Universitas Airlangga Official Website

Keberagaman Usia Dewan dan Kinerja Perusahaan: Variabel Moderasi dari Frekuensi Pertemuan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penelitian ini mengkaji hubungan antara keberagaman usia dewan dan kinerja perusahaan dengan frekuensi pertemuan manajemen puncak sebagai variabel moderasi. Studi dilakukan di Indonesia dengan sistem dewan dua tingkat yang memisahkan fungsi pengawas dan eksekutif. Latar belakang penelitian ini adalah perubahan demografis global yang menciptakan keberagaman generasi di tempat kerja, mencakup Baby Boomers hingga Generasi Z. Di Indonesia, isu keberagaman dewan telah menjadi perhatian regulasi sejak 2014 melalui rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan.

Keberagaman usia dalam dewan menciptakan dinamika yang kompleks. Perbedaan perspektif antar generasi berpotensi meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam pengambilan keputusan strategis. Namun keragaman ini juga berisiko menimbulkan konflik akibat perbedaan nilai dan gaya kerja. Penelitian sebelumnya menekankan perlunya memahami mekanisme yang dapat menjelaskan bagaimana keberagaman usia benar-benar mempengaruhi kinerja organisasi.

Kebaruan penelitian ini terletak pada pengujian frekuensi pertemuan sebagai variabel moderasi serta konteks Indonesia dengan sistem tata kelola yang khas. Frekuensi pertemuan rapat tidak hanya dipahami sebagai aktivitas rutin, tetapi sebagai indikator intensitas interaksi tata kelola di tingkat puncak yang memungkinkan koordinasi dan penyelarasan persepsi antar anggota dewan.

Penelitian menggunakan unbalanced data panel sebanyak 1.198 observasi dari perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2017 hingga 2021. Analisis dilakukan dengan regresi panel menggunakan dua ukuran kinerja perusahaan yaitu Return on Assets dan Return on Equity. Keberagaman usia diukur melalui standar deviasi usia anggota dewan dan diuji kembali dengan indeks Blau yang mengelompokkan anggota dewan ke dalam empat generasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberagaman usia dewan berasosiasi positif dengan kinerja perusahaan meskipun dalam tingkat yang modest. Frekuensi pertemuan justru menunjukkan asosiasi negatif dengan Return on Equity, mengindikasikan bahwa pertemuan yang terlalu intens dapat menimbulkan biaya koordinasi yang tidak efisien. Interaksi antara keberagaman usia dan frekuensi pertemuan berasosiasi positif dengan Return on Assets, yang berarti pertemuan yang lebih sering dapat membantu perusahaan memanfaatkan perspektif beragam untuk meningkatkan efisiensi operasional. Namun efek moderasi ini bersifat marginal dan tidak konsisten pada pengujian dengan ukuran keberagaman alternatif.

Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan menunjukkan bahwa implikasi kinerja dari keberagaman dewan tidak hanya bergantung pada komposisi, tetapi juga pada proses tata kelola yang memfasilitasi interaksi antar pengambil keputusan. Secara praktis, perusahaan perlu memastikan frekuensi pertemuan yang memadai untuk mendukung deliberasi dan integrasi perspektif yang beragam. Regulator dapat mempertimbangkan temuan ini dalam menyusun panduan tata kelola terkait aktivitas dewan.

Dari perspektif SDGs, penelitian ini berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui peningkatan kinerja perusahaan. Studi ini juga mendukung pengurangan ketimpangan dengan mempromosikan inklusivitas antargenerasi dalam kepemimpinan perusahaan. Selain itu, penelitian ini memperkuat kelembagaan yang tangguh melalui tata kelola perusahaan yang efektif dan membuka jalan bagi studi keberagaman yang lebih luas termasuk aspek gender.

Penulis: Prof. Dr. Dian Agustia, S.E., M.Si., Ak., CMA., CA., ASEAN CPA

Details of the research can be viewed here: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/age-diversity-and-firm-performance-moderation-effect-of-top-manag/