Universitas Airlangga Official Website

Berserikat Setengah Hati: Karikatur Politik Anti Negara Indonesia Timur,1946-1950

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Terbentuknya negara federal sepanjang tahun 1946-1950 merupakan fenomena penting pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada satu sisi, munculnya banyak negara federal menjadi indikasi terjadinya euphoria bernegara, tetapi pada sisi lain merupakan refleksi dari banyaknya konflik yang terjadi di awal kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu negera federal yang terbentuk pada tahun 1946 adalah Negara Indonesia Timur (NIT) yang diarsiteki oleh Hubertus van Mook (Agung 1996). Berbeda dengan beberapa negara bagian di Indonesia seperti Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, atau Negara Madura yang baik secara geografis wilayahnya sangat kecil maupun orientasi politiknya yang homogen, NIT merupakan negara bagian yang besar dan para aparaturnya memiliki orientasi politik yang sangat beragam dan kompleks. Namun demikian, dari berbagai perdebatan, intrik, dan perselisihan dalam NIT, tampak bahwa arus utama orientasi politik yang beragam tersebut adalah terbentuknya sebuah negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Hal ini misalnya tercermin dalam sidang parlemen yang sebagian anggotanya menuntut diakuinya bendera merah putih sebagai bendera negara, dikumandangkannya lagu Indonesia Raya, dan lain-lain (Djawaban …).

Fakta bahwa terdapat kelompok yang ingin menjadikan negara bagian ini sebagai cita-cita dan tujuan akhir politik mereka tentu tidak bisa dinafikan. Akan tetapi, dalam perjalanannya kelompok ini harus mengakui tekad masyarakat Indonesia Timur, termasuk anggota parlemen untuk menjadikan negara kesatuan Republik Indonesia sebagai tujuan akhir politik mereka. Dengan beragam kepentingan tersebut, maka sepanjang masa berdirinya, dalam tubuh NIT tidak pernah sepi dari konflik kepentingan, baik dalam sidang parlemen maupun di luar parlemen (Republik …). Perdebatan dalam parlemen diwarnai oleh banyak mosi tidak percaya kepada kabinet yang sedang berkuasa yang mengakibatkan usia kabinet tidak bertahan lama (Luhukay, t.th.).  Sementara itu, konflik di luar parlemen terjadi dalam banyak bentuk seperti aksi demonstrasi, pemasangan pamflet, slogan, pemuatan karikatur dalam surat kabar, pemasangan poster di tempat-tempat umum dan lain-lain. Semua bentuk aksi tersebut adalah upaya untuk membubarkan Negara Indonesia Timur (NIT) dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Puncak dari protes dan tuntutan tersebut adalah dilaksanakannya Proklamasi Polombangkeng.

Ejekan atas Berdirinya NIT

Berdirinya Negara Indonesia Timur (NIT), selain melalui serangkaian proses yang panjang juga terdapat pro-kontra atara kelompok unitaris yang menghendaki negara kesatuan dan kelompok federalis yang menghendaki bentuk negara federal. Penentangan kelompok unitaris atau anti federal dilakukan tidak hanya melalui perdebatan di parlemen atau di tempat lainnya, tetapi juga melalui karikatur atau kartun. Berikut ini beberapa karikatur yang menggambarkan ketidaksetujuan atas berdirinya Negara Indonesia Timur (NIT).

A cartoon of a person standing on a pedestal

Description automatically generated                          “Negara Indonesia Timoer” dalam Majalah Revolusioner 1947  

Gambar di atas yang dimuat dalam Majalah Revolusioner 1947 berbunyi: V. Mook: “Lihat, patoeng jang kita pahat soedah siap. Alangkah bagoesnja”. Tampaknya, van Mook menyampaikan pernyataannya itu kepada van der Plas. Charles Olke van der Plas (1891-1977) merupakan pegawai sipil di Hindia Belanda dan bertugas sebagau Gubernur Jawa Timur hingga Jepang menaklukkan Belanda pada tahun 1942. Ia juga pernah bertugas sebagai ketua Komisi Hindia Belanda untuk Australia dan Selandia Baru yang memperjuangkan hengkangnya Jepang dari Hindia Belanda. Saat Perang Pasifik berakhir, van der Plas kembali ke Jawa pada Oktober 1945 dari pengasingannya di Australia sebagai Chief Civil Affairs Officer mendampingi tentara sekutu. Van der Plas adalah tangan kanan van Mook yang saat itu ditunjuk sebagai Wakil Gubernur-Jenderal Hindia Belanda. Dengan posisinya itu, maka tidak heran jika di setiap kesempatan, van der Plas selalu mendampingin van Mook.

Tidak ada keterangan bulan berapa karikatur itu diterbitkan, namun dapat diduga terbit pada awal tahun 1947 mengingat NIT berdiri pada 24 Desember 1946. Karikatur tersebut menggambarkan kesuksesan Van Mook sebagai arsitek berdirinya Negara Indonesia Timur (NIT).  Hal tersebut tampak dari kutipan di bawah gambar yang seolah-olah diucapkan oleh Van Mook. Selain kutipan “kata-kata Van Mook”, karikatur patung tersebut menggambarkan dua layer. Pertama, terdapat satu patung yang lebih tinggi dan kedua, satu patung lainnya di depan yang lebih pendek.  Patung pertama menggambarkan “kemenangan” kelompok federalis, sedangkan patung kedua menggambarkan kelompok unitaris atau republiken dengan menggunakan kopiah berjongkok yang seolah-olah tidak berdaya di hadapan kelompok feredarlis.  

page5image52870176        Sumber: Revolusioner 1947, Th II No. 3, hlm. 7.  

Gambar di atas menggambarkan keakraban dua pemimpin NIT, yakni Presiden Soekawati dan Perdana Menteri Nadjamoeddin Daeng Malewa dan di sampingnya adalah van Mook. Hal yang menarik dari karikatur ini adalah gambaran corak yang sebenarnya dari NIT. Hal tersebut tampak dari kalimat yang diucapkan oleh presiden Soekawati saat berpelukan dengan Perdana Menteri Nadjamoeddin Daeng Malewa. Kalimat tersebut berbunyi: Pidato Nadjamoeddin. Mynheer de President van Oest Indonesie … Long Live de Koningin. Long Live Dr. V. Mook…Horee!! [Hidup Ratu. Hidup Dr. V. Mook].

            Menurut pembuat karikatur, beginilah sebenarnya corak dari NIT, yakni tetap mengagung-agungkan ratu dan van Mook. Pada awal berdiriya NIT terdapat beberapa haluan yang kemudian menjelma menjadi fraksi. Mr. S. Binol menyebut polarisasi tersebut dengan sebutan haluan Noor dan haluan Soekawati, dan kadang juga dia menyebut dengan aliran pembawaan Noor dan aliran pembawaan Soekawati (Roendingan …). Dalam parlemen, kedua kelompok ini kemudian menggabungkan diri dalam dua fraksi, yakni Fraksi Pembangunan dan Fraksi Progresif yang beroposisi terhadap pemerintah yang kabinet pertamanya dipimpin oleh Perdana Menteri Nadjamuddin Daeng Malewa yang didukung oleh Fraksi Pembangunan.   Dari uaraian di atas menunjukkan bahwa karikatur merupakan sarana yang banyak digunakan oleh masyarakat anti NIT untuk melancarkan aksinya. Tokoh-tokoh elit di balik terbentuknya negera federal tersebut menjadi sasaran ejekan yang dituangkan dalam karikatur. Tokoh-tokoh tersebut seperti van Mook, van der Plas, Soekawati dan Nadjamoeddin Daeng Malewa. Van Mook merupakan arsitek utama terbentuknya NIT, sedangkan van der Plas merupakan tangan kanan van Mook yang mendampinginya dalam banyak kesempatan. Sementara itu Soekawati adalah presiden NIT dan Daeng Malewa adalah perdana menteri. Dengan posisi kunci tersebut, tidaklah mengherankan jika keempatnya menjadi sasaran ejekan dalam beberapa karikatur yang terbit dalam majalah atau surat kabar yang berhaluan nasionalis.

Referensi

“Djawaban pemerintah terhadap pemendangan oemoem dari anggota-anggota parlement. Pidato P.J.M. Nadjameoddin Dg. Malewa-Perdana Menteri”, Arsip NIT, Nomor Register 08, Dos 02.

Agung, Ide Anak Agung Gde. From The Formation of The State of East Indonesia Towards The Establsihment of The United States of Indonesia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996)

Luhukay, Hanock.“Dari Makassar ke Ujung Pandang. Beberapa Catatan Perubahan Ketatanegaraan, Tata Pemerintahan dan Kehidupan Sosial Sebuah Kota Besar”. Manuskrip tanpa tahun.

Moe’tamar Denpasar Mentjiptakan Negara Indonesia Timoer (Makassar: Djawatan Penerangan Pemerintah, t.th.).

Republik Indonesia Provinsi Sulawesi. Kementrian Penerangan,1953.

Roendingan Badan Perwakilan Sementara Negara Indonesia Timoer; Sidang Pertama 1947.