Sejak diresmikan pada Juni 2009, Jembatan Surabaya–Madura (Suramadu) menjadi ikon pembangunan di Jawa Timur. Jembatan sepanjang 5,4 kilometer ini bukan hanya menghubungkan Surabaya dengan Bangkalan, melainkan juga melambangkan upaya besar pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Pulau Madura. Dengan waktu tempuh yang kini hanya sekitar 10 menit, jauh lebih singkat dibandingkan perjalanan dengan feri yang bisa memakan waktu hampir satu jam, Suramadu diproyeksikan sebagai gerbang utama wisata Madura.
Namun, sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Annals of Tourism Research Empirical Insights menyebutkan bahwa meskipun mobilitas meningkat, pengaruh langsung Suramadu terhadap pertumbuhan pariwisata Madura masih terbatas. Penelitian yang dilakukan oleh tim akademisi dari Universitas Airlangga bersama Universiti Sains Malaysia menunjukkan tidak ada lonjakan signifikan pada kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB Madura pascaoperasional jembatan.
Harapan Besar di Awal
Pembangunan Suramadu memakan biaya sekitar USD 450 juta, menjadikannya salah satu proyek infrastruktur paling ambisius di Indonesia kala itu. Pemerintah menaruh harapan besar agar jembatan ini mampu mendorong investasi, mengurangi kesenjangan antara Jawa dan Madura, serta menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Madura sendiri memiliki potensi wisata yang kaya. Pulau ini dikenal dengan tradisi karapan sapi, hingga berbagai upacara adat dan ziarah religi ke makam tokoh-tokoh ulama besar. Selain itu, Madura memiliki daya tarik pantai dan pulau kecil (gili) yang alami, serta kuliner khas yang otentik. Dengan akses yang lebih mudah, pemerintah dan masyarakat berharap wisatawan dari Surabaya dan kota-kota besar lain di Jawa akan lebih sering menyeberang ke Madura.
Kenyataan di Lapangan
Fakta di lapangan ternyata tidak sepenuhnya sesuai harapan. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun jumlah kunjungan ke Madura memang meningkat pada awal beroperasinya Suramadu, hal tersebut tidak cukup untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi pariwisata secara berkelanjutan.
Salah satu kendala utama adalah infrastruktur pendukung di dalam pulau yang masih terbatas. Banyak destinasi wisata, terutama pantai dan situs budaya, sulit dijangkau karena kondisi jalan yang sempit atau rusak. Transportasi umum juga tidak terintegrasi dengan baik, sehingga wisatawan harus mengandalkan kendaraan pribadi. Hal ini menjadi hambatan besar, terutama bagi wisatawan mancanegara atau mereka yang tidak terbiasa dengan kondisi lokal.
Selain itu, sumber daya manusia di sektor pariwisata juga masih menghadapi tantangan. Tingkat keterampilan masyarakat, baik dalam pelayanan wisata, bahasa asing, maupun manajemen destinasi, relatif rendah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Madura berada di bawah rata-rata nasional, yang berdampak pada kualitas layanan dan daya tarik wisata.
Dari sisi citra, Madura juga masih menghadapi tantangan persepsi. Stereotipe negatif mengenai karakter masyarakat dan isu keamanan sering kali membuat wisatawan ragu. Beberapa laporan di media bahkan menyoroti praktik pungutan liar, tarif parkir liar, hingga pengelolaan yang kurang profesional di sejumlah destinasi wisata. Hal ini berpotensi mengurangi kenyamanan dan pengalaman positif wisatawan.
Infrastruktur Bukan Satu-satunya Kunci
Temuan penelitian ini mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur besar tidak otomatis menggerakkan sektor lain. Pariwisata bukan hanya soal akses, melainkan juga kualitas destinasi, keterlibatan masyarakat, dan kesiapan industri pendukung.
Suramadu memang membuka jalan menuju Madura, tetapi jalan tersebut belum diikuti dengan penguatan destinasi, penyediaan akomodasi yang memadai, maupun atraksi baru yang dapat menarik minat wisatawan. Banyak potensi wisata masih belum tergarap optimal, dan sebagian besar lokasi belum memiliki manajemen profesional.
Dengan kata lain, jembatan telah menyelesaikan masalah akses, tetapi belum cukup untuk mengatasi hambatan struktural pariwisata di Madura.
Dorongan yang Diperlukan
Agar Suramadu benar-benar menjadi pemicu kebangkitan pariwisata Madura, diperlukan pendekatan terpadu. Beberapa rekomendasi strategis yang bisa menjadi pilihan antara lain:
- Perbaikan jaringan transportasi lokal sehingga destinasi lebih mudah diakses dari pintu masuk jembatan.
- Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama melalui pelatihan di bidang perhotelan, pemanduan wisata, dan kewirausahaan.
- Pengembangan ikon wisata baru atau landmark yang bisa menjadi daya tarik utama sekaligus simbol identitas Madura.
- Penguatan tata kelola dankoordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lokal untuk memastikan pengelolaan wisata berjalan lebih profesional.
Penetapan Madura sebagai Proyek Strategis Nasional juga dinilai dapat membuka ruang bagi alokasi anggaran lebih besar, pembangunan fasilitas pendukung, serta masuknya investasi swasta di sektor pariwisata dan hospitality.
Pelajaran untuk Proyek Infrastruktur Lain
Kasus Suramadu menjadi cerminan penting bagi kebijakan pembangunan di Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan. Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sangat bergantung pada pembangunan jembatan, jalan, dan bandara untuk membuka konektivitas. Namun, tanpa kebijakan pendukung yang menyeluruh, infrastruktur fisik saja tidak cukup untuk mendorong transformasi ekonomi lokal.
Bagi Madura, peluang untuk berkembang masih terbuka lebar. Dengan posisi strategis di dekat Surabaya, serta kekayaan budaya dan kuliner yang unik, Madura dapat menjadi destinasi alternatif menarik bagi wisatawan domestik maupun internasional. Namun, hal itu hanya dapat terwujud jika akses yang telah dibuka Suramadu diiringi dengan penguatan destinasi, kualitas layanan, serta strategi pemasaran yang tepat sasaran.
Penulis: Tri Haryanto, Drs.Ec., M.P., Ph.D





