Universitas Airlangga Official Website

Peran Protein P53 sebagai Predictor Keganasan Rongga Mulut

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kanker tetap menjadi salah satu penyakit yang paling umum di seluruh dunia. Pada tahun 2020, terdapat 19.292.789 kasus baru yang dilaporkan secara global, dengan 9.958.133 kematian. Di Indonesia, tercatat 396.914 kasus baru dan 234.511 kematian terkait kanker. Meningkatnya prevalensi kanker disebabkan oleh meningkatnya faktor risiko seperti merokok, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan infeksi. Kanker mulut juga menunjukkan prevalensi global yang tinggi dan dikaitkan dengan angka kematian yang signifikan. Secara global, diperkirakan 377.713 kasus baru dan 177.757 kematian tercatat pada tahun 2020. Di Indonesia, dilaporkan 5.780 kasus baru, dengan 3.087 kematian.         

Kanker timbul dari gangguan dan modifikasi fungsi seluler, yang diakibatkan oleh penumpukan perubahan genetik dan epigenetik yang menyebabkan ketidakstabilan genom. Berbagai faktor risiko dapat mempercepat perkembangan kanker, termasuk faktor fisik, kimia, dan biologis. Faktor fisik yang dapat menyebabkan kanker adalah paparan sinar ultraviolet, radiasi pengion, dan medan elektromagnetik. Data epidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara paparan medan elektromagnetik minimal dan risiko kanker payudara. Radiasi pengion adalah karsinogen yang memiliki kemampuan untuk memicu pertumbuhan di semua organ. Kondisi ini dapat menyebabkan kanker terjadi secara spontan. Sementara itu, radiasi ultraviolet adalah faktor umum yang sering terjadi di lingkungan. Radiasi ini sering memengaruhi kulit dengan tanda-tanda berbahaya.                                                        

Faktor kimia yang sering menyebabkan kanker adalah penggunaan rokok tembakau, konsumsi alkohol, dan bahan kimia lainnya. Produk tembakau yang digunakan dalam rokok merupakan sumber berbagai karsinogen, seperti nitrosamin, tar, dan faktor beracun lainnya. Perokok aktif dan pasif berdampak buruk pada kesehatan dan meningkatkan risiko kanker. Risiko kanker bergantung pada jumlah dan jenis alkohol yang dikonsumsi serta faktor-faktor lainnya. Orang yang merokok berat dan sering mengonsumsi alkohol memiliki risiko tinggi terkena Karsinoma Sel Skuamosa Esofagus. Stephen dkk. menyatakan bahwa perokok aktif yang mengonsumsi alkohol >15 g/hari memiliki risiko 8 kali lebih tinggi terkena Karsinoma Sel Skuamosa Esofagus dibandingkan dengan non-perokok yang mengonsumsi alkohol 0-5 g/hari. Sementara itu, non-perokok yang mengonsumsi alkohol >15 g/hari memiliki risiko 4 kali lebih tinggi terkena Karsinoma Sel Skuamosa Esofagus dibandingkan dengan non-perokok yang mengonsumsi alkohol 0-5 g/hari.

Faktor biologis yang sering dikaitkan dengan kanker adalah pola makan, aktivitas fisik, dan infeksi. Perkembangan zaman telah menghasilkan perkembangan jenis makanan yang kini semakin banyak ditemukan mengandung zat beracun yang bersifat karsinogenik. Pola makan yang salah dapat menyebabkan obesitas, yang juga diduga sebagai penyebab tumor ganas. Kurangnya aktivitas fisik dianggap sebagai faktor risiko kanker melalui mekanisme seperti peningkatan berat badan. Agen infeksi bertanggung jawab atas sekitar 15% kasus kanker di seluruh dunia. Ini termasuk virus dan bakteri, seperti Human Papillomavirus (HPV), yang dikaitkan dengan kanker serviks, dan Epstein-Barr Virus (EBV), yang dikaitkan dengan kanker nasofaring. Neisseria gonorrhoeae, dikaitkan dengan kanker prostat dan kandung kemih, dan Klamidia trakomatis, dikaitkan dengan kanker ovarium.

Seiring dengan perkembangan teknologi, onkologi telah memasuki era baru dengan memanfaatkan respons imun sebagai biomarker kanker. Sebelumnya, pasien kanker mulut hanya dapat dideteksi ketika mereka telah memasuki stadium lanjut melalui tanda-tanda klinis yang terlihat. Kondisi ini mengakibatkan keterlambatan pengobatan karena kanker telah memasuki stadium lanjut yang menyebabkan pasien memiliki harapan hidup yang rendah. Keberadaan biomarker kanker dapat menjadi solusi untuk mendeteksi kanker sejak dini sehingga pengobatan dapat dilakukan segera yang meningkatkan harapan hidup pasien.                                             

p53 diakui sebagai biomarker penting dalam mendiagnosis dan menilai prognosis kanker. Ekspresinya yang meningkat di berbagai jenis kanker sering dikaitkan dengan peningkatan keparahan penyakit. Mutasi gen p53 mengganggu peran normalnya dalam menghentikan siklus sel pada fase G1 dan memulai apoptosis. Gangguan ini menyebabkan akumulasi gen yang rusak secara terus menerus dan proliferasi sel yang tidak terkontrol, yang merupakan ciri khas kanker10. Pada kasus Karsinoma Sel Skuamosa Kepala dan Leher (HNSCC), ekspresi p53 mutan dikaitkan dengan percepatan perkembangan tumor dan keterlibatan kelenjar getah bening yang lebih besar. Sebuah studi yang melibatkan 20 pasien dengan HNSCC invasif melaporkan tidak adanya p53 mutan pada mukosa yang secara klinis sehat, tetapi keberadaannya pada jaringan displastik. Temuan ini mendukung kemungkinan bahwa p53 mutan dapat berfungsi sebagai penanda prognostik untuk transformasi ganas di rongga mulut.

Penulis: Anis Irmawati

Artikel ini bisa diakses di: https://doi.org/10.30574/gscbps.2026.34.2.0069.