Gangguan gastrointestinal fungsional pada anak dan remaja mengalami peningkatan di masa pandemi. Secara global, sekitar satu dari empat anak dan remaja mengalami gangguan gastrointestinal fungsional. Gangguan gastrointestinal atau yang dikenal Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI), merupakan gangguan saluran cerna yang disebabkan gangguan gerakan usus yang berpengaruh pada kondisi psikologis dan sistem saraf, perubahan sistem kekebalan dan lapisan usus, ketidakseimbangan bakteri usus dan kepekaan terhadap rasa nyeri. Perubahan gaya hidup terjadi pada anak dan remaja selama pandemi. Anak dan remaja mengalami penurunan akses ke layanan kesehatan dan dukungan psikologis karena pembatasan sosial. Perubahan gaya hidup selama pandemi berdampak pada kesehatan pencernaan anak dan remaja. Beberapa negara di dunia melaporkan kejadian gangguan gastrointestinal fungsional pada masa pandemi mengalami peningkatan. Populasi anak di wilayah Asia-Pasifik berkisar lebih dari setengah populasi anak di dunia, namun data mengenai gangguan gastrointestinal fungsional di wilayah Asia-Pasifik masih terbatas. Penelitian mengenai gangguan gastrointestinal fungsional di Indonesia juga masih sangat sedikit dilakukan. Salah satu penelitian di Jakarta menunjukkan sekitar 23% anak mengalami gangguan pencernaan di masa pembelajaran daring.
Penelitian yang dilakukan merupakan studi pertama kali di Indonesia dengan melibatkan remaja berusia 13-18 tahun. Remaja yang dilibatkan sekurangnya dari satu sekolah di setiap provinsi. Cakupan wilayah dari penelitian cukup luas diantaranya terdiri dari 9 provinsi yaitu Riau, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2022 hingga April 2023 dengan melibatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian tidak melibatkan anak dan remaja yang memiliki riwayat operasi perut dalam setahun terakhir, penyakit kronis dan riwayat konsumsi obat obatan jangka panjang. Tujuan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan pencernaan remaja di Indonesia selama masa pandemi COVID-19, khususnya gangguan pencernaan yang berhubungan dengan usus dan otak.
Gangguan pencernaan secara umum lebih sering dialami oleh remaja perempuan dibandingkan laki-laki. Hasil penelitian dari sekitar 5.247 remaja di Indonesia menunjukkan sekitar 3 dari 10 remaja dalam penelitian ini mengalami gangguan gastrointestinal fungsional atau gangguan interaksi usus dan otak di masa pandemi. Sekitar satu dari lima remaja di Indonesia pada masa pandemi paling sering mengalami sembelit fungsional. Selain itu, remaja yang mengalami dua atau lebih jenis gangguan gastrointestinal fungsional berkisar 15% dari keseluruhan remaja di Indonesia. Gangguan gastrointestinal fungsional yang paling terjadi di masa pandemi adalah kombinasi antara gangguan sembelit dan gangguan nyeri perut. Sembelit lebih sering dialami remaja usia 13–15 tahun, sedangkan gangguan lambung fungsional lebih banyak ditemukan pada usia 16–18 tahun.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa angka kejadian gangguan gastrointestinal fungsional di masing-masing wilayah relatif berbeda. Provinsi dengan angka kejadian gangguan gastrointestinal fungsional di masa pandemi adalah Provinsi Riau, sedangkan Provinsi dengan angka kejadian rendah di masa pandemi adalah Provinsi Papua. Kejadian gangguan sembelit fungsional paling sering terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, sedangkan gangguan lambung fungsional paling sering terjadi di Jawa Tengah. Gangguan pencernaan fungsional pada remaja merupakan masalah kesehatan yang cukup besar dan bervariasi antar wilayah. Hal tersebut menunjukkan bahwa beberapa faktor dapat mempengaruhi kesehatan pencernaan remaja di antaranya, faktor lingkungan, sosial budaya, faktor ekonomi, akses layanan kesehatan, pola makan dan gaya hidup masyarakat.
Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa gangguan gastrointestinal fungsional atau gangguan interaksi usus dan otak merupakan masalah kesehatan yang cukup sering dialami remaja Indonesia, terutama selama masa pandemi COVID-19. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan, sekolah, dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan edukasi, deteksi dini, serta pencegahan gangguan pencernaan pada remaja khususnya pada kondisi pandemi. Harapan dari penelitian dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan pencernaan dan kesehatan mental remaja, terutama di masa perubahan besar seperti pandemi. Diperlukan penelitian lanjutan untuk menganalisa dampak jangka panjang gangguan pencernaan pada anak. Studi lanjutan juga penting untuk menilai efektivitas program pencegahan dan intervensi yang ditujukan bagi remaja Indonesia.
Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41001442
Darma A, Nesa NNM, Sumitro KR, Rokhayati E, Budiyanto, Tallo KT, Ariyanti NR, Retnaningtyas LP, Febryani DDSM, Malino IY, Brahmantya H, Wenas W, Athiyyah AF, Ranuh RG, Sudarmo SM. Prevalence of Disorders of Gut-Brain Interaction in Indonesian Adolescents: Has It Increased during the Coronavirus Disease Pandemic? Pediatr Gastroenterol Hepatol Nutr. 2025 Sep;28(5):302-311. doi: 10.5223/pghn.2025.28.5.302. Epub 2025 Sep 9. PMID: 41001442; PMCID: PMC12457811.





