Universitas Airlangga Official Website

Kebebasan Digital Anak yang Kebablasan

Ilustrasi anak-anak (Foto: life.indozone.id)
Ilustrasi anak-anak (Foto: life.indozone.id)

Bayangkan anak-anak berada di sebuah tempat bermain dengan aturan yang unik: orang dewasa dilarang masuk. Di sana mereka bebas melakukan apa saja. Mereka boleh berteriak, berebut mainan, bahkan memukul anak lain. Tempat bermain itu adalah gambaran grup sosial media yang isinya anak-anak tanpa pengawasan.

Perkembangan teknologi seharusnya menjadi peluang emas bagi anak-anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan kreatif. Namun kenyataannya, media sosial justru menjadi ladang subur bagi munculnya masalah baru, terutama dalam hal komunikasi antar anak. Semakin banyak anak yang merasa bebas berekspresi di dunia maya, tanpa kendali, tanpa etika, dan tanpa pengawasan orang tua.

Dewasa ini, tak sulit menemukan anak-anak usia sekolah dasar yang sudah aktif di dunia digital. Mereka bebas berpendapat lewat grup chat, game online, maupun kolom komentar. Kata-kata makian dan ejekan seolah jadi hal biasa. Parahnya lagi, mereka melakukan tindakan tersebut tanpa merasa bersalah.

Anak-anak ini tidak tahu mana yang pantas dan tidak. Mereka tumbuh dalam lingkungan digital yang sangat terbuka, tetapi tidak mendapatkan arahan yang cukup. Orang tua kerap kali sibuk dengan pekerjaan. Sekolah hanya berfokus pada pelajaran akademis. Akhirnya, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar, bukan dari nilai yang ditanamkan.

Ini bukan salah anak-anak. Mereka hanya meniru. Inilah yang perlu kita sadari: anak-anak butuh pengasuhan, bukan sekadar pengawasan. Mereka perlu mendapatkan bimbingan dalam menyaring banyaknya konten di sosial media. Mereka perlu mendapatkan pengajaran untuk menggunakan sosial media dengan bijak serta berdampak positif bagi perkembangan emosionalnya.

Media sosial adalah ruang komunikasi yang sangat luas, tetapi juga sangat bebas. Tanpa pengawasan orang dewasa, ruang ini bisa berubah menjadi tempat di mana anak belajar menjadi kasar dan kehilangan empati. Mereka bisa saling merundung dengan dalih bercanda dan ikut-ikutan. Mereka bisa terlibat dalam tindakan negatif karena terbawa arus globalisasi.

Banyak orang tua menganggap anaknya baik-baik saja hanya karena tidak melapor. Mereka yang menjadi korban perundungan acapkali diintimidasi dan diancam agar tidak melapor ke orang tuanya. Sedangkan mereka yang menjadi pelaku, sama sekali tidak merasa bersalah atas perbuatannya. Kebebasan yang kelewatan ini perlahan mengikis empati mereka. Jika terus dibiarkan, korban akan semakin bertambah.

Lalu, bagaimana upaya preventif agar masalah ini tidak terulang? Orang tua dan keluarga memegang peran penting dalam perkembangan anak. Orang tua perlu terlibat dalam aktivitas sang anak. Tahu apa yang mereka tonton, siapa yang mereka ajak bicara, dan bagaimana mereka berkomunikasi di media sosial.

Orang tua dapat menerapkan berbagai cara agar anak terhindar dari paparan negatif sosial media. Salah satunya dengan memberi contoh pada anak tentang etika berkomunikasi yang baik. Ajak anak berdiskusi tentang konten di sosial media serta cara membatasi konten bermuatan negatif. Beri anak ruang untuk bercerita jika mengalami masalah, serta senantiasa beri dukungan dan solusi.

Selain keluarga, sekolah juga perlu turut membangun karakter anak. Tidak cukup hanya memberi pelajaran tentang bahaya internet, tapi ajarkan juga cara berinteraksi dengan sehat. Libatkan anak dalam diskusi, ajarkan mereka tentang empati dan cara menyampaikan pendapat dengan santun.

Peran guru juga sangat penting dalam hal ini. Bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendengar. Guru yang mau mendengar cerita anak saat mengalami masalah digital dan bisa menjadi penolong pertama sebelum masalah membesar. Dengan menciptakan lingkungan sekolah yang aman secara emosional, anak-anak akan merasa lebih nyaman untuk bercerita tanpa takut disalahkan.

Menjelang Hari Anak Nasional 23 Juli, mari kita buka mata lebih lebar. Masalah ini nyata. Anak-anak kita sedang tumbuh dalam dunia yang serba cepat, tapi kadang berbahaya. Kita tidak bisa mengurung mereka dari teknologi, tapi kita bisa mendampingi mereka agar tidak tersesat di dalamnya.

Mari bersikap peka terhadap aktivitas anak-anak kita di dunia maya. Ciptakan interaksi yang sehat untuk membangun anak yang hebat. Jangan sampai generasi muda hanya jago berbicara di depan layar, tapi lupa cara berbicara dari hati.

Penulis: William Suryo Goey (Mahasiswa Program Studi Statistika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga)