Universitas Airlangga Official Website

Efektivitas Program Pendidikan Terarah dalam Meningkatkan Pengetahuan Pengelolaan Bebek di Berbagai Kelompok Profesi dan Pendidikan di Pedesaan Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Budidaya bebek semakin diakui sebagai komponen strategis mata pencaharian pedesaan, khususnya di negara-negara berkembang di mana pertanian tetap menjadi sumber utama pangan dan pendapatan. Bebek menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan spesies unggas lainnya, termasuk kemampuan beradaptasi dengan beragam lingkungan, biaya produksi yang rendah, dan kemampuan untuk diintegrasikan ke dalam sistem pertanian campuran tanaman dan ternak. Fitur-fitur ini menempatkan budidaya bebek sebagai jalur penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga di lingkungan pedesaan.

Di Indonesia, peternakan bebek skala kecil tidak hanya berkontribusi pada pendapatan rumah tangga tetapi juga pada sistem pangan lokal, khususnya melalui produksi telur dan daging. Namun, produktivitas dalam sistem berbasis bebek masih suboptimal karena terbatasnya akses terhadap pengetahuan teknis, praktik peternakan yang buruk, dan kurangnya dukungan penyuluhan [3]. Studi menunjukkan bahwa peningkatan akses petani terhadap pelatihan yang relevan secara signifikan meningkatkan kinerja ternak dan penerapan praktik terbaik [4, 5]. Program pendidikan yang disesuaikan dengan konteks lokal dapat mendorong produksi berkelanjutan, kesadaran biosekuriti, dan pemberian pakan yang efisien, yang semuanya penting untuk sistem peternakan yang tangguh [6]. Terlepas dari manfaat ini, efektivitas intervensi pendidikan dapat bervariasi tergantung pada karakteristik peserta seperti pekerjaan dan tingkat pendidikan. Individu dengan pengalaman bertani sering dianggap memiliki keuntungan dalam mengadopsi inovasi teknis, sedangkan mereka yang berasal dari latar belakang non-pertanian mungkin menghadapi hambatan dalam memahami dan menerapkan isi pelatihan [7]. Demikian pula, pendidikan formal yang rendah sering dikaitkan dengan rendahnya adopsi praktik baru, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang inklusivitas model penyuluhan konvensional [8]. Perbedaan ini menghadirkan tantangan bagi perancang program yang berupaya menjangkau populasi pedesaan yang heterogen. Untuk mengatasi masalah ini, program pendidikan yang ditargetkan telah muncul sebagai strategi yang menjanjikan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan di berbagai kelompok sosio-demografis. Program-program tersebut dirancang agar inklusif, mudah diakses, dan relevan secara kontekstual. Ketika diimplementasikan secara efektif, program-program tersebut telah menunjukkan kapasitas untuk meningkatkan perolehan pengetahuan tanpa memandang pengalaman sebelumnya atau pendidikan formal peserta [9, 10]. Studi ini menyelidiki efektivitas program pendidikan yang ditargetkan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman teknis tentang pengelolaan bebek di kalangan penduduk pedesaan dengan latar belakang pekerjaan dan pendidikan yang beragam. Dengan mengevaluasi hasil pengetahuan jangka pendek sebelum dan sesudah pelatihan, studi ini berkontribusi pada semakin banyaknya bukti yang mendukung pendekatan inklusif dalam pendidikan pertanian dan selaras dengan prioritas pembangunan global, khususnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 2 tentang nol kelaparan.

Penulis; Prof. Dr. Widjiati, drh., M.Si.

Link: https://www.researchgate.net/publication/400788098_Effectiveness_of_Targeted_Educational_Programs_in_Improving_Duck-Management_Knowledge_Across_Occupational_and_Educational_Groups_in_Rural_Indonesia