Universitas Airlangga Official Website

Efek Minuman Teh Ringan Kemasan pada Infeksi Bakteria

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Minuman Teh dalam Kemasan saat ini menjamur dan banyak di konsumsi Masyarakat. Selain ringkas dan praktis, banyak sekali variasi rasa serta mudah di beli sepanjang ada toko serba ada atau minimart yang tersedia dalam kurun 24 jam. Konsumsi the memang diminati sejak lama dan pada semua umur, pada anak hingga lansia. Sejatinya teh di beberapa negara dikonsumsi pada kondisi hangat dan di suguhkan sebagai minuman disertai hidangan untuk menyambut tamu hingga acara pesta besar-besaran. Di beberapa negara keberadaan the menjadi fenomena penting dan menjadi suatu identitas masyarakatnya, yang terkenal misalnya negara jepang. Adanya jamuan minum the secara tradisional sebagai suatu upacara turun-temurun serta identitas Machaa atau teh hijau yang sangat tersohor sebagai konsumsi harian.

Konsumsi teh memiliki Sejarah sangat panjang bisa di telusuri hingga zaman colonial. Di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda, produksi Teh banyak terdapat di daerah dataran tinggi mulai dari puncak bogor, daerah lawing hingga Bukit barisan Sumatra. Ada korelasi bahwa mengkonsumsi the banyak memberikan efek Kesehatan pada individu yang mengkonsumsinya. Kandungan tah di percaya dan dibuktikan memiliki anti oksidan yang dapat menetralisir bahan beracun dalam tubuh serta memberikan dampak Kesehatan bila mengkonsumsinya secara rutin. Di sebagian besar negara konsumsi teh tidak disertai dengan gula, sehingga sangat terasa warna rasanya. Teh Kemasan yang beredar di Indonesia memiliki varian rasa yang berbeda-beda, tentunya dengan kadar glukosa pemanis yang beragam.

The kemasan dengan variasi rasa dan kadar glukosa bervariasi apa dan bagaimana Efeknya pada Infeksi ? dikeyahui dalam bidang mikrobiologi, Kadar Glukosa yang tinggi dapat memicu pertumbuhan bakteri. Staphylococcus aureus adalah bakteri patogen yang bertanggung jawab atas infeksi serius pada manusia, yang dapat melakukan pembentukan biofilm yang secara signifikan meningkatkan resistensi antibiotiknya, terutama pada Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA). Minuman teh kemasan, yang mengandung gula dan berbagai komponen bioaktif, diduga memengaruhi pembentukan biofilm bakteri. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai jenis minuman teh kemasan terhadap ketebalan biofilm S. aureus dan MRSA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teh J, dengan konsentrasi gula 8,06 g/100 mL, menunjukkan nilai OD tertinggi untuk Staphylococcus aureus yang sensitif terhadap metisilin (MSSA) sebesar 0,192, sedangkan Teh I, dengan konsentrasi gula 9 g/100 mL, menunjukkan nilai OD tertinggi untuk MRSA sebesar 0,112. Teh kemasan lainnya juga menunjukkan nilai OD yang tinggi, yang mengindikasikan potensi pembentukan biofilm sedang hingga tinggi. OD Adalah satuan yang digunakan dalam alat spektrofotometer untuk mengetahui ketebalan biofilm yang dipengaruhi oleh kadar glukosa dalam The.

Temuan ini menunjukkan bahwa minuman teh kemasan, khususnya yang memiliki kandungan gula lebih tinggi, berkontribusi pada peningkatan pembentukan biofilm pada S. aureus dan MRSA, sehingga menimbulkan potensi risiko persistensi dan resistensi bakteri pada konsumen. Studi ini menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh diet terhadap pembentukan biofilm bakteri dan implikasinya terhadap kesehatan masyarakat.

Oleh: Agung Dwi Wahyu Widodo

Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi FK Unair Surabaya

Referensi

The Effect of Packaged Tea Beverages on Biofilm Thickness of Staphylococcus aureus and MRSA: A Laboratory Experimental Study

DOI: https://doi.org/10.26538/tjnpr/v9i4.48

https://tjnpr.org/index.php/home/article/view/6216