Universitas Airlangga Official Website

Lidah Berwarna Gelap? Kenali Kondisi Jinak yang Disebut Pigmented Fungiform Papillae

Ilustrasi lidah gelap (Foto: Republika)
Ilustrasi lidah gelap (Foto: Republika)

Pernahkah Anda memperhatikan adanya bintik-bintik atau tonjolan kecil berwarna gelap di permukaan lidah, terutama di bagian depan atau samping? Jika iya, Anda mungkin merasa khawatir dan bertanya-tanya, apakah itu sesuatu yang berbahaya? Apakah itu tanda penyakit mulut atau bahkan kanker? Tapi tenang, bisa jadi yang Anda lihat adalah kondisi yang disebut Pigmented Fungiform Papillae of the Tongue (PFPT), yaitu perubahan warna pada bagian tertentu lidah yang sama sekali tidak berbahaya.

PFPT adalah kondisi yang jarang terdengar di kalangan masyarakat, namun sebenarnya cukup sering ditemukan oleh dokter gigi. Istilah ini mengacu pada perubahan warna menjadi coklat hingga kehitaman pada struktur kecil di lidah yang disebut papila fungiformis. Papila ini secara alami ada di permukaan lidah dan berfungsi untuk membantu indera pengecap. Dalam kondisi PFPT, sebagian dari papila ini tampak berwarna lebih gelap dari warna lidah normal, tetapi bentuk dan ukurannya tetap sama, tidak membesar, tidak terasa nyeri, dan tidak menyebabkan masalah dalam aktivitas sehari-hari seperti makan atau berbicara.

Meskipun tidak berbahaya, banyak orang menjadi cemas ketika melihat perubahan warna ini, karena takut itu merupakan tanda dari kondisi serius seperti kanker mulut atau infeksi. Padahal, PFPT adalah variasi normal tubuh, sama seperti seseorang yang memiliki tahi lalat di kulit. Sayangnya, kurangnya informasi membuat banyak orang panik dan bahkan menjalani pemeriksaan medis yang sebenarnya tidak diperlukan.

Dalam sebuah studi terbaru yang meneliti 17 pasien dengan PFPT, ditemukan bahwa kondisi ini tidak menimbulkan gejala dan umumnya terdeteksi secara tidak sengaja. Beberapa pasien baru menyadari keberadaan bintik gelap di lidah saat bercermin, sementara yang lainnya diberi tahu oleh dokter gigi saat pemeriksaan gigi. Rentang usia pasien cukup bervariasi, mulai dari 12 tahun hingga 35 tahun, dan terdiri dari laki-laki maupun perempuan. Menariknya, sebagian besar dari mereka tidak memiliki riwayat penyakit apapun dan tidak sedang mengonsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan perubahan warna lidah. Artinya, PFPT memang murni terjadi sebagai variasi alami, bukan akibat dari penyakit tertentu.

Secara tampilan, PFPT sangat khas. Bintik-bintik gelap hanya muncul pada papila tertentu, tersebar terpisah, dan tidak menyatu menjadi bercak besar. Letaknya paling sering di bagian ujung dan samping lidah, tempat papila fungiformis secara alami berada. Warnanya bisa coklat muda, coklat tua, atau bahkan mendekati hitam. Namun yang paling penting adalah bentuk papila tetap bulat kecil, tidak menonjol berlebihan, dan tidak disertai dengan luka, peradangan, atau rasa tidak nyaman.

Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan adalah: “Apakah PFPT hanya terjadi pada orang kulit gelap?” Jawabannya: tidak. Meskipun PFPT awalnya lebih sering dilaporkan pada orang berkulit gelap, terutama di Afrika dan Asia Selatan, studi terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini juga bisa terjadi pada orang dengan kulit putih. Jadi, siapa saja bisa mengalami PFPT, tanpa memandang ras atau warna kulit.

Karena tampilan warnanya yang mencolok, PFPT sering disalahartikan sebagai penyakit lain seperti melanosis oral, melanoma (kanker kulit yang jarang terjadi di mulut), atau oral nevi (tahi lalat di dalam mulut). Namun, ada beberapa ciri khas PFPT yang membedakannya dengan kondisi-kondisi tersebut. PFPT tidak menyebar, tidak membesar, dan tidak mengalami perubahan seiring waktu. Selain itu, tidak disertai keluhan subjektif seperti nyeri, perih, atau gangguan rasa. Inilah mengapa dokter gigi yang berpengalaman biasanya bisa langsung mengenali PFPT hanya dengan pemeriksaan visual.

Perlu dicatat bahwa PFPT tidak memerlukan pengobatan sama sekali. Karena tidak menimbulkan gejala dan tidak berpotensi menjadi kanker, satu-satunya langkah yang dibutuhkan adalah memberikan edukasi kepada pasien. Ketika pasien memahami bahwa yang dialami adalah kondisi jinak dan alami, rasa cemas akan berkurang, dan mereka pun tidak perlu menjalani tes atau perawatan lebih lanjut. Namun, dokter tetap menyarankan untuk memantau secara berkala jika terjadi perubahan warna atau bentuk papila yang mencurigakan.

Bagaimana PFPT bisa terjadi? Sampai saat ini, para ahli belum sepenuhnya mengetahui penyebab pasti dari pigmentasi ini. Namun diduga hal ini berkaitan dengan aktivitas sel pigmen yang disebut melanosit di daerah papila. Dalam beberapa studi, ditemukan bahwa PFPT tidak melibatkan peningkatan jumlah melanosit, melainkan hanya peningkatan produksi pigmen (melanin) di sel-sel tersebut. Dengan kata lain, ini adalah bentuk hiperpigmentasi fisiologis yang tidak berbahaya.

Untuk masyarakat umum, penting untuk mengetahui bahwa tidak semua perubahan warna di lidah adalah pertanda penyakit. Dengan semakin banyaknya informasi tentang PFPT, kita diharapkan bisa membedakan antara kondisi yang memerlukan perhatian medis dan variasi normal tubuh. Apabila Anda melihat perubahan warna di lidah, jangan langsung panik. Periksakan ke dokter gigi atau dokter mulut untuk memastikan. Bila memang itu PFPT, Anda tidak perlu khawatir dan bisa tetap menjalani aktivitas seperti biasa.

Sebagai penutup, PFPT adalah salah satu contoh betapa tubuh manusia memiliki banyak variasi alami yang tidak selalu perlu ditakuti. Dengan informasi yang tepat dan pemahaman yang baik, kita bisa mencegah kecemasan yang tidak perlu dan menghindari tindakan medis yang berlebihan. Jadi, jika suatu hari Anda atau orang terdekat menemukan bintik gelap di lidah, ingatlah bahwa kemungkinan besar itu hanya bagian dari keunikan tubuh Anda.

Penulis: Meircurius Dwi Condro Surboyo

Tulisan lengkap dapat dilihat di

The clinical presentation of pigmented fungiform papillae: a descriptive study of cases. 2025. European Journal of Anatomy. https://eurjanat.com/articles/the-clinical-presentation-of-pigmented-fungiform-papillae-a-descriptive-study-of-cases/