Universitas Airlangga Official Website

Prevalensi, Intensitas dan Histopatologi Ektoparasit pada Rajungan (Portunus pelagicus) di Pantai Bulusan, Banyuwangi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kepiting rajungan biru, Portunus pelagicus, dikenal sebagai salah satu komoditas laut bernilai ekonomis tinggi dan tersebar luas di perairan tropis, termasuk Kabupaten Banyuwangi. Selain sekadar kontribusinya terhadap mata pencaharian masyarakat pesisir melalui penangkapan dan perdagangan internasional, spesies ini memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan, terutama jika dikelola dengan menjaga keseimbangan sumber daya dan ekosistem. Namun adanya infestasi parasit yang ditemukan  dapat menurunkan mobilitas, efisiensi makan, dan tingkat kelangsungan hidup rajungan, yang berpotensi memperparah penurunan stok di alam. Penelitian ini telah dilakukan di Pantai Bulusan, Banyuwangi, berusaha mengungkap lebih jelas bagaimana dinamika infestasi Octolasmis atau yang sering sebagai parasite leher angsa (Barnacle) yang menginfeksi rajungan P. pelagicus. Studi ini fokus pada pengamatan dimensi, ciri morfologi, prevalensi, intensitas infestasi, serta efek histopatologis yang ditimbulkan oleh parasit. Temuan utama penelitian menyoroti karakteristik fisik parasit dan pola infeksinya. Peneliti mengukur dimensi Octolasmis sp. dan menemukan variasi ukuran yang berkorelasi dengan umur serta kondisi kesehatan inang. Prevalensi—persentase rajungan yang terinfeksi—tergolong tinggi pada populasi sampel dari Pantai Bulusan, menunjukkan bahwa infestasi ini merupakan permasalahan yang cukup meluas pada ekosistem lokal tersebut. Intensitas, yang didefinisikan sebagai rata-rata jumlah parasit per inang yang terinfeksi, juga menunjukkan nilai yang signifikan, mengindikasikan bahwa infestasi berat dapat mengganggu fungsi insang dan alat gerak rajungan yang sangat penting bagi respirasi dan lokomosi. Dari hasil pengamatan ditemukan bahwa tingkat infestasi sangat tinggi yaitu lebih dari 90% rajungan yang diperiksa terbukti terinfeksi parasite Octolasmis, dengan prevalensi mencapai 83,33% dengan indikator usually dan intensitas infestasi tercatat sebesar 232,9 (awfully). Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah analisis histopatologisnya, yang mengkaji kerusakan jaringan akibat infestasi parasit pada tingkat seluler. Melalui teknik mikroskopis, peneliti mendokumentasikan respons jaringan pada eksoskeleton dan jaringan lunak rajungan, termasuk peradangan, nekrosis, dan deformasi struktural pada area perlekatan Octolasmis sp. Perubahan ini tidak hanya melemahkan individu rajungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lanjutan terhadap dinamika populasi, seperti penurunan keberhasilan reproduksi serta meningkatnya kerentanan terhadap predator dan stres lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa infestasi bukanlah masalah sporadis, melainkan kondisi yang sangat umum dalam populasi sesuatu yang patut menjadi perhatian serius bagi pengelolaan sumber daya laut di wilayah Banyuwangi. Implikasi penelitian ini melampaui ranah akademik dan memiliki relevansi langsung terhadap pengelolaan perikanan. di Kabupaten Banyuwangi, di mana penangkapan rajungan menjadi mata pencaharian utama masyarakat pesisir, pemahaman mengenai peran Octolasmis sp. dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi pengelolaan, seperti pemantauan habitat atau pengembangan pendekatan seleksi terhadap individu yang lebih tahan terhadap infestasi serta menjadi fondasi penting untuk menyeimbangkan antara pemanfaatan sumber daya dan konservasi.

Biodata Penulis

Nama: Maria Agustina Pardede, S.Pi., M.Si.

NIP:           199708162023023201

No Hp:           085854618070

Judul Artikel:          Dimension, Prevalence, Intensity and Histopathology of Octolasmis sp.

On Blue Swimming Crab from Bulusan Beach, Banyuwangi Regency,

Indonesia

Link Artikel:           https://doi.org/10.21608/ejabf.2025.431281.6850