Universitas Airlangga Official Website

Infeksi Jamur Pada Kaki

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Infeksi jamur pada kaki, atau yang secara medis dikenal sebagai tinea pedis, merupakan kondisi dermatologis yang sangat umum ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia. Namun, tidak semua infeksi ini disebabkan oleh kelompok jamur dermatofita biasa. Sebuah laporan kasus klinis terbaru dari Departemen Dermatologi dan Venereologi RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, menyoroti penemuan langka mengenai infeksi yang disebabkan oleh Cylindrocarpon sp., sebuah jamur saprofit yang umumnya ditemukan di tanah dan jarang bersifat patogen pada manusia. Kasus ini melibatkan seorang pasien wanita berusia 68 tahun dengan riwayat medis Diabetes Mellitus. Pasien datang dengan keluhan lesi putih yang gatal (maserasi) dan lecet (erosi) di sela-sela jari kaki yang telah berlangsung selama empat bulan. Secara klinis, tampilan awal sangat menyerupai tinea pedis interdigitalis atau infeksi jamur sela jari biasa

Kecurigaan medis muncul ketika terapi standar menggunakan antijamur oral Griseofulvin tidak memberikan respons klinis yang diharapkan. Ketidakberhasilan terapi awal ini mendorong tim medis untuk melakukan pemeriksaan penunjang berupa kultur jamur pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Hasil pembiakan menunjukkan pertumbuhan koloni jamur yang setelah diidentifikasi secara mikroskopis merupakan Cylindrocarpon sp., yang ditandai dengan struktur makrokonidia berbentuk silindris.

Identifikasi jamur tanah ini berkaitan erat dengan riwayat aktivitas pasien yang sering terpapar langsung dengan tanah basah tanpa menggunakan alas kaki. Selain faktor lingkungan, kondisi sistemik pasien berupa diabetes mellitus diduga kuat berperan sebagai faktor predisposisi yang mempermudah invasi jamur non-dermatofita ke jaringan kulit. Penyakit metabolik ini diketahui dapat menurunkan respons imun kulit dan memperlambat proses penyembuhan jaringan.

Berdasarkan hasil identifikasi patogen yang akurat, strategi pengobatan disesuaikan. Pasien diberikan terapi sistemik berupa Itraconazole dengan dosis 100 mg dua kali sehari. Penggunaan Itraconazole dipilih karena spektrum aktivitasnya yang luas terhadap berbagai jenis jamur non-dermatofita. Evaluasi klinis setelah dua minggu menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan, dengan hilangnya keluhan gatal dan penutupan lesi kulit yang sebelumnya mengalami erosi.

Laporan kasus ini memberikan perspektif penting bagi para praktisi kesehatan dan masyarakat mengenai pentingnya diagnosis mikrologis yang tepat pada kasus-kasus infeksi kulit yang resisten terhadap pengobatan standar. Beberapa poin penting yang dapat diambil sebagai pelajaran adalah:

  1. Akurasi Diagnosis: Kultur jamur merupakan standar emas dalam menentukan etiologi infeksi jamur yang tidak menunjukkan perbaikan dengan terapi lini pertama.
  2. Perlindungan Fisik: Penggunaan alas kaki yang memadai saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di area tanah yang lembap, sangat krusial untuk mencegah inokulasi jamur saprofit.
  3. Manajemen Penyakit Penyerta: Kontrol glikemik pada penderita diabetes sangat penting dalam menurunkan risiko infeksi oportunistik yang sulit disembuhkan.

Dengan pendekatan diagnostik yang tepat dan kesadaran akan higienitas lingkungan, infeksi jamur kaki yang kompleks sekalipun dapat ditangani dengan hasil yang optimal.

Penulis : Dr.Medhi Denisa Alinda,dr.,Sp.DVE,Subsp.DT

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada :

https://doi.org/10.58240/1829006X-2025.21.8-255

FUNGAL FOOT INFECTION CAUSED BY CYLINDROCARPON SP.: A RARE CASE

FN Hadiwidjaja MD1, MD Alinda MD1*