Transformasi digital di dunia kesehatan kini tidak lagi bisa dihindari. Rekam medis elektronik yang dulu hanya wacana, kini sudah digunakan di lebih dari 95% rumah sakit. Pasien bisa dengan mudah mengakses riwayat kesehatannya secara daring, dokter terbantu dengan data yang lebih cepat, sementara teknologi lain seperti artificial intelligence (AI), big data, hingga perangkat pintar semakin memperluas cakupan layanan. Bagi negara berkembang, teknologi kesehatan digital (digital health) membuka harapan baru. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan bisa dipenuhi dengan telemedicine, konsultasi jarak jauh, hingga aplikasi pemantauan kesehatan. Saat pandemi COVID-19 melanda, adopsi layanan ini meningkat drastis. Banyak pasien yang tadinya kesulitan ke rumah sakit, kini bisa tetap terhubung dengan tenaga medis melalui gawai di tangan. Namun, di balik semua kemajuan ini, ada satu kelompok yang kerap tertinggal: para lansia.
Mengapa Lansia Tertinggal?
Pertama, faktor ekonomi. Tidak semua lansia punya perangkat pintar atau akses internet stabil. Bagi sebagian, biaya paket data saja sudah terasa berat. Kedua, keterampilan digital. Sebagian besar lansia tidak tumbuh di era teknologi, sehingga mengoperasikan aplikasi kesehatan bisa menjadi tantangan besar. Tanpa bimbingan, menu yang rumit atau ikon kecil justru membuat frustrasi. Ketiga, faktor fisik dan kognitif. Penurunan penglihatan, pendengaran, atau daya ingat bisa menghambat interaksi dengan perangkat digital. Bayangkan seorang lansia harus mengisi formulir online yang panjang, tentu bukan hal mudah. Keempat, diskriminasi usia (ageism). Banyak layanan digital tidak ramah usia, dengan asumsi lansia sulit belajar. Akibatnya, mereka semakin tersisih dari arus utama inovasi kesehatan.
Strategi Menjembatani Kesenjangan
Jika tidak ditangani, jurang digital ini bisa memperlebar kesenjangan kesehatan antara generasi muda dan lansia. Karena itu, ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan:
- Desain ramah usia. Aplikasi harus dibuat sederhana, dengan huruf besar, warna kontras, dan navigasi mudah. Fitur suara atau video instruksi bisa jadi penolong besar.
- Edukasi literasi digital. Pusat kegiatan lansia, puskesmas, atau posyandu bisa menjadi ruang belajar teknologi. Mahasiswa kesehatan atau kader posyandu dapat berperan sebagai pendamping.
- Dukungan kebijakan. Internet murah bagi lansia, layanan telemedicine yang ditanggung asuransi, hingga program pelatihan nasional bisa mempercepat pemerataan akses.
- Kolaborasi lintas sektor. Akademisi, pemerintah, pengembang aplikasi, dan organisasi masyarakat sipil harus bahu-membahu menciptakan solusi yang inklusif.
- Melawan ageism. Lansia bukan kelompok yang tidak bisa belajar. Dengan bimbingan yang tepat, mereka dapat menguasai teknologi dan tetap aktif dalam menjaga kesehatannya.
Masa Depan Kesehatan Lansia
Teknologi digital tidak bisa menunggu. Populasi dunia semakin menua, dan kebutuhan akan layanan kesehatan yang cepat, murah, dan mudah diakses semakin mendesak. Di titik inilah, kesehatan digital bisa menjadi “jembatan emas” bagi lansia untuk tetap sehat, mandiri, dan produktif. Namun, keberhasilan itu hanya bisa tercapai jika kita memastikan tidak ada yang tertinggal. Lansia berhak atas teknologi yang inklusif, ramah, dan mendukung kualitas hidup mereka. Dengan pendekatan yang tepat, digital health bisa menjadi bukan hanya alat, tapi juga sahabat bagi para lansia di usia emasnya. Seperti visi WHO dalam Decade of Healthy Ageing 2021–2030, keberpihakan pada lansia adalah investasi masa depan bagi semua generasi.
Penulis: Rista Fauziningtyas, S.Kep., Ns., M.Kep., Ph.D
Detil penelitian bisa dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/empowering-age-bridging-the-digital-healthcare-for-older-populati





