteraksi dengan baik (43,6%) atau sangat baik (38,5%). Sebanyak 82,1% anak-anak dapat berpartisipasi penuh dalam olahraga di sekolah.

Namun, tantangan sosial juga muncul. Beberapa anak pernah mengalami diskriminasi atau menjadi bahan gosip di sekolah (10,3%). Contohnya, mereka sering ditanya, “Bagaimana anak kecil bisa kena diabetes?” atau dianggap “suka makan manis” dan “sakit-sakitan.” Sebagian orang tua ragu untuk memberitahu guru tentang kondisi anak mereka karena khawatir anaknya dirundung (66,6%).

Acara seperti ini telah membuktikan bahwa dukungan komunitas dapat memberikan dampak besar bagi keluarga anak-anak dengan DMT1. Selain menjadi tempat berbagi pengalaman dan pengetahuan, acara ini juga membantu meningkatkan rasa percaya diri, baik bagi anak-anak maupun orang tua mereka.

“Acara ini sangat bermanfaat karena membantu kami memahami kondisi anak-anak kami,” ujar salah satu orang tua.

Orang tua lainnya berharap, “Semoga acara seperti ini terus ada, karena membantu kami dan anak-anak dengan diabetes untuk merasa lebih percaya diri.”

Diabetes Melitus Tipe 1 memang membawa tantangan besar, tidak hanya dalam sisi penanganan dan pencegahan perburukan, tetapi juga dalam aspek finansial dan sosial. Cerita di balik angka ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat dan holistik, anak-anak dengan DMT1 dapat terus melangkah, menghadapi tantangan dengan optimisme, dan mencapai masa depan yang lebih cerah tanpa dibatasi oleh kondisi ini.

Penulis: Calcarina Nira Pramesthi, dr; Dr. Nur Rochmah, dr., Sp.A(K); Dr. Muhammad Faizi, dr., Sp.A(K); Dr. Yuni Hisbiyah, dr., MMRS., Sp.A; Rayi Kurnia Perwitasari, dr., Sp.A,M.Ked.Klin.

Referensi:

IDF Diabetes Atlas (2022) IDF Diabetes Atlas Reports. https://diabetesatlas.org/2022-reports/

Faizi, M. et al. (2025) ‘Understanding the burden faced by families of children living with type 1 diabetes mellitus in Indonesia: A multidimensional study on the financial, social, and      psychosocial aspects’, Clinical Pediatric Endocrinology, 34(1), pp. 45–53. doi:10.1297/cpe.2024-0071.