Kolestasis pada neonatus umumnya dihubungkan dengan gejala conjugated hyperbilirubinemia pada bayi baru lahir yang dapat menetap hingga beberapa bulan di awal kehidupan yang dapat menyebabkan gangguan fungsi liver. Sehingga, deteksi kolestasis dan evaluasi etiologi pada neonatus “berpacu” dengan waktu karena berkaitan erat dengan luaran pasien. Hingga saat ini, luaran kolestasis pada neonatus belum memberikan hasil yang baik.
Berdasarkan literatur, bayi dengan gejala kuning diatas 2 minggu memerlukan evaluasi bilirubin untuk mengidentifikasi kolestasis. Kondisi lain yang seringkali berkaitan dengan kolestasis adalah infeksi virus cytomegalovirus (CMV). Namun, rumitnya pemeriksaan CMV dan fasilitas yang terbatas tidak memungkinkan untuk dilakukan di semua fasilitas kesehatan. Kondisi kolestasis, baik dengan infeksi CMV atau tidak, menyebabkan penumpukan zat bilirubin yang dapat merusak fungsi liver apabila tidak dilakukan tindakan untuk mencegah. Pada presentasi kasus ini didapatkan bayi laki-laki usia 3 bulan dirujuk dengan kolestasis yang sudah disertai gejala gangguan aliran hepatobilier. Pasien dirujuk sudah dalam keadaan sesak yang diikuti pembesaran perut 2 minggu terakhir, BAB berwarna pucat dan kencing berwarna seperti teh. Awalnya, bayi sudah kuning sejak lahir yang semakin menyebar ke seluruh tubuh. Pemeriksaan fisik pasien terdapat pembesaran organ liver dan limpa (spleen). Pemeriksaan penunjang mengkonfirmasi bahwa pasien mengalami neonatal cholestasis, asites atau penumpukan cairan di perut, dan organomegaly. Pemeriksaan juga menunjukkan bahwa pasien terinfeksi CMV. Pada pasien ini, reaksi inflamasi terjadi pada hati yang disebabkan oleh infeksi CMV. Steroid diberikan untuk meredakan inflamasi pada liver dan kerusakan saluran empedu pada kolestasis. Setelah diberikan tatalaksana steroid, perbaikan yang memuaskan didapatkan pada klinis dan hasil laboratorium pasien. Kuning yang awalnya didapatkan pada mata dan badan menghilang serta perut yang membesar karena asites pun menghilang.
Kasus kolestasis pada neonatus ini menunjukkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan. Sumbatan aliran bilier telah bermanifestasi pada pasien berupa gejala-gejala seperti, kuning yang semakin luas, BAB berwarna pucat, kencing berwarna teh, dan perut yang semakin besar. Hal ini menunjukkan kerusakan fungsi hati terlihat jelas. Kolestasis dapat terjadi karena banyak penyebab lain dan infeksi CMV salah satunya. Neonatus dengan kolestasis memerlukan pemeriksaan menyeluruh dan skrining CMV untuk menentukan terapi selanjutnya. Pada laporan kasus ini, terapi steroid terpilih menjadi tatalaksana alternatif pada daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas. Bertujuan mencegah kerusakan hati yang progresif, steroid diberikan dan menunjukkan hasil yang memuaskan.
Penulis: dr. Rendi Aji Prihaningtyas, M.Ked.Klin, Sp.A
Informasi detail dari studi ini dapat dilihat pada tautan tulisan kami di bawah ini:
10.37897/RJP.2025.3.5
Setyoboedi, B., & Arief, S. (2025). Ascites and neonatal cholestasis: a successful steroid therapy. Romanian Journal of Pediatrics, 74(3), 202. https://doi.org/10.37897/rjp.2025.3.5





