Tembakau menyebabkan lebih dari 8 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia, prevalensi konsumsi tembakau tetap sangat tinggi di kalangan remaja. Survei nasional yang dilakukan pada tahun 2013 dan 2018 mengungkap prevalensi penggunaan tembakau yang tinggi di kalangan remaja. Prevalensi merokok di antara individu berusia 10-19 tahun meningkat dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018, menandai peningkatan signifikan sekitar 20%. Selain itu, sebuah studi melaporkan tren yang mengkhawatirkan tentang tingginya tingkat perilaku kecanduan merokok di kalangan siswa Indonesia. Terlepas dari skenario yang mengkhawatirkan ini, banyak remaja menyatakan keinginan untuk berhenti merokok tetapi menghadapi tantangan yang cukup besar karena kurangnya niat dan motivasi yang kuat.
Remaja yang merokok berisiko tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan serius, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pertama, merokok dapat merusak paru-paru dan sistem pernapasan, menyebabkan masalah seperti sesak napas, batuk kronis, dan peningkatan risiko penyakit paru-paru kronis seperti asma dan emfisema. Selain itu, terdapat korelasi antara merokok dan masalah kesehatan mental pada remaja, karena merokok dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan stres. Lebih lanjut, nikotin dalam rokok sangat adiktif, dan remaja lebih rentan terhadap kecanduan daripada orang dewasa, sehingga sulit untuk berhenti meskipun mereka menyadari konsekuensi negatifnya. Selain itu, merokok dapat memengaruhi kemampuan kognitif dan konsentrasi, memengaruhi prestasi akademik dan produktivitas belajar. Secara fisik, merokok dapat merusak kulit, gigi, dan kuku, serta menyebabkan bau mulut yang tidak sedap dan gigi menguning, yang memengaruhi kepercayaan diri dan penampilan fisik. Terakhir, merokok selama masa remaja dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius di kemudian hari, seperti penyakit jantung, stroke, kanker, dan gangguan pembuluh darah.
Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memprediksi niat berhenti merokok di kalangan remaja di Indonesia. Studi menggunakan desain cross-sectional dan memanfaatkan data sekunder dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2019 yang dilakukan di Indonesia. Dengan menggunakan teknik purposive sampling, dataset yang kuat yang terdiri dari 1.191 remaja dikumpulkan dengan cermat. Analisis data menggunakan aplikasi STATA, dengan menggunakan uji inferensial seperti chi-square dan regresi logistik untuk identifikasi dan pemrosesan variabel, memastikan ketepatan dan ketelitian temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja ingin berhenti merokok (81,61%). Kemampuan untuk berhenti merokok (rasio odds yang disesuaikan [AOR]=9,80, interval kepercayaan 95% [CI]=6,12-15,73), persepsi bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan (AOR=2,20, CI=1,40-3,48), sumber dukungan (AOR=1,68, CI=1,02-2,50), status merokok teman (AOR=0,48, CI=0,38-0,74), merupakan prediktor yang terkait dengan niat remaja untuk berhenti merokok. Data dari GYTS menunjukkan bahwa mayoritas remaja yang merokok berniat untuk berhenti merokok. Berdasarkan wawasan ini, direkomendasikan agar pemerintah meningkatkan penegakan dan pengawasan kebijakan pengendalian tembakau yang ada untuk secara efektif mendukung inisiatif penghentian merokok di kalangan remaja.
Penulis: Candra Panji Asmoro, S.Kep., Ns., M.Kep.





