Introduksi spesies ikan non-asli terkadang dapat berujung pada pembentukan kelompok spesies invasif, yang menimbulkan ancaman lingkungan dan memicu penurunan keanekaragaman hayati. Penilaian terbaru menunjukkan adanya risiko yang besar, dengan 39% spesies ikan global diperkirakan akan menghadapi kepunahan dalam 400 tahun ke depan karena prevalensi spesies asing invasif (IAS). Penelitian sebelumnya menggarisbawahi dampak kompleks dari spesies akuatik non-asli terhadap struktur komunitas ikan air tawar asli, baik yang berdampak positif maupun negatif (Tarkan et al. 2017). Khususnya, upaya untuk memperkenalkan ikan ke dalam lingkungan akuatik memiliki potensi untuk mendorong penurunan populasi ikan lokal secara bertahap dalam jangka waktu yang lama, yang pada akhirnya berkontribusi pada kepunahan spesies tertentu.
Terlepas dari implikasi penting dari spesies invasif, penelitian tentang fenomena ini di Indonesia masih terbatas dan membutuhkan koordinasi yang lebih komprehensif. Salah satu contoh penting berasal dari penelitian yang dilakukan di Danau Poso, Sulawesi, yang mengungkapkan keberadaan spesies introduksi seperti Channa striata dan Pterygoplichthys pardalis (Herder et al. 2022). Beberapa spesies menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa terhadap lingkungan introduksi, terutama ikan hias yang diimpor dari perairan tropis, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap populasi ikan endemik (Herder et al. 2012). Kegiatan pembenihan dan perbanyakan buatan semakin memperparah masalah ini, karena memungkinkan benih ikan untuk bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan baru di luar habitat aslinya. Di wilayah Sungai Bedog, Jogjakarta, keberadaan ikan Cichla sp. merupakan laporan baru, sehingga mendorong upaya pemantauan oleh Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Hasil Perikanan (SKIPM) Jogjakarta pada tahun 2021-2022. Belum ada informasi yang pasti mengenai keberadaan ikan Cichla di wilayah sungai ini. Hasil survei yang dilakukan pada tahun 2021 berdasarkan informasi awal dari para pemancing tradisional. Identifikasi ikan Cichla juvenil mengalami tantangan karena tidak adanya pola warna yang jelas, sehingga diperlukan pendekatan molekuler untuk meningkatkan akurasi, meminimalkan kesalahan, dan memfasilitasi identifikasi ikan juvenil ini di perairan umum. Hal ini menggarisbawahi pentingnya menggunakan metode ilmiah canggih untuk menavigasi kompleksitas yang terkait dengan studi spesies invasif dan potensi dampaknya terhadap ekosistem perairan.
Berkembangnya kegiatan perikanan yang berpusat di sekitar ikan hias di wilayah Yogyakarta telah menyebabkan meningkatnya permintaan untuk kegiatan rekreasi yang melibatkan spesimen air yang menarik secara estetika. Tren ini terlihat dari ketahanan industri ikan hias di Yogyakarta yang tetap bertahan meskipun menghadapi tantangan akibat pandemi. Sentra-sentra ikan hias tersebar di seluruh wilayah perkotaan di Yogyakarta, menampilkan beragam spesies, terutama cichlid. Di antaranya, genus Cichla, spesies introduksi, memikat para penggemar dengan pola warnanya yang cerah, menjadikannya komoditas yang dicari di kalangan pemancing. Warna ikan dewasa yang beragam meningkatkan daya tariknya sebagai ikan hias dan berfungsi sebagai penanda khas untuk identifikasi spesies.
Laporan dari media sosial oleh para penghobi mancing di wilayah Yogyakarta mengindikasikan adanya penangkapan Cichla spp. dari sungai-sungai setempat. Ikan yang awalnya diperkenalkan ke Indonesia karena kualitas hiasnya, ikan asal Afrika ini telah menarik perhatian yang signifikan. Sejumlah laporan penelitian menunjukkan penyebarannya yang luas di Asia, termasuk Indonesia. Kekhawatiran yang paling mendesak adalah sifat invasif dari spesies ini yang berpotensi menjadi invasif ketika diperkenalkan ke perairan umum. Kecenderungan predator dari Cichla spp. menimbulkan ancaman yang signifikan, berpotensi mendominasi habitat perairan dan membahayakan populasi ikan endemik lokal, yang mungkin tidak dapat bersaing dan akhirnya menjadi mangsa.
Penelitian ini berhasil mengidentifikasi tujuh sampel Cichla ocellaris dari Sungai Bedog di Yogyakarta, yang mengonfirmasi keberadaan ikan-ikan non-asli yang berpotensi menjadi spesies invasif. Semua sekuen DNA yang diperoleh dalam penelitian ini telah diserahkan ke database GenBank. Perlunya pemantauan rutin terhadap perairan umum di Indonesia digarisbawahi oleh penyebaran ikan introduksi, terutama yang berpotensi invasif. Mempromosikan studi komprehensif tentang ikan invasif di Indonesia dan meningkatkan kesadaran untuk mencegah pelepasan ikan-ikan tersebut ke perairan umum dan mengurangi dampak buruk terhadap masyarakat dan keanekaragaman hayati ikan asli Indonesia sangatlah penting.
Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T
Sitasi: Andriyono S, Akhmad H, Alam MJ, Dewi NN, Lutfiyah L, Suciyono. 2025. Molecular identification of peacock bass (Cichla ocellaris) from the Bedog River, Yogyakarta, Indonesia. Biodiversitas 26: 1565-1572.
Link tulisan lengkap dapat diakses melalui: https://smujo.id/biodiv/article/view/15099





