Prediabetes pada remaja bukan lagi isu “orang dewasa”, melainkan sinyal awal bahwa risiko penyakit metabolik termasuk diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular mulai terbentuk sejak usia muda. Studi berjudul Determinants of Prediabetes in Adolescents: Evidence From Indonesia memberi gambaran penting tentang siapa yang berisiko dan indikator apa yang paling relevan untuk skrining dini pada populasi remaja di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan, dengan desain potong lintang (cross-sectional) pada remaja usia 15–24 tahun sesuai definisi dataset. Dari 1.862 remaja yang memenuhi kriteria inklusi, terdapat 511 remaja yang teridentifikasi mengalami prediabetes. Angka ini cukup besar untuk ukuran “fase pra-penyakit”, karena prediabetes sering kali tanpa gejala dan kerap luput dari perhatian. Namun, justru pada fase inilah intervensi pencegahan paling efektif: ketika perubahan gaya hidup dapat menurunkan risiko progresi menjadi diabetes secara bermakna.
Untuk memahami penentunya, peneliti menganalisis berbagai kelompok faktor: sosiodemografi, antropometri (misalnya indeks massa tubuh/BMI), perilaku, serta parameter klinis. Analisis utama menggunakan regresi logistik, metode yang lazim digunakan untuk menilai hubungan antara faktor risiko dan kejadian suatu kondisi (dalam hal ini, prediabetes).
Temuan kunci penelitian ini menyoroti dua hal yang sangat praktis untuk kebijakan dan layanan kesehatan remaja. Pertama, BMI normal bersifat protektif remaja dengan BMI normal memiliki risiko prediabetes yang lebih rendah. Artinya, menjaga berat badan sehat bukan hanya soal estetika atau kebugaran; ia merupakan mekanisme perlindungan biologis terhadap gangguan regulasi glukosa sejak dini. Kedua, dari parameter klinis, tekanan darah diastolik yang lebih tinggi secara konsisten berasosiasi dengan prediabetes. Ini menarik karena publik sering hanya fokus pada gula darah, padahal keterkaitan tekanan darah dengan disregulasi metabolik menunjukkan bahwa prediabetes adalah bagian dari spektrum risiko kardiometabolik yang saling terkait.
Sebaliknya, profil lipid dalam studi ini menunjukkan hubungan yang lebih terbatas dengan prediabetes. Temuan tersebut bukan berarti lipid “tidak penting”, melainkan bisa mengindikasikan bahwa pada remaja, perubahan lipid belum selalu muncul jelas pada fase prediabetes atau memerlukan penanda yang lebih sensitif. Di sinilah peneliti menggarisbawahi kebutuhan biomarker yang lebih maju dan pengembangan model risiko spesifik remaja karena risiko metabolik pada remaja tidak selalu identik dengan pola risiko pada orang dewasa.
Implikasinya jelas dan “langsung bisa dikerjakan” di lapangan. Program skrining kesehatan remaja sebaiknya tidak berhenti pada pengukuran gula darah semata. Skrining perlu memasukkan BMI dan monitoring tekanan darah sebagai komponen rutin, terutama pada layanan kesehatan sekolah, puskesmas remaja, dan pemeriksaan kesehatan berkala. Di tingkat pencegahan, diperlukan strategi multikomponen: edukasi gizi yang realistis, peningkatan aktivitas fisik terstruktur, pembatasan konsumsi gula dan pangan ultra-proses, serta pendekatan lingkungan (kantin sehat, ruang aktif, dan dukungan keluarga). Singkatnya: mencegah prediabetes remaja bukan hanya urusan “niat individu”, tetapi juga desain sistem yang memudahkan pilihan sehat.
Kalau prediabetes adalah “lampu kuning”, maka penelitian ini membantu kita memahami panel indikatornya: berat badan sehat dan tekanan darah terutama diastolik adalah dua sinyal yang tidak boleh diabaikan. Dan kabar baiknya, ini adalah sinyal yang bisa dimodifikasi sebelum terlambat.
Penulis:
Yourisna Pasambo; Ferry Efendi; Ika Yuni Widyawati; Rifky Octavia Pradipta; Fadhaa Aditya Kautsar Murti; Mei‐Chan Chong





