Universitas Airlangga Official Website

Perawatan kamuflase maloklusi skeletal kelas III: Laporan kasus

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Maloklusi Kelas III skeletal merupakan salah satu masalah paling menantang dalam ortodonti. Perlu dipertimbangkan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan maloklusi mengakibatkan erupsi gigi permanen rahang atas ke arah lingual, sehingga menghasilkan oklusi Kelas III dan protrusi mandibula. Faktor etiologi meliputi predisposisi genetik, anomali perkembangan, protrusi mandibula habitual, atau juga karena trauma. Estetika wajah yang terganggu seringkali terjadi pada kasus-kasus ini, yang merupakan alasan utama pasien mencari perawatan. Prevalensi maloklusi Kelas III pada populasi Tiongkok dan Jepang mencapai sekitar 12% dan terutama disebabkan oleh ketidaksesuaian skeletal, seperti retrognatisme maksila, prognatisme mandibula, atau kombinasi keduanya. Namun, banyak pasien menolak operasi ortognatik sebagai pilihan perawatan utama. Sebagai alternatif, kamuflase ortodonti dapat dipertimbangkan. Pendekatan ini membutuhkan pemilihan kasus yang cermat dan analisis sefalometrik yang tepat, khususnya untuk kasus Kelas III, untuk memastikan hasil yang dapat diprediksi dan stabil. Tujuan perawatan ortodonti kamuflase adalah untuk mencapai oklusi dan estetika yang dapat diterima melalui kompensasi dentoalveolar untuk ketidaksesuaian skeletal. Laporan kasus ini menyajikan perawatan ortodonti kamuflase pada kasus maloklusi skeletal Kelas III pada seorang wanita Asia.

Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mencapai harmoni gigi pada kasus maloklusi skeletal Kelas III.

Seorang wanita berusia 19 tahun (Asia) datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlang-ga, klinik spesialis ortodonti. Keluhan utamanya adalah merasa tidak percaya diri dengan senyumnya karena rahang bawahnya terlihat lebih maju daripada gigi atasnya dan giginya berdesakan. Dia memiliki profil cekung tipe gambar 1A. Selama konsultasi, pasien meminta agar giginya diberi perawatan ortodonti, sehingga senyumnya akan estetis dan giginya akan rapi. Dia sangat kooperatif dan dalam kondisi mental yang baik dan tidak memiliki riwayat penyakit sistemik. Pasien telah dijelaskan prosedur perawatan yang akan diberikan dan bersedia menandatangani formulir persetujuan. Pemeriksaan intraoral menunjukkan fase gigi permanen dan kondisi kebersihan mulut sedang (Gambar 1B). Sendi temporomandibular normal dan tidak ada perpindahan mandibula. Ia memiliki overjet -4 mm dan overbite 2 mm. Gigi seri tengah kanan rahang atas menunjukkan labioversi (gigi 11) dan gigi seri lateral kanan rahang atas menunjukkan palatoversi (gigi 12). Diskrepansi model pada rahang atas adalah -3 mm dan pada rahang bawah adalah -7 mm. Radiografi panoramik menunjukkan gigi molar ketiga rahang atas kanan dan kiri yang impaksi (gigi 18 dan gigi 28) (Gambar 1C). Diagnosis kasus ini adalah maloklusi Angle Kelas III dengan maloklusi Skeletal Kelas III (Gambar 1D). Manajemen Kasus: Rencana perawatan untuk kasus ini terdiri dari beberapa langkah berurutan. Awalnya, komunikasi, informasi, dan edukasi yang menyeluruh diberikan untuk memastikan pasien memahami tujuan dan prosedur. Hal ini diikuti dengan pencabutan gigi 34 dan 44 untuk menciptakan ruang yang cukup guna mencapai oklusi ideal. Selanjutnya, koreksi penumpukan gigi anterior rahang atas dan gigi posterior rahang bawah dilakukan. Fase berikutnya melibatkan koreksi overbite dan penyesuaian pergeseran garis tengah rahang atas dan bawah. Akhirnya, perawatan dilanjutkan

dengan detail dan penyelesaian untuk menyempurnakan oklusi dan estetika, setelah itu fase retensi diimplementasikan. Evaluasi pasca perawatan dilakukan untuk memastikan stabilitas dan keberhasilan jangka panjang dari hasil yang dicapai. Dalam kasus ini, perawatan ortodontik dilakukan pada rahang atas dan bawah. Tahapan perawatan untuk kasus rahang atas dimulai dengan pemasangan alat ortodontik slot 0,022 yang telah disesuaikan sebelumnya dan pita molar pada molar pertama rahang atas kanan (gigi 16) dan molar pertama rahang atas kiri (gigi 26). Kemudian dilakukan perataan dan penyejajaran dengan NiTi 0,012, NiTi 0,014, NiTi 0,016, NiTi 0,016 x 0,016, NiTi 0,016 x 0,022. Selanjutnya dilakukan koordinasi kawat lengkung stainless steel 0,016 x 0,022, stainless steel 0,017 x 0,025. Setelah itu, dilanjutkan dengan penyelesaian dan detail menggunakan stainless steel 0,017 x 0,025.

Tujuan perawatan tercapai; terdapat estetika senyum yang baik dan diikuti dengan evaluasi klinis dan sefalometrik terhadap hasil perawatan. Pasien menyatakan kepuasan dengan hasil perawatan secara keseluruhan yang dicapai di akhir perawatan. Kamuflase ortodontik adalah terapi yang efektif untuk mengoreksi maloklusi skeletal Kelas III. Dalam kasus ini, pasien senang dengan hasil perawatan secara keseluruhan dan puas dengan senyum yang indah dan estetika setelah penyelesaian perawatan ortodontik kamuflase.

Penulis: Ida Bagus Narmada

Link: https://jdmfs.org/index.php/jdmfs/article/view/1886/984