UNAIR NEWS – Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim yang diketuai Christabel Maureen Vitaley Sung bersama Naia Naurora Sabilla meraih Juara 3 Nasional dalam ajang Esai Ilmiah Populer Scientific Atmosphere 18 yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Aisyah Rachmadani Putri Gofur drg MKes, membimbing tim sejak tahap penyusunan hingga presentasi final.
Maureen menggagas ide dan mengoordinasikan penulisan esai pada tahap penyisihan. Ia dan Naia memilih subtema teknologi lalu mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dengan bidang kardiologi yang sedang berkembang pesat di dunia medis. Setelah lolos ke babak final, keduanya membagi tugas secara terstruktur. Maureen menyusun video animasi, sedangkan Naia merancang poster dan materi presentasi. “Kami ingin menghadirkan solusi yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ujar Maureen. Persiapan matang tersebut mengantarkan mereka meraih posisi ketiga nasional.
ECHO-MIND: Integrasi AI dalam Echocardiography
Melalui karya berjudul “ECHO-MIND: Evaluasi Citra Hati Otomatis Menggunakan Inteligensi Neural Diagnostik Berbasis YOLOv8 untuk Meningkatkan Deteksi Dini Congenital Heart Disease Jenis ASD, VSD, dan PDA di Indonesia,” tim mengintegrasikan AI berbasis YOLOv8 ke dalam mesin echocardiography. Sistem ini menganalisis citra jantung secara otomatis dan real-time lalu menandai dugaan kelainan seperti ASD, VSD, dan PDA secara lebih presisi dan konsisten.

Tim merancang ECHO-MIND sebagai second opinion yang membantu dokter mengambil keputusan lebih cepat dan konsisten. Mereka menegaskan bahwa sistem ini tidak menggantikan dokter, melainkan mendukung keputusan klinis dalam proses skrining dini. Integrasi langsung AI pada perangkat membantu memangkas waktu interpretasi dan meningkatkan efisiensi layanan kesehatan.
Jawab Urgensi CHD di Indonesia
Tim mengangkat isu Congenital Heart Disease (CHD) karena penyakit ini termasuk kelainan bawaan paling umum dan serius pada bayi. Data global menunjukkan angka kejadian sekitar 9-10 per 1.000 kelahiran hidup, sementara Indonesia mencatat lebih dari 43.000 kasus baru setiap tahun.
Tim menyoroti keterbatasan dokter spesialis jantung anak yang jumlahnya sekitar seratus orang dan terkonsentrasi di kota besar. Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan diagnosis, terutama di daerah terpencil dan wilayah dengan fasilitas terbatas. Melalui ECHO-MIND, tim menawarkan solusi yang membantu tenaga kesehatan melakukan skrining awal secara lebih cepat dan akurat. “Prosesnya tidak mudah, tetapi kami belajar banyak tentang komitmen dan kolaborasi,” ungkap tim.
Penulis: Dara Devinta Faradhilla
Editor: Ragil Kukuh Imanto





