Sebuah studi terbaru dari Jepang dan Indonesia mengungkap kapan waktu terbaik mengambil cairan lambung saat endoskopi untuk mendeteksi bakteri Helicobacter pylori secara cepat tanpa perlu biopsi. Temuan ini dapat mengubah praktik klinis karena diagnosis H. pylori biasanya membutuhkan tes napas, pemeriksaan tinja, atau pengambilan jaringan lambung yang lebih invasif.
Keberhasilan eradikasi Helicobacter pylori sangat bergantung pada sensitivitas bakteri terhadap klaritromisin (CAM), yang merupakan terapi lini pertama di Jepang, sehingga pemeriksaan mutasi 23S rRNA sebelum pengobatan menjadi penting untuk mencegah kegagalan terapi. Meskipun qPCR 16S rRNA umum digunakan untuk mendeteksi H. pylori, metode ini tidak dapat menilai resistensi obat.
Pada tahun 2022, SmartGeneâ„¢ H. pylori G POCT diperkenalkan sebagai teknologi baru yang mampu mendeteksi bakteri sekaligus menilai resistensi klaritromisin secara cepat melalui cairan intragastrik. Namun, waktu optimal pengambilan cairan lambung selama endoskopi dan pengaruh pewarna indigo karmin terhadap hasil pemeriksaan masih belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi performa qPCR berbasis POCT pada berbagai waktu pengambilan cairan intragastrik dan menentukan kondisi pengambilan sampel yang paling akurat untuk deteksi H. pylori dan resistensi klaritromisin tanpa perlu biopsi.
Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Internal Medicine. Dalam penelitian ini, 50 pasien yang dicurigai terinfeksi H. pylori menjalani endoskopi dan pengambilan cairan lambung pada tiga waktu berbeda: pertama saat endoskop baru memasuki lambung bagian atas, kedua saat berada di bagian tengah hingga bawah lambung, dan ketiga setelah dilakukan penyemprotan pewarna indigo karmin. Sampel dari tiga waktu ini kemudian diperiksa menggunakan SmartGeneâ„¢ dan dibandingkan dengan tes napas yang disebut Urea Breath Test (UBT) sebagai pembanding.
Hasilnya menunjukkan bahwa meski jumlah DNA H. pylori yang terdeteksi relatif konsisten di ketiga waktu pengambilan, momen ketika alat endoskopi berada di bagian tengah hingga bawah lambung memberikan akurasi terbaik. Korelasi antara hasil PCR dan UBT paling kuat ditemukan pada pengambilan waktu kedua. Bahkan ada satu kasus di mana H. pylori hanya dapat terdeteksi pada waktu ini dan tidak pada dua waktu lainnya, menunjukkan bahwa posisi endoskop saat pengambilan sampel sangat memengaruhi keberhasilan deteksi terutama pada infeksi dengan kadar bakteri rendah.
Penyemprotan indigo karmin yang kerap digunakan untuk melihat permukaan mukosa ternyata tidak mengganggu proses deteksi, meskipun cairan menjadi kebiruan. Mesin SmartGeneâ„¢ tetap mampu membaca DNA bakteri dengan baik dan hasil PCR tidak menunjukkan penurunan kualitas.
Para peneliti menduga bahwa sampel pada waktu kedua lebih akurat karena kualitas cairan lambung yang lebih homogen, lebih sedikit kontaminasi saliva, serta viskositas cairan yang lebih stabil sehingga memungkinkan proses filtrasi dan amplifikasi DNA berlangsung optimal. Faktor-faktor ini ditengarai membuat jumlah DNA yang terambil lebih representatif dan mudah terbaca oleh alat PCR cepat.
Metode POCT berbasis cairan lambung ini dinilai dapat menjadi terobosan karena memberikan hasil hanya dalam waktu sekitar 50 menit, tanpa memerlukan pengambilan jaringan. Risiko perdarahan dan rasa tidak nyaman pun jauh berkurang, menjadikannya alternatif ideal untuk pasien yang tidak memungkinkan menjalani biopsi. Selain mendeteksi infeksi, alat ini juga mengidentifikasi mutasi gen 23S rRNA yang menentukan apakah bakteri resisten terhadap klaritromisin, sehingga dokter dapat segera menentukan terapi yang paling efektif.
Temuan ini menjadi langkah penting menuju diagnosis H. pylori yang lebih cepat, aman, dan akurat. Jika diterapkan secara luas, teknologi POCT berbasis cairan lambung berpotensi mengubah pendekatan klinis dalam mendeteksi infeksi yang selama ini menjadi salah satu faktor risiko kanker lambung tersebut.
Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Artikel lengkap dapat diakses pada:





