Menopause merupakan fase alamiah dalam kehidupan seorang perempuan, yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi secara permanen. Di balik proses biologis ini, banyak perempuan menghadapi gejala tidak nyaman yang memengaruhi kualitas hidup mereka. Dua keluhan yang paling sering muncul adalah kekeringan vagina dan dyspareunia (rasa sakit saat berhubungan seksual).
Keluhan ini terjadi akibat penurunan hormon estrogen, yang menyebabkan dinding vagina menipis dan kehilangan elastisitas serta kelembapan alaminya. Kondisi ini kini disebut sebagai bagian dari Genitourinary Syndrome of Menopause (GSM), yang dialami oleh sekitar 27% hingga 60% perempuan pasca-menopause.
Mengapa Perlu Alternatif Non-Hormonal?
Selama bertahun-tahun, terapi hormon estrogen menjadi pilihan utama dalam mengatasi gejala menopause. Namun, terapi ini memiliki risiko—terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kanker payudara, kanker rahim, atau gangguan pembuluh darah. Oleh karena itu, semakin banyak perempuan yang mulai melirik terapi non-hormonal yang dianggap lebih alami dan minim efek samping.
Salah satu kandidat yang menjanjikan adalah isoflavon, yaitu senyawa alami yang banyak ditemukan dalam kedelai. Isoflavon termasuk dalam kelompok fitoestrogen, yang memiliki kemampuan meniru kerja estrogen dalam tubuh, meskipun dengan efek yang lebih ringan.
Tim peneliti FK UNAIR telah melakukan kajian sistematis dan meta-analisis untuk menilai efektivitas isoflavon terhadap dua gejala utama GSM: kekeringan vagina dan dyspareunia. Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap 10 uji klinis acak yang melibatkan 675 perempuan pasca-menopause dari berbagai negara.
Hasilnya menunjukkan bahwa isoflavon secara signifikan mampu mengurangi kekeringan vagina. Data dari empat studi yang dianalisis menunjukkan adanya perbaikan gejala setelah penggunaan isoflavon dengan skor perbedaan rata-rata -1,29 (CI 95%: -2,53 hingga -0,04; P=0,04).
Namun, untuk keluhan dyspareunia, hasilnya belum konsisten. Analisis dari dua studi menunjukkan tidak ada perubahan yang signifikan antara sebelum dan sesudah penggunaan isoflavon (P=0,55). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun isoflavon membantu meningkatkan kelembapan vagina, efeknya terhadap rasa nyeri saat berhubungan seksual masih perlu diteliti lebih lanjut.
Potensi dan Batasan
Studi ini membuka harapan baru bagi perempuan yang mencari alternatif terapi hormonal. Isoflavon, baik dalam bentuk suplemen oral maupun gel vagina, relatif aman digunakan dan memiliki efek samping yang minimal. Namun, peneliti juga mengingatkan bahwa temuan ini memiliki keterbatasan—jumlah studi yang dianalisis masih terbatas, dan terdapat tingkat heterogenitas data yang tinggi antar studi.
Kesimpulan
Isoflavon menawarkan solusi alami yang menjanjikan untuk mengatasi kekeringan vagina pasca-menopause. Meskipun belum terbukti efektif mengurangi dyspareunia secara konsisten, manfaatnya terhadap kelembapan dan kenyamanan area intim patut dipertimbangkan. Diperlukan lebih banyak penelitian jangka panjang untuk menetapkan dosis, bentuk sediaan, dan kelompok pengguna yang paling mendapat manfaat.
Bagi para perempuan pasca-menopause, berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan terapi terbaik sangat disarankan—terutama jika ingin mencoba terapi non-hormonal seperti isoflavon. Dengan pendekatan yang tepat, masa menopause bisa dilalui dengan lebih nyaman dan sehat.
Penulis: Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K).
Informasi detail: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/the-effect-of-isoflavone-on-vaginal-dryness-and-dyspareunia-in-po





