Universitas Airlangga Official Website

Relevansi Manajemen Risiko Saat Krisis: Pelajaran dari Pandemi Covid-19

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Artikel ini bertujuan mengeksplorasi kembali seberapa relevan praktik manajemen risiko ketika organisasi sedang berada dalam tekanan krisiskhususnya pada masa pandemi Covid-19. Fokusnya ada pada tiga pertanyaan utama: (1) apakah RM tetap diprioritaskan saat krisis finansial, (2) seberapa mampu RM mengidentifikasi risiko Covid-19 sejak dini untuk meminimalkan dampaknya, dan (3) apakah dibutuhkan standar khusus RM untuk situasi krisis/disruptive event. Studi menggunakan konteks Indonesia dan mengandalkan wawancara dengan lima praktisi/ahli RM untuk menggali pengalaman lapangan selama pandemi.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui in-depth interview yang dilakukan secara virtual (karena pembatasan sosial saat pandemi). Responden berjumlah lima orang: tiga pemegang sertifikasi profesional RM (CRP/CRA) dan dua praktisi yang terlibat langsung dalam fungsi RM di perusahaan (termasuk internal auditor yang menangani RM karena tidak ada komite khusus). Analisis data dilakukan dengan model Miles & Huberman (reduksi–display–kesimpulan) dan diperkuat dengan thematic analysis (kombinasi induktif dan deduktif) agar temuan lebih kaya dan tetap berlandaskan teori.

Hasil Utama

RM tetap dianggap relevan dan anggarannya cenderung dipertahankan (meski dialihkan). Alih-alih memotong anggaran RM, banyak perusahaan di Indonesia justru melakukan realokasi ke area risiko yang lebih mendesak pada masa pandemi. Misalnya risiko kesehatan & keselamatan kerja, keamanan data/kerahasiaan ketika memakai aplikasi komunikasi publik, serta risiko otorisasi dokumen saat proses menjadi serba jarak jauh. Ini menunjukkan manajemen melihat RM sebagai instrumen penting untuk business sustainability di situasi “zero mistake”. Namun, artikel juga mengakui tidak semua perusahaan mampu mempertahankan anggaran RM karena tekanan finansial.

Kemampuan identifikasi risiko Covid-19 sejak dini dinilai lemah, Covid-19 dipersepsikan sebagai “black swan” dalam konteks Indonesia. Mayoritas responden pesimistis bahwa praktik RM mampu memprediksi dampak Covid-19 sebelum kasus pertama muncul di Indonesia. Ada gap waktu dari munculnya Covid-19 di Wuhan sampai diumumkan di Indonesia, tetapi banyak perusahaan meremehkan potensi pandemi sebagai krisis ekonomi sistemik. Hambatan operasional seperti WFH/WFO terbatas juga melemahkan proses RM: verifikasi & otorisasi dokumen jadi masalah, observasi lapangan sulit dilakukan, rapat virtual kurang efektif, dan manajer sebagai risk owner berada di bawah tekanan target dan ketakutan PHK sehingga kualitas input risk profile menurun. Semua ini membuat kualitas RM turun terutama pada bulan-bulan awal pandemi.

Perusahaan dengan RM yang lebih matang cenderung lebih cepat beradaptasi dan lebih “survive”, meski Covid-19 sulit diprediksi. Walaupun identifikasi awal lemah, responden percaya kualitas RM pra-pandemi tetap memberikan keuntungan: organisasi dengan RM yang mapan memiliki risk culture yang lebih inklusif, manajer lebih terbiasa membaca konteks internal-eksternal, dan lebih cepat belajar menghadapi shock. Artikel menggambarkan hal ini lewat model learning curve, perusahaan dengan kualitas RM tinggi memiliki kurva adaptasi yang lebih curam dibanding yang kualitasnya rendah.

Kontribusi dan Implikasi

Secara kontribusi, artikel menambahkan bukti empiris berbasis pengalaman praktisi tentang bagaimana RM benar-benar dijalankan saat pandemi. RM tidak otomatis “dikorbankan” saat krisis, tetapi justru dialihkan ke risiko yang lebih relevan. Identifikasi risiko untuk kejadian disruptif besar sangat menantang, namun kualitas RM jangka panjang tetap menjadi fondasi adaptasi. Dari sisi rekomendasi praktis, artikel menekankan pentingnya dokumentasi RM selama krisis untuk membangun contingency plan jangka panjang (bahkan disarankan disimpan puluhan tahun karena krisis besar jarang terjadi) dan pentingnya komitmen top management sebagai kunci agar RM berjalan efektif.

Penulis: Fajar Kristanto Gautama Putra & Elshabyta Auditya Bintarto

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:  https://doi.org/10.1007/978-3-031-95310-1_204