Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan neuropsikiatri yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Kondisi ini sering dimulai sejak masa kanak-kanak dan dapat berlanjut hingga dewasa muda. Penanganan ADHD umumnya mengandalkan terapi farmakologis seperti Methylphenidate HCl yang berfungsi meningkatkan fokus dan mengontrol perilaku impulsif. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga pada status gizi individu. Asupan nutrisi yang tidak seimbang dapat memengaruhi efektivitas obat dan bahkan memicu efek samping tertentu.
Hubungan antara nutrisi dan Methylphenidate HCl menjadi sorotan karena beberapa zat gizi memiliki peran langsung dalam metabolisme obat. Misalnya, protein tinggi dapat memperlambat penyerapan obat, sementara kafein dan gula berlebih dapat meningkatkan stimulasi sistem saraf pusat. Dalam kasus yang dilaporkan, pasien muda dengan ADHD mengalami gangguan tidur dan perubahan nafsu makan akibat konsumsi makanan tinggi lemak bersamaan dengan penggunaan Methylphenidate. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengaturan diet seharusnya menjadi bagian penting dalam manajemen terapi ADHD, bukan hanya fokus pada dosis obat.
Selain pengaruh terhadap metabolisme obat, nutrisi juga berperan besar terhadap fungsi kognitif dan perilaku penderita ADHD. Kekurangan mikronutrien seperti zinc, magnesium, dan omega-3 terbukti berhubungan dengan peningkatan gejala hiperaktivitas dan kesulitan konsentrasi. Oleh karena itu, pasien dengan ADHD disarankan untuk menjalani pola makan seimbang dengan fokus pada makanan kaya asam lemak tak jenuh, buah, sayur, dan protein tanpa lemak. Penerapan edukasi gizi secara berkelanjutan dapat membantu meningkatkan hasil terapi dan kualitas hidup pasien. Penelitian ini menegaskan bahwa sinergi antara obat dan diet memiliki peran penting dalam pengelolaan ADHD yang efektif dan berkelanjutan.
Kasus ini juga memberikan pesan penting bagi tenaga kesehatan dan keluarga pasien. Terapi ADHD tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada obat, melainkan perlu pendekatan holistik yang memperhatikan faktor gaya hidup dan kebiasaan makan. Pemantauan pola makan, aktivitas fisik, serta waktu tidur harus menjadi bagian dari rencana perawatan yang
menyeluruh. Dengan dukungan gizi yang baik, terapi farmakologis seperti Methylphenidate dapat bekerja lebih optimal dan menurunkan risiko efek samping seperti insomnia atau gangguan pencernaan. Kesadaran akan interaksi antara gizi dan obat ini diharapkan dapat memperbaiki strategi penanganan ADHD di kalangan remaja dan dewasa muda secara lebih komprehensif.
Penulis: Fitiara Indah Permatasari, S.Gz. dan Dr. Farapti, dr., M.Gizi. Informasi lebih lengkap dari penelitian dapat diakses pada:
Permatasari, F. I., Farapti, F., Jassey, B. ., Stephens, M. T. ., & Zean, G. . (2025). The Effect of Nutrition and Drug Interactions (Methylphenidate HCl) on ADHD in a Young Adult: A Case Report. Jurnal Psikiatri Surabaya, 14(2), 255–265. https://doi.org/10.20473/jps.v14i2.73901





