Universitas Airlangga Official Website

Menginternalisasi Masalah Perilaku pada Pasien Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

sumber: siloam hospital
sumber: siloam hospital

Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan bawaan yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir. Kemajuan dalam pengobatan medis, kemajuan teknik bedah dan perawatan intensif pascaoperasi berhasil mengurangi angka kematian pasien anak dengan PJB dan meningkatkan angka harapan hidup mereka, sehingga sekitar 95% anak-anak yang lahir dengan PJB non-kritis dapat bertahan hingga dewasa tanpa gangguan fisik yang parah. Pasien anak dengan PJB mungkin membutuhkan perawatan kesehatan khusus termasuk kebutuhan obat-obatan, terapi fisik atau bicara, dan perawatan untuk masalah perkembangan atau perilaku dibanding anak dengan kondisi jantung yang normal. Sekitar hampir 60% anak dengan PJB memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus, dibandingkan dengan 20% anak tanpa PJB. Pasien dengan PJB yang lebih berat dikatakan akan mengalami masalah perilaku dan emosi yang lebih berat dibandingkan pasien dengan PJB yang lebih ringan dan usia yang lebih muda dapat mengalami kondisi yang lebih berat.

Perkembangan psikososial, khususnya regulasi emosional dan perilaku, keterampilan sosial dan kemampuan mengatasi stres, merupakan pertimbangan penting dalam perkembangan dan kesejahteraan anak-anak yang mengalami penyakit kritis dan kronis. Anak-anak dengan PJB mungkin mengalami berbagai faktor psikososial internal (yaitu emosional dan perilaku) dan interpersonal yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan mental mereka.  Studi literatur melaporkan adanya peningkatan prevalensi penyakit kejiwaan dan gangguan perilaku pada anak-anak dengan PJB berat dan menyoroti adanya berbagai gangguan psikologis yang dihadapi anak-anak dan remaja dengan PJB saat tumbuh dewasa. Pada usia sekolah, anak dengan PJB memiliki tingkat kesulitan belajar yang lebih tinggi, defisit motorik, masalah hubungan sosial, dan kinerja sekolah yang buruk dibandingkan dengan teman sebaya yang sehat. Sebuah studi meta-analisis yang melibatkan anak usia 6-18 tahun menunjukkan bahwa 25% anak-anak dan remaja dengan PJB memiliki masalah perilaku yang signifikan. Dengan prevalensi gabungan gangguan internalisasi lebih besar daripada gangguan eksternalisasi, yaitu 24,9%. PJB berat memiliki efek negatif sedang pada skor total skala masalah perilaku yang diukur dengan CBCL (p <0,001). Remaja dengan PJB memiliki skor untuk perilaku internalisasi dan eksternalisasi lebih buruk bila dibandingkan dengan kontrol.

Penelitian kami pada anak berusia 4-17 tahun dengan PJB yang yang datang dan dirawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Anak dan Instalasi Rawat Jalan (IRJ) Anak, RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dilakukan skrining perilaku dengan menggunakan Pediatric Symptom Checklist 17 (PSC-17). Sebanyak 101 subjek penelitian memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang berpartisipasi pada penelitian ini, dan dari 101 sampel penelitian, 30 (29,7%) memiliki skor PSC-17 positif, dengan masalah internalisasi yang paling sering (22 subjek, 77,3%). Perbedaan signifikan dalam skor internalisasi ditemukan antara kelompok PJB asiatik dan sianotik (p = 0,036). Tidak ada perbedaan signifikan yang diamati pada subskala atensi, eksternalisasi, atau campuran. Usia yang lebih muda (< 10 tahun) pada PJB asiatik dan jenis kelamin laki-laki, pendidikan orang tua yang lebih rendah, dan ibu yang bekerja pada PJB sianosis diidentifikasi sebagai faktor risiko signifikan untuk masalah perilaku internalisasi. Kesimpulan. Masalah perilaku internalisasi menjadi perhatian pada anak dengan PJB.  Mengevaluasi gangguan perilaku pasien anak dengan penyakit kronis, khususnya PJB perlu mendapat perhatian sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan pasien anak dengan PJB. Evaluasi perkembangan perilaku dan gangguannya perlu dilakukan secara berkala pada setiap anak termasuk anak dengan penyakit kronis. Gangguan perilaku dan emosi dapat terjadi pada 1 dari 4 anak meskipun mayoritas merupakan kasus yang tidak terlalu parah. Namun hal ini dapat memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang pada kesehatan anak dan fungsinya sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dari tenaga kesehatan.

Disarikan dari artikel dengan judul: “Internalizing behavioral problems in pediatric patients with congenital heart disease” yang diterbitkan bulan Juni 2025 di Child`s Health. Vol 20 No 4, Halaman: 286-290 doi: 10.22141/2224-0551.20.4.2025.1851 Link: https://childshealth.zaslavsky.com.ua/index.php/journal/article/view/1851

Penulis:

Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)

Scopus ID 59912681400

Departemen Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga