Universitas Airlangga Official Website

Kajian Pemanfaatan Kombinasi Polimer Polisakarida dalam Sistem Penghantaran Mikrosfer untuk Anti Tuberkulosis

Tantangan Pelayanan Tuberkulosis dalam Pandemi COVID-19
ilustrasi penderita TBC: (Sumber: Alodokter)

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan baik di Indonesia maupun di dunia dan merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi. Sayangnya, terapi Obat anti tuberkulosis (OAT) lini pertama yang saat ini direkomendasikan di Indonesia memiliki beberapa keterbatasan, yaitu memerlukan durasi pengobatan yang lama dan mulai ditemukannya kasus resistensi dalam penggunaannya. 

Drug Delivery System atau sistem penghantaran obat merupakan salah satu solusi untuk permasalahan tersebut, sebagai suatu formulasi atau sistem yang mampu memediasi penghantaran zat terapeutik dalam tubuh untuk meningkatkan efek terapeutik, mengurangi efek samping obat, meningkatkan bioavailabilitas dan meningkatkan kepatuhan pasien.

Tujuan kajian ini adalah untuk melakukan proses review terhadap polimer polisakarida yang digunakan sebagai sistem penghantaran mikrosfer sebagai pengobatan antituberkulosis. Kajian artikel ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian melalui penelusuran pustaka yang diperoleh melalui mesin pencarian Google Scholar, PubMed, Scopus, NCBI, Elsevier dengan kata kunci “Drug Delivery Pulmonary”, “Polysaccharide Polymer for Pulmonary”, “Chitosan Polymer”, “Sodium Alginate Polymer”, “Carrageenan Polymer”, “Pectin Polymer”, “Antibiotics Chitosan-Na.Alginate Pulmonary”, “Antibiotics Chitosan-Pectin Antibiotics”, “Antibiotics Na.Alginate – Pulmonary Carrageenan”, “Antibiotics for Tuberculosis”, “Drug Delivery for AntiTuberculosis”. 

Penggunaan kombinasi polimer merupakan salah satu pilihan dalam rangka melengkapi kekurangan yang dimiliki masing-masing polimer yang lain, sehingga dapat dihasilkan obat dengan pelepasan terkendali, yang mempunyai kelebihan yaitu dapat mengurangi frekuensi pemberian dosis, mengurangi efek samping obat, meningkatkan tingkat kepatuhan pasien yang tentunya dapat menjadi solusi bagi pengembangan obat anti tuberkulosis.

Penulis : Dewi Melani Hariyadi
Informasi detail riset kami dapat diakses pada: 
https://ejchem.journals.ekb.eg/article_356627_6eae377f4db62f56664b7bb92210af71.pdf