Tanaman cemcem dengan nama latin Spondias pinnata (L.f.) Kurz) dalam Bahasa Indonesia disebut Kedondong Hutan. Cemcem termasuk dalam famili Anacardiaceae, dan banyak terdapat di daerah tropis, subtropis, dan beriklim sedang. Populasi tanaman herbal ini ditemukan di wilayah kering dan basah, seperti hutan semi-gugur. Tanaman ini tidak jarang ditemukan tumbuh liar ataupun dibudidayakan. Bagian tanaman cemcem seperti daun, akar, buah, dan kulit kayu telah banyak digunakan sebagai obat penyakit pada manusia karena memiliki berbagai senyawa fitokimia. Kandungan tanaman cemcem ini dapat dipengaruhi oleh tempat tumbuhnya atau lingkungan dimana tanaman tersebut tumbuh atau ditanam. Faktor-faktor lingkungan seperti iklim, jenis tanah, kelembaban, intensitas sinar matahari, dan faktor-faktor lainnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta komposisi kimia dan kandungan senyawa aktif dalam tanaman tersebut.
Ekstrak daun cemcem diketahui memiliki berbagai kandungan fitokimia, dengan kandungan tertinggi adalah senyawa flavonoid yaitu kuersetin dan katekin. Berdasarkan penelitian sebelumnya, kadar flavonoid yang terkandung pada ekstrak daun cemcem sekitar 86,53±1,95 mgQE/g. Senyawa ini berperan penting untuk mengurangi kolesterol dengan mekanisme antioksidan dan regulasi metabolisme lipid. Flavonoid dapat mencegah peningkatan reactive oxygen species (ROS) yang disebabkan oleh stres oksidatif maupun kerusakan sel dengan melepaskan gugus hidroksil (OH), sehingga mencegah terbentuknya radikal bebas serta peroksidasi lemak. Flavonoid juga diketahui memberikan efek antiinflamasi. Kuersetin dapat mengurangi ekspresi protein Nuclear factor kappa B (NF-κB), Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α), Interleukin-6 (IL-6), dan Interleukin-1 beta (IL-1β), serta memberikan efek stimulasi pada ekspresi Interleukin-10 (IL-10) sebagai sitokin antiinflamasi.
Hiperlipidemia merupakan keadaan peningkatan kolesterol dalam darah yang memicu penyakit kardiovaskular dan masalah metabolik diantaranya penyakit jantung koroner, aterosklerosis, sindrom metabolik, stroke, serta yang sejenisnya. Kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) dianggap sebagai lipoprotein aterogenik yang utama sehingga digunakan sebagai salah satu parameter diagnostik dari hiperlipidemia. Hiperlipidemia berkaitan erat dengan inflamasi karena kolesterol dengan kadar tinggi dapat merusak dinding pembuluh darah sehingga memicu respon inflamasi. Peningkatan kadar LDL dalam sirkulasi menyebabkan aktivasi dan disfungsi endotel yang berhubungan dengan peningkatan produksi sitokin proinflamasi, ekspresi berlebih dari molekul adhesi, serta peningkatan pembentukan ROS. Semua proses ini mendukung infiltrasi progresif sel-sel inflamasi seperti monosit sehingga memicu peradangan pembuluh darah.
Low Density Lipoprotein yang teroksidasi mengaktifkan Toll-like Receptor 4 (TLR4) dan nucleotide-binding oligomerization domain-like receptor family pyrin domain containing 3 (NLRP3). Proses ini akan menginduksi NF-κB dan ekspresi sitokin proinflamasi, serta mengkatalisis pembelahan, aktivasi dan sekresi IL-1β dan IL-18, dan IL-1β diketahui merupakan mediator utama penyakit kardiometabolik yang diinduksi lipid. Interleukin-10 sebagai sitokin antiinflamasi dapat memodulasi metabolisme lipid dengan meningkatkan penyerapan dan pengeluaran kolesterol dalam makrofag. Hasil akhir dari kerja IL-10 pada makrofag adalah penghilangan lipoprotein berbahaya yang dimodifikasi secara efisien dari dinding arteri dan pembuangan kolesterol bebas sitotoksik, sehingga mengurangi inflamasi dan apoptosis pada lesi.
Upaya menurunkan kadar LDL, IL-1β dan stres oksidatif disertai dengan meningkatkan kadar IL-10 dapat mencegah perkembangan hiperlipidemia mengarah ke penyakit kardiovaskular dan metabolik lainnya. Penggunakan bahan-bahan alam atau herbal untuk menurunkan kadar kolesterol dan inflamasi dapat dianggap lebih aman karena cenderung memiliki efek samping yang sedikit, biaya terjangkau, mudah dibudidayakan, dan memiliki sifat antioksidan alami. Penelitian terhadap tanaman cemcem (Spondias pinnata (L.f.) Kurz) telah dilaporkan memiliki aktivitas antihiperlipidemia. Ekstrak daun cemcem diketahui memiliki kandungan senyawa flavonoid yaitu kuersetin dan katekin. Senyawa ini berperan penting untuk mengurangi kolesterol dengan mekanisme antioksidan dan regulasi metabolisme lipid. Oleh sebab itu, pemanfaatan tanaman cemcem, yang mayoritas masyarakat memanfaatkan bagian daunnya, memiliki peluang sebagai alternatif sumber flavonoid sebagai upaya pengendalian hiperlipidemia dan inflamasi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pemberian ekstrak daun cemcem (Spondias pinnata (L.f.) Kurz) terhadap perubahan kadar IL-1β dan IL-10 pada tikus putih (Rattus norvegicus) Wistar jantan model hiperlipidemia yang diberikan pakan tinggi lemak. Jenis penelitian ini berupa penelitian true experimental dengan rancangan randomized post-test only control group design. Ekstrak daun cemcem diberikan kepada tiga kelompok perlakuan selama 1 minggu dengan berbagai variasi dosis meliputi dosis 250 mg/kgBB, dosis 500 mg/kgBB, dan dosis 1.000 mg/kgBB. Satu minggu setelah pemberian perlakuan ekstrak daun cemcem, semua tikus dilakukan pengambilan darah melalui jantung untuk dilakukan pengukuran kadar LDL, IL-1β, dan IL-10. Data hasil pemeriksaan dianalisis statistik menggunakan program SPSS for Windows.
Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun cemcem dengan berbagai variasi dosis tejadi penurunan kadar LDL dan IL-1β, serta meningkatkan kadar IL-10 pada tikus putih (Rattus norvegicus) Wistar model hiperlipidemia. Hal ini dikarenakan senyawa flavonoid dalam daun cemcem dapat menghambat enzim HMG-CoA reduktase yang merupakan enzim kunci dalam biosintesis kolesterol, sehingga membantu menurunkan kadar LDL. Kandungan flavonoid ekstrak daun cemcem, baik senyawa kuersetin maupun katekin, memiliki efek antiinflamasi melalui penghambatan jalur NF-κβ sehingga berujung pada penurunan sekresi sitokin proinflamasi salah satunya IL-1β. Senyawa flavonoid dalam ekstrak daun cemcem secara langsung meningkatkan produksi IL-10 melalui modulasi jalur sinyal imun, inhibisi sitokin proinflamasi, pengurangan stres oksidatif, dan polarisasi makrofag. Selain itu peningkatan sitokin proinflamasi juga dapat merangsang produksi IL-10 sebagai bagian dari mekanisme regulasi umpan balik untuk mengendalikan inflamasi. Penggunaan bahan-bahan alam atau herbal untuk menurunkan kadar kolesterol dapat dianggap lebih aman karena cenderung memiliki efek samping yang sedikit, biaya terjangkau, mudah dibudidayakan, dan memiliki sifat antioksidan alami.
Penulis: Prof. Dr. Nunuk Dyah Retno Lastuti, drh., M.S
Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga.
Informasi lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Open Veterinary Journal, (2025), Vol. 15(3): 1310-1321. ISSN: 2226-4485 (print); ISSN: 2218-6050 (online). DOI: 10.5455/OVJ.2025.v15.i3.22
Lia Cahya Sari, Nunuk Dyah Retno Lastuti, Theresia Indah Budhy, Yuliasih Yuliasih, Ni Luh Ayu Megasari and Indra Prastiwi Jamaluddin. Therapeutic effects of kecemcem leaves extract (Spondias pinnata (L.f.) Kurz) on LDL levels, cytokines, and microscopic liver changes in hyperlipidemic rat model. Open Vet J.2025; 15(3): 1310-1321.





