Universitas Airlangga Official Website

Adaptasi Lintas Batas: Pengalaman Perawat Indonesia di Arab Saudi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Bekerja di luar negeri sering dianggap sebagai “jalan cepat” memperbaiki ekonomi. Namun, bagi perawat Indonesia yang bermigrasi ke Kingdom of Saudi Arabia (KSA), cerita utamanya tidak berhenti pada peningkatan pendapatan. Mereka menjalani proses adaptasi lintas budaya yang menuntut ketangguhan professional dan terutama, kecakapan komunikasi. Di ruang klinik, bahasa bukan sekadar kata; ia membawa aturan sopan santun, jarak sosial, dan cara mengambil keputusan. Singkatnya: salah intonasi bisa lebih “menggigit” daripada salah kosakata.

Penelitian kualitatif ini mengeksplorasi pengalaman hidup 20 perawat Indonesia yang telah tinggal dan bekerja di KSA minimal satu tahun. Data dikumpulkan pada Januari 2024 melalui wawancara semi-terstruktur di rumah sakit, kemudian ditranskripsikan dan dianalisis. Dari pengalaman para partisipan, muncul empat tema utama: (1) motivasi bekerja di luar negeri; (2) tantangan lintas budaya; (3) perbedaan praktik keperawatan dan standar profesional; serta (4) manfaat hidup dan bekerja di luar negeri.

Motivasi bekerja di KSA umumnya merupakan kombinasi kebutuhan ekonomi, peluang karier, dan keinginan memperluas pengalaman klinis. Akan tetapi, tantangan lintas budaya segera muncul setelah penempatan. Isu yang dipersepsikan paling kompleks adalah komunikasi—baik dengan pasien maupun rekan kerja. Hambatan komunikasi tidak hanya terkait keterbatasan bahasa Arab/Inggris, tetapi juga perbedaan gaya berkomunikasi: cara bertanya, cara memberi penjelasan, kapan harus tegas, dan bagaimana menghormati keterlibatan keluarga pasien. Dalam konteks tertentu, kalimat yang “secara tata bahasa benar” tetap dapat disalahpahami karena perbedaan makna sosial di balik kata-kata.

Tema ketiga menyoroti perbedaan praktik keperawatan dan standar profesional. Perawat menghadapi variasi prosedur klinis, pembagian peran antarprofesi, serta tuntutan dokumentasi yang tidak selalu sama dengan pengalaman di Indonesia. Pada fase awal, kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dan rasa tidak percaya diri. Namun, banyak perawat melaporkan adanya pembelajaran cepat: menjadi lebih disiplin pada protokol, lebih rapi dalam pencatatan, serta lebih terbiasa bekerja dalam tim multinasional. Adaptasi, di sini, bukan berarti mengubah identitas profesional, melainkan menyelaraskan keterampilan dengan sistem layanan yang berbeda.

Meski menantang, manfaat yang dilaporkan juga nyata: peningkatan kepercayaan diri, keterampilan klinis yang lebih luas, jejaring profesional internasional, dan stabilitas ekonomi keluarga. Pengalaman lintas batas ini memperkuat identitas profesi—mereka belajar menjaga standar praktik sekaligus peka pada nilai lokal dan kebutuhan pasien.

Kesimpulan penelitian menegaskan perlunya dukungan tambahan bagi perawat Indonesia di KSA, khususnya terkait komunikasi. Persiapan pra-keberangkatan idealnya mencakup pelatihan bahasa berbasis situasi klinis, simulasi komunikasi dengan pasien/keluarga, dan orientasi norma sosial setempat. Di tempat kerja, program orientasi yang jelas, pendamping (mentor) sebaya, serta akses penerjemah atau alat bantu komunikasi dapat mengurangi risiko salah paham. Temuan ini relevan bagi kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia dan KSA untuk memperkuat persiapan, dukungan, dan retensi perawat migran.


Penulis: Resti Refina A.; Ferry Efendi; Hakim Zulkarnain; Wedad M. Almutairi; Rifky O. Pradipta; I. Gede Juanamasta